Archive for the 'Islamic Thought' Category

Islam Perdana

Dalam ranah kajian Islam kontemporer, penguasaan terhadap semua hal tentang Islam Perdana, baik sejarah, politik, ekonomi maupun agama (normatif) sangatlah penting dan mendesak. Penting karena Islam Perdana, baik secara normatif ataupun historis, merupakan acuan utama untuk memahami dengan baik Islam yang kini sudah menjelma dalam aneka-ragam bentuk dan orientasi. Mendesak karena hampir semua kelompok Islam, dengan variasi corak dan orientasinya, mengkleim bahwa pemahaman keislaman mereka merupakan cerminan bahkan copy-paste dari Islam ala Muhammad dan para suksesor setelahnya.

Lantas apakah yang dimaksud dengan Islam Perdana? Sependek pengamatan penulis, istilah Islam Perdana mencakup tiga hal: pertama, Islam Perdana dimulai sejak Muhammad menerima wahyu hingga kewafatannya (610-632 M); kedua, Islam Perdana dimulai sejak Muhammad menerima wahyu hingga akhir kekhilafahan Ali bin Abi Thalib (632-661 M); dan ketiga, Islam Perdana dimulai sejak Muhammad menerima wahyu hingga runtuhnya dinasti Umayyah (610-750 M). Dari tiga opsi tersebut, penulis cenderung pada opsi pertama, karena pada masa inilah Islam secara langsung berada di tangan pembawanya, Muhammad, serta di bawah pengawasan penciptanya, Allah.

Melacak Islam Perdana bukan perkara mudah, selain karena sangat jauhnya bentangan masa antara masa kini dan masa Muhammad, kesulitan utama yang dihadapi para peneliti biasanya juga terletak pada problem sejarah Islam. Setidaknya, problem ini disebabkan oleh dua hal: pertama, sangat minimnya bukti sejarah tertulis dari masa-masa awal Islam yang sampai ke tangan kita; dan kedua, kesalahan penulis sejarah. Continue reading ‘Islam Perdana’

Teologi Dialog Antaragama

Pluralitas dalam segala hal adalah sunnatullah yang tidak akan punah hingga akhir masa. Begitu juga kenyataan perbedaan agama, ia merupakan hak asasi manusia yang paling fundamental sehingga tak boleh diusik apalagi dilangkahi. Karena, hanya dengan menghormati segenap perbedaan, kedamaian sebagai cita-cita mereka bersama bisa terwujud. Tapi permasalahannya adalah, benarkah mereka bisa menghormati kebebasan beragama dalam arti sebenarnya, atau selama ini sikap tersebut hanya sebatas pada tataran teoritis saja? Pertanyaan ini kiranya cukup menggugah sikap keberagamaan kita selama ini, dan tentunya menuntut adanya realisasi aktif dari masing-masing kalangan.

Bertolak dari sudut pandang Islam, kita bisa sedikit menoleh kembali kebelakang yaitu ke catatan sejarah awal Islam pada zaman Nabi Muhammad Saw., karena bagaimana pun juga dari sanalah kita bisa menemukan contoh-contoh elementer pola interaksi beliau dengan pemeluk agama lain. Setidaknya, hal ini bisa kita lacak langsung dalam Alqur`an, Sunnah ataupun dalam beberapa manuskrip tentang periode-periode awal Islam yang nantinya bisa dijadikan sebagai pijakan dasar metode standar interaksi antaragama yang sreg dengan konteks kekinian.

Karena sebenarnya kalau mau jujur diakui, gaung dialog antaragama yang berderu kencang di Barat akhir-akhir ini ternyata akar sejarahnya hanya terdapat dalam Islam an sich, mungkin di sinilah letak sisi toleransi –dalam pengertian sebenarnya– Islam bisa digali dan dikembangkan. Adapun dalam tradisi Barat, terutama dalam kitab suci mereka, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, tak sepeserpun konsep dialog antaragama termaktub di dalamnya. Continue reading ‘Teologi Dialog Antaragama’

Neo-Dzahiriyah

Akhir-akhir ini kita sering mendengar, membaca, dan berdiskusi tentang Neo-Khawarij, yaitu sebuah sekte Islam yang merupakan wajah baru dari Khawarij yang muncul pada masa-masa awal Islam. Menurut Musthafa as-Syak’ah di dalam bukunya “Islâm bilâ Madzâhib”, sekte ini pertama kali dipimpin oleh Abdullah bin Wahb ar-Rasibi dan pertama kali dikenal dengan nama “al-Muhakkimah al-Ula”.

Sekte ini sering diidentikkan dengan pengkafiran terhadap pihak yang berbeda pendapat dengan mereka. Sebagaimana Khawarij identik dengan penghalalan darah pihak yang berbeda pendapat dari kalangan umat Islam sendiri, Neo-Khawarij yang ada sekarang juga diidentikkan dengan pembolehan menggunakan kekerasan atas nama agama terhadap pihak yang berbeda pandangan dan pengamalan atas sejumlah doktrin Islam.

Yang tak kalah pentingnya dari sekte ini adalah apa yang kita sebut dengan Neo-Dzahiriyah (ad-dzahiriyah al-judud) yang mempunyai kesamaan dengan Khawarij dalam beberapa hal. Madzhab ini merupakan wajah baru dari madzhab Dzahiriyah yang digagas oleh Dawud bin Ali al-Asfihani (202-270 H) yang selain dikenal hanya cukup memahami dan menafsirkan teks-teks partikular agama berdasarkan dzahirnya saja, mereka juga diidentikkan dengan pola pikir yang saklek.

Lebih dari itu, mereka mengingkari adanya hikmah dan tujuan (maqashid) di balik teks; menolak istihsan, sadz ad-Dzara`i’, al-Mashalih al-Mursalah; mereka juga menolak keabsahan pengunaan qiyas yang benar dalam menentukan suatu hukum karena ia akan membuka ruang ijtihad (Rasyad Hasan Khalil, Târîkh at-Tasyrî’ al-Islâmî: Adwâr Tathawwurihi, Mashâdiruhu, Madzâhibuhu al-Fiqhiyah, 2002). Intinya, mereka mendewakan makna literal teks dan menolak semua metode penalaran manusia terhadapnya berikut hasilnya. Continue reading ‘Neo-Dzahiriyah’

Islam Perdana

Islam PerdanaAbstraksi Artikel ini menyorot seputar pergumulan Islam dengan nilai-nilai non-Islam yang ada ketika Muhammad hidup. Nilai-nilai di sini bisa berupa tradisi, keyakinan keagamaan dan sistem pemerintahan, baik berupa tradisi Arab dengan paganismenya, Kristen, Yahudi, kebudayaan serta peradaban lain yang ada di Jazirah Arabia dan sekitarnya yang turut serta bergumul dengan nilai-nilai Islam dan umat Islam. Yang nantinya bisa dijadikan kunci utama memahami Islam dengan sempurna dari segi interaksinya dengan nilai-nilai non-Islam melalui pendekatan sosiologis-historis Jazirah Arabia periode kerasulan Muhammad.

 

Prolog

 

“Tidak ada perdamaian dunia, jika tidak ada perdamaian agama,” begitulah seloroh Hans Kung, seorang teolog Kristen kenamaan Jerman.1 Benarkah demikian? Mari kita renungkan sejenak, sehingga bisa menilai statemennya secara tepat. Kalau kita lihat bentangan sejarah agama-agama sejak ribuan tahun yang lalu, agaknya statemen Kung bisa dibenarkan. Ini terbukti dari chaos yang acapkali terjadi di tengah-tengah para pemeluk agama yang turut memberikan corak tersendiri bagi kehidupan manusia, bahkan turut mempengaruhi kebijakan politik para elit kekuasaan. Raja Namrudz ,misalnya, membakar Ibrahim hidup-hidup karena keyakinannya diobrak-abrik. Ramses II menguber Musa dan Harun karena kasus serupa. Itu masih pada kasus individu dengan penguasa. Sedangkan dalam kasus penguasa versus penguasa, kita bisa memberikan bukti lamanya pertentangan antara imperium Bizantium dengan kekaisaran Persia dengan dalih agama dan kekuasaan sebelum dan ketika Muhammad hidup.

Continue reading ‘Islam Perdana’

Agama dan Pemikiran Keagamaan

Jelas bukan suatu keharusan penafsiran tertentu, sekali diterima harus selalu diterima; akan selalu ada ruang dan keharusan untuk penafsiran-penafsiran baru dan ini sebenarnya proses yang terus berlanjut.” (Prof. Fazlur Rahman)

Prolog

Dalam Pandangan Thomas Hobbes (1588-1679), manusia adalah serigala bagi manusia lain (homo homini lupus). Pandangan tokoh filsafat analitis tersebut seakan-akan menvonis seluruh manusia sebagai rival bagi lainnya, sehingga permusuhan, persengketaan, pertumpahan darah dan lain-lain di antara mereka merupakan sebuah keniscayaan, seraya mengeliminasi kecenderungan untuk bekerjasama sebagai perangai natural mereka.

Continue reading ‘Agama dan Pemikiran Keagamaan’

Tradisi dan Tajdid

Tidak ada satupun agama yang tidak berangkat dari sebuah respons sosial. Semua bertolak dan bergumul dari,untuk, dan dengannya. Ketika agama –yang merupakan titah suci Tuhan– berdialektika dengan realitas sosial, berarti ia masuk pada kubangan sejarah, ia menyejarah. Sejarah –ruang dan waktu— adalah penguji kebenaran serta kekokohan eksistensi agama. Sebagai penguji, sejarah tentunya memiliki seperangkat bahan ujian: pertama, unsur-unsur budaya setempat, kedua, fenomena dan budaya baru yang dihadapi, dan ketiga, rasionalitas dan relevansi doktrinnya.

Dalam sejarahnya, agama tidak luput dari unsur-unsur budaya lokal di mana ia turun. Agama —dalam hal ini Islam—, hadir pada saat tradisi paganisme merajalela, sebuah tradisi turun-temurun yang lahir dari penyelewengan ajaran Ibrahim as. Maka, tidak heran jika Nabi Muhammad saw. hanya sekedar membenahi ajaran pendahulunya dan membubuhinya dengan syariat yang klop dengan umat yang dihadapi dan masa-masa yang akan datang, beliau tidaklah membawa agama baru. Purifikasi agama yang dilakoni beliau tidak lain hanya menegaskan kembali esensi ajaran Ibrahim as.

Continue reading ‘Tradisi dan Tajdid’


Recent Comments

Blog Stats

  • 6,459 hits