<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>M. Subhan Zamzami</title>
	<atom:link href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://msubhanzamzami.wordpress.com</link>
	<description>Berpikir tanpa Batas dan Mencari tiada Henti</description>
	<lastBuildDate>Thu, 15 Oct 2009 12:12:58 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='msubhanzamzami.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/df98a1f495b46ae014646f631c36b11b?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>M. Subhan Zamzami</title>
		<link>http://msubhanzamzami.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Islam Perdana</title>
		<link>http://msubhanzamzami.wordpress.com/2009/07/24/islam-perdana/</link>
		<comments>http://msubhanzamzami.wordpress.com/2009/07/24/islam-perdana/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Jul 2009 23:13:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>msubhanzamzami</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islamic Thought]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msubhanzamzami.wordpress.com/2009/07/24/islam-perdana/</guid>
		<description><![CDATA[Dalam ranah kajian Islam kontemporer, penguasaan terhadap semua hal tentang Islam Perdana, baik sejarah, politik, ekonomi maupun agama (normatif) sangatlah penting dan mendesak. Penting karena Islam Perdana, baik secara normatif ataupun historis, merupakan acuan utama untuk memahami dengan baik Islam yang kini sudah menjelma dalam aneka-ragam bentuk dan orientasi. Mendesak karena hampir semua kelompok Islam, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msubhanzamzami.wordpress.com&blog=3491531&post=216&subd=msubhanzamzami&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Dalam ranah kajian Islam kontemporer, penguasaan terhadap semua hal tentang Islam Perdana, baik sejarah, politik, ekonomi maupun agama (normatif) sangatlah penting dan mendesak. Penting karena Islam Perdana, baik secara normatif ataupun historis, merupakan acuan utama untuk memahami dengan baik Islam yang kini sudah menjelma dalam aneka-ragam bentuk dan orientasi. Mendesak karena hampir semua kelompok Islam, dengan variasi corak dan orientasinya, mengkleim bahwa pemahaman keislaman mereka merupakan cerminan bahkan copy-paste dari Islam ala Muhammad dan para suksesor setelahnya.</p>
<p>Lantas apakah yang dimaksud dengan Islam Perdana? Sependek pengamatan penulis, istilah Islam Perdana mencakup tiga hal: pertama, Islam Perdana dimulai sejak Muhammad menerima wahyu hingga kewafatannya (610-632 M); kedua, Islam Perdana dimulai sejak Muhammad menerima wahyu hingga akhir kekhilafahan Ali bin Abi Thalib (632-661 M); dan ketiga, Islam Perdana dimulai sejak Muhammad menerima wahyu hingga runtuhnya dinasti Umayyah (610-750 M). Dari tiga opsi tersebut, penulis cenderung pada opsi pertama, karena pada masa inilah Islam secara langsung berada di tangan pembawanya, Muhammad, serta di bawah pengawasan penciptanya, Allah.</p>
<p>Melacak Islam Perdana bukan perkara mudah, selain karena sangat jauhnya bentangan masa antara masa kini dan masa Muhammad, kesulitan utama yang dihadapi para peneliti biasanya juga terletak pada problem sejarah Islam. Setidaknya, problem ini disebabkan oleh dua hal: pertama, sangat minimnya bukti sejarah tertulis dari masa-masa awal Islam yang sampai ke tangan kita; dan kedua, kesalahan penulis sejarah.<span id="more-216"></span></p>
<p>Problem pertama, misalnya, bukti sejarah tertulis tersebut hanya al-Qur`an dan beberapa catatan hadits Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Amr bin al-Ash. Kita tak memungkiri adanya beberapa penulis awal sejarah Nabi seperti Urwah bin al-Zubair bin al-Awwam, Aban bin Utsman bin Affan, Musa bin Uqbah, dan Muhammad bin Ishak, tapi tak ada satu pun dari catatan mereka yang sampai ke tangan kita (Muhdi, 2007: 147). Catatan sejarah Nabi paling awal yang sampai ke tangan kita adalah catatan sejarah Ibnu Hisyam yang dia ringkas dari al-Sîrah wa al-Maghâzî karya Ibnu Ishak. Sayangnya, Ibnu Hisyam tak pernah berguru pada Ibnu Ishak dan tak mengambil catatan sejarah ini secara oral darinya, tapi hanya melalui para perantara.</p>
<p>Problem kedua, kesalahan penulis sejarah bisa disebabkan oleh ketidakjelian dalam menganalisa data-data yang ada, atau bahkan sengaja salah dalam menulis sejarah Islam seiring dengan kecenderungannya. Penggambaran zaman Jahiliah sebagai zaman nomadenisme yang kacau serta merosotnya akhlak dan sosial untuk menunjukkan keagungan dan peran Islam adalah bukti terbaik untuk poin kedua (al-Dauri, 2007: 20). Oleh karena itu, kita dituntut ekstra dalam membanding-bandingkan catatan-catatan sejarah yang ada untuk memperoleh informasi yang akurat seputar Islam Perdana.</p>
<p>Dari al-Qur`an, rujukan paling otoritatif yang kita miliki (itu pun kalau kita sepakat tentang hal ini), kita bisa menyimpulkan bahwa secara umum Islam Perdana mempunyai beberapa karakteristik. Karakter pertama adalah progresif. Ia senantiasa berproses dari “ketidaksempurnaan” menuju pada kesempurnaan. Dengan kata lain, Islam tak turun secara langsung dari langit dengan seabrek norma yang kita lihat sekarang, tapi ia berangsur-angsur melengkapi dirinya secara perlahan seiring tuntutan situasi dan kondisi pada saat itu. Islam Perdana adalah proses Islam Normatif dan Islam Historis sekaligus. Turunnya al-Qur`an selama 22 tahun lebih dan adanya konsep abrogasi ayat (nasikh-mansukh) adalah bukti paling gamblangnya.</p>
<p>Karakter kedua adalah otonom. Kita bisa melihatnya terutama dalam segi akidah pada fase Islam Mekah. Islam tak segan-segan mencela tuhan atau berhala sembahan Quraisy serta menyeru pada keesaan Tuhan. Di sinilah kita bisa mengerti alasan di balik turunnya ayat-ayat Makkiyah. Dalam Islam, tak ada tawar-menawar dalam persoalan akidah. Oleh karena itu, tanpa ragu-ragu kita menolak cerita al-Gharânîq, yang tersebar dalam buku-buku sejarah Islam seperti al-Thabaqât al-Kubrâ karya Ibnu Sa’ad dan al-Bidâyah wa al-Nihâyah karya Ibnu Katsir, yang dinisbatkan pada Nabi bahwa beliau mengagungkan Lata, Uzza, dan Manath guna menarik kecintaan Quraisy karena bertentangan dengan prinsip dasar Islam (Haekal, 1996: xciv).</p>
<p>Karakter ketiga adalah revolusioner. Islam muncul di Mekah. Kala itu ia merupakan ibu kota Jazirah Arabia (al-Shamad, 1994: 30). Islam muncul dengan semangat perkotaan dan mengambil posisi oposan terhadap trend nomadisme dalam banyak persoalaan-persoalan prinsipil, seperti melawan fanatisme kesukuan dan menggantinya dengan ikatan kepercayaan serta melampaui batasan-batasan kesukuan dengan pembentukan konsep umat yang maslahatnya di atas maslahat lainnya (al-Dauri, 2007: 44-46). Islam pun menggugurkan tradisi-tradisi Arab seperti mengubur anak perempuan hidup-hidup (QS. 81: 8-9), praktek riba (QS. 2: 275-276), dan lain-lain. Selain itu, Islam juga mengangkat derajat wanita yang salah satunya melalui pengurangan jatah poligami (QS. 4: 3).</p>
<p>Karakter keempat adalah adaptif-akomodatif. Dalam artian, selain membawa ajaran baru, Islam juga mengadapsi bahkan mengadopsi tradisi-tradisi Arab. Fakta ini bisa kita temukan baik di bidang ibadah maupun muamalah. Di bidang ibadah, misalnya, ritual haji dan umrah merupakan tradisi Arab yang ada sebelum Islam datang. Kemudian Islam mengadapsinya dengan mengadopsi sebagian ritualnya apa adanya, seperti wukuf di Arafah dan melempar tiga jumrah serta mengadapsi sebagian yang lain, seperti tawaf dan talbiyah. Sementara itu, di bidang muamalah, Islam melarang seorang laki-laki menikahi dua perempuan bersaudara, nikah mut’ah, nikah badal, nikah shighar, dan nikah istibdha’ serta tetap mewajibkan mahar (Muthawik, 2006: 71-74). Bahkan Khalil Abdul Karim, intelektual Marxis-Muslim Mesir, mengarang buku khusus seputar persoalan ini yang berjudul “al-Judzûr al-Târikhiyah lî al-Syarî’ah al-Islâmiyah”.</p>
<p>Karakter kelima adalah otoritatif-otentik. Dalam artian, Islam ada di tangan pembawanya, Muhammad, dan di bawah pengawasan langsung penciptanya, Allah. Poin ini merupakan keistimewaan yang tak dimiliki oleh masa-masa Islam paska Muhammad wafat. Karena keistimewaan inilah, aneka ragam bentuk Islam yang ada mengkleim dirinya sebagai cerminan bahkan copy-paste darinya, padahal belum tentu demikian untuk tidak dikatakan tak mirip sama sekali. Poin inilah yang sering dilupakan umat Islam sejak Muhammad wafat hingga detik ini, terutama pihak yang merasa dirinya paling Islam sendiri dan menganggap umat Islam lainnya pasti salah. Intinya, Islam Perdana tak akan pernah terulang kembali. []</p>
<p>* Edisi revisi tulisan ini dimuat di situs JIL tanggal 12 Oktober 2009. Silakan kunjungi: http://islamlib.com/id/artikel/karakteristik-islam-perdana/</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msubhanzamzami.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msubhanzamzami.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msubhanzamzami.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msubhanzamzami.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msubhanzamzami.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msubhanzamzami.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msubhanzamzami.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msubhanzamzami.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msubhanzamzami.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msubhanzamzami.wordpress.com/216/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msubhanzamzami.wordpress.com&blog=3491531&post=216&subd=msubhanzamzami&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msubhanzamzami.wordpress.com/2009/07/24/islam-perdana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e142ce265eb495fa16e7c3f6d1ab5ced?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">msubhanzamzami</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Politi(k)sasi Islam di Indonesia</title>
		<link>http://msubhanzamzami.wordpress.com/2009/03/11/politiksasi-islam-di-indonesia/</link>
		<comments>http://msubhanzamzami.wordpress.com/2009/03/11/politiksasi-islam-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Mar 2009 16:17:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>msubhanzamzami</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msubhanzamzami.wordpress.com/?p=205</guid>
		<description><![CDATA[ Pada pemilu pertama tahun 1955, dengan meraup 20, 29 % suara, Masyumi menjadi partai Islam terkuat melebihi perolehan suara partai-partai Islam lainnya seperti  NU, Perti, PSII, dan beberapa partai kecil lainnya dari 172 partai peserta pemilu yang ada. Tapi tak lama setelah itu pada tahun 1960, setelah Presiden Sukarno mengeluarkan Pnps No 7 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msubhanzamzami.wordpress.com&blog=3491531&post=205&subd=msubhanzamzami&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE                           &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--><!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Candara; 	panose-1:2 14 5 2 3 3 3 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750091 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} --> <!--[endif]--><span style="font-family:&quot;"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-210" title="62691small1" src="http://msubhanzamzami.files.wordpress.com/2009/03/62691small1.jpg?w=96&#038;h=96" alt="62691small1" width="96" height="96" />Pada pemilu pertama tahun 1955, dengan meraup 20, 29 % suara, Masyumi menjadi partai Islam terkuat melebihi perolehan suara partai-partai Islam lainnya seperti <span> </span>NU, Perti, PSII, dan beberapa partai kecil lainnya dari 172 partai peserta pemilu yang ada. Tapi tak lama setelah itu pada tahun 1960, setelah Presiden Sukarno mengeluarkan Pnps No 7 tahun 1959, Masyumi bubar. Pembubaran Masyumi ini merupakan pukulan telak bagi kekuatan politik Islam di Indonesia kala itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Pada pemilu 1971, pemilu pertama setelah orde baru, meski NU dan Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) berhasil menempati posisi lima besar, tapi perolehan suara partai-partai Islam menurun drastis dibanding pemilu 1955. Kejadian, yang salah satunya disebabkan oleh terkonsilidasinya otoritarianisme di bawah kepemimpinan Presiden Sukarno, seperti ini terus berlanjut pada pemilu-pemilu pada masa orde baru selanjutnya yang kian melumpuhkan kekuatan politik Islam di tanah air. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Setelah runtuhnya rezim orde baru, tepatnya pada pemilu 1999, partai-partai berbasis Islam bisa meraih simpati masyarakat kembali dengan perolehan 37, 54 % suara. Keaadan seperti ini terulang kembali pada pemilu 2004 dengan kian melonjaknya perolehan suara tujuh partai Islam, yaitu perolehan 38, 33 % suara dari. Tapi bila dibanding pemilu 1955, perolehan suara partai-partai Islam pada pemilu 1999 dan 2004 menurun. Dengan kata lain, telah terjadi perubahan kekuatan partai-partai nasionalis dan Islam dalam pergolakan perpolitikan Indonesia .</span></p>
<p><span id="more-205"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Persamaan antara pemilu 1955, 1999, dan 2004 yang mana perolehan suara partai-partai Islam cukup siginfikan adalah selalu diiringi oleh ketidakstabilan negara pada masing-masing pemilu. Pada pemilu 1955, misalnya, keamanan negara kurang kondusif karena DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) khususnya yang berada di bawah pimpinan Kartosuwiryo menebarkan kekacauan di beberapa daerah di tanah air. <span> </span>Sementara itu, pada pemilu 1999 Indonesia tengah mengalami proses reformasi di berbagai lini kehidupan yang tak menentu dan sebagian efeknya terus berlanjut hingga pemilu 2004.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:&quot;">Corak Partai Islam Indonesia</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Partai-partai Islam di Indonesia tidaklah sama, baik dari segi asas maupun agenda. Dua hal ini, asas dan agenda, sangat menentukan tipologi massa masing-masing partai. Kesamaan di antara partai-partai itu hanya satu, yaitu sama-sama mempunyai kepentingan politis yang sangat berpotensi memecah-belah umat Islam. Dari segi asas, misalnya, di antaranya berasas “murni” Islam dan Islam “semi nasionalis”. Perbedaan semacam ini<span> </span>bisa kita lihat dari masing-masing agenda politis yang mereka perjuangkan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">PPP, PBB, dan PKS bisa dikategorikan pada asas pertama yang getol memperjuangkan corak Islam simbolis seperti penerapan syariah Islam, bahkan salah satu partai dari tiga tersebut sering disinyalir mempunyai agenda terselubung mengganti ideologi Pancasila sebagai dasar negara sebagaimana sebelumnya tokoh-tokoh Masyumi dulu dicurigai terlibat dalam gerakan pemberontakan dari dalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Sementara itu, PKB, PAN, PMB, PKNU, dan PBR bisa dikategorikan pada asas kedua karena selain tak terobsesi pada corak Islam simbolik dan lebih menekankan corak Islam substantif, keduanya juga menegaskan bahwa ideologi Pancasila adalah dasar negara dan NKRI adalah bentuk final bagi negeri ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Meski di antara dua kategori partai Islam di atas sama-sama berpeluang mempolitisasi Islam, tapi partai-partai pada kategori kedua terasa lebih memproteksi dan meneguhkan eksistensi Pancasila daripada partai-partai pada kategori pertama. Poin yang harus digarisbawahi di sini adalah meski mengklaim sebagai partai Islam, tapi pada kenyataannya umat Islam tak menunggal pada satu suara, tak berpangku pada satu sikap, malah karena partai-partai itu mereka lebih dekat dengan perselisihan dan semakin menjauh dari kesatuan. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:&quot;">Islam dan Politik</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Islam memang tak bisa sepenuhnya dipisahkan dari politik. Bukti sederhananya yaitu kalau kita cermati secara seksama, niscaya kita akan mendapatkan literatur-literatur sejarah Islam terlalu banyak yang lebih menitikberatkan pada perseteruan-perseteruan politis antara umat Islam dan non-muslim ketika Nabi masih hidup dan perseteruan sesama umat Islam satu sama lain serta non-muslim paska wafatnya beliau hingga dewasa ini. Kita ungkap sedikit tentang itu di bawah ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Klan-klan politik umat Islam erat kaitannya dengan tata nilai, adat-istiadat, dan corak kehidupan masyarakat Arab Jahiliah. Sistem kabilah merupakan satu kesatuan politis yang dibangun oleh masyarakat Arab pra-Islam yang kemudian disatukan oleh Nabi di bawah panji agama agar menjadi masyarakat Arab yang bersatu, baik secara etnis, agama, bahasa, dan sosial serta tunduk pada seorang pemimpin, yaitu Nabi sendiri. Setelah beliau wafat, muncul tiga klan politik baru yaitu Anshar, Muhajirin, dan Bani Hasyim hingga terbunuhnya Utsman bin Affan dan perang antar para sahabat yang lebih disebabkan oleh motif politik. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Perkembangan klan-klan politik tersebut mempunyai dua efek sekaligus: positif dan negatif. Positif karena berdasarkan persaingan antara mereka yang mana masing-masing pembela suatu klan bisa mengoptimalkan kemampuan otak dan mengarang karya-karya kebudayaan, agama, dan filsafat untuk meneguhkan bermacam-macam aliran mereka yang merupakan warisan kebudayaan dan pemikiran yang tak akan musnah bagi kita dan generasi-generasi mendatang. Negatif karena bisa melemahkan kekuatan dengan tercerai-berai menjadi beberapa aliran <em>plus</em> kerugian-kerugian material, kemanusiaan, dan moral sebagai akibat dari perbedaan nafsu dan pendapat. (Fatimah Jum’ah, <em>al-Ittijâhât al-<span style="text-decoration:underline;">H</span>izbiyah fî al-Islâm: Mundzu ‘Ahd al-Rasûl ila ‘Ashr Banî Umayah</em>, t.t.)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:&quot;">Kritik Politi (k) sasi Islam</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Bila kita lihat perkembangan partai-partai Islam di Indonesia akhir-akhir ini, efek-efek negatif di atas bukan basa-basi belaka apalagi pemilu 2009 kian dekat. Efek negatif semacam ini akan semakin bertambah bila para politisi semakin sering menggunakan isu-isu agama demi kepentingan politis sesaat. Politisasi Islam memang amunisi ampuh guna meraup sebanyak-banyaknya perolehan suara, tapi pada kesempatan yang sama selain sebagai ajang pembodohan masyarakat ia juga salah satu faktor utama perpecahan umat Islam. Maka tak aneh bila kini partai-partai nasionalis ikut-ikutan meniru gaya partai-partai Islam dalam menggunakan isu-isu agama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Kondisi semacam ini baru masuk pada tahap awal politisasi Islam. Tahap selanjutnya adalah peneguhan opini-opini partai yang diiringi dengan klaim doktrin agama yang biasanya diupayakan bisa menjadi sebuah UU yang memiliki kekuatan hukum. Berbeda dengan kalangan awam pada umumnya yang mana cara-cara semacam ini cepat mendapatkan tempat pada pikiran mereka, kalangan terpelajar yang cenderung kritis menanggapi persoalan semacam ini karena mereka sadar akan konsekuensi yang ditimbulkannya; bila opini-opini partai sudah mendapatkan legitimasi hukum, maka sangat sulit mencabutnya kembali bahkan anti kritik. <span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Pada tahap selanjutnya, legitimasi opini-opini tersebut merupakan awal dari diktatorianisme atas nama agama yang mula-mula ditandai dengan kekangan perbedaan pendapat. Di sinilah persoalan kebenaran harus bersinggungan dengan kekuasaan. Sesuatu menjadi benar, yang sebenarnya belum tentu benar bahkan bukan kebenaran yang sebenarnya, karena ia didukung oleh kekuasaan. Biasanya, pada kondisi ini, kalangan oposisi seringkali berada pada pihak yang dirugikan, bahkan bisa dianggap sebagai musuh negara yang gerak-geriknya mesti dikekang sedemikian rupa. Realita seperti ini seringkali terjadi pada masa-masa silam, bahkan terung berlangsung hingga sekarang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Pada akhirnya, “niat baik” politisasi Islam harus terjerembab pada corak Islam simbolik-formalistik. Agama acapkali dijadikan alat pengesah ambisi dan kepentingan kelompok Islam tertentu seraya menafikan kelompok lain. Intinya, bila kecenderungan politisasi Islam tak segera direduksi, maka malapetaka kian dekat. Kiranya diktum Cak Nur pada tahun 1972, “Islam Yes, partai Islam No” masih sangat relevan untuk konteks perpolitikan di tanah air saat ini. Dengan demikian, harus ada jarak yang tegas serta terang benderang antara Islam dan kekuasaan. Karena bila tidak maka, salah satunya, tak menutup kemungkinan beraneka ragam kebudayaan Indonesia akan bernasib serupa dengan seni tari jaipongan dan badjidoran di Jawa Barat belum lama ini. [] </span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msubhanzamzami.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msubhanzamzami.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msubhanzamzami.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msubhanzamzami.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msubhanzamzami.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msubhanzamzami.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msubhanzamzami.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msubhanzamzami.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msubhanzamzami.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msubhanzamzami.wordpress.com/205/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msubhanzamzami.wordpress.com&blog=3491531&post=205&subd=msubhanzamzami&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msubhanzamzami.wordpress.com/2009/03/11/politiksasi-islam-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e142ce265eb495fa16e7c3f6d1ab5ced?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">msubhanzamzami</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://msubhanzamzami.files.wordpress.com/2009/03/62691small1.jpg?w=96" medium="image">
			<media:title type="html">62691small1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Masa</title>
		<link>http://msubhanzamzami.wordpress.com/2009/02/14/masa/</link>
		<comments>http://msubhanzamzami.wordpress.com/2009/02/14/masa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Feb 2009 15:16:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>msubhanzamzami</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msubhanzamzami.wordpress.com/?p=203</guid>
		<description><![CDATA[Titah
Nabi larang menghina masa
lalu tinggalkan seungguk asa
melelehkan tangisanku mengiringi
lika-liku hidup yang kian tak
jelas mereka hanya bisa berkata:
&#8220;Kamu harus begini dan begitu!&#8221;
Damprat
Di hadapanku, mereka mencibir
orangtua yang tak pernah berpikir
Aku hanya diam, berpikir
orangtua itu tak mengerti
hanya mau dimengerti
aku pun menguatkan hati
mengapa mereka berkata begitu
mengapa orangtua itu mendampratku
aral hidupku
Cairo, 12 Februari 2009
Seperti Mereka
Kembali, oh kembali
ingin kukecapi
tapi apa daya
aku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msubhanzamzami.wordpress.com&blog=3491531&post=203&subd=msubhanzamzami&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Titah</p>
<p>Nabi larang menghina masa<br />
lalu tinggalkan seungguk asa<br />
melelehkan tangisanku mengiringi<br />
lika-liku hidup yang kian tak<br />
jelas mereka hanya bisa berkata:<br />
&#8220;Kamu harus begini dan begitu!&#8221;</p>
<p>Damprat</p>
<p>Di hadapanku, mereka mencibir<br />
orangtua yang tak pernah berpikir<br />
Aku hanya diam, berpikir<br />
orangtua itu tak mengerti<br />
hanya mau dimengerti<br />
aku pun menguatkan hati<br />
mengapa mereka berkata begitu<br />
mengapa orangtua itu mendampratku<br />
aral hidupku</p>
<p>Cairo, 12 Februari 2009</p>
<p>Seperti Mereka</p>
<p>Kembali, oh kembali<br />
ingin kukecapi<br />
tapi apa daya<br />
aku hanya manusia<br />
tapi kenapa begini<br />
tak bisa kuulangi</p>
<p>Cairo, 13 Februari 2009</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msubhanzamzami.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msubhanzamzami.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msubhanzamzami.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msubhanzamzami.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msubhanzamzami.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msubhanzamzami.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msubhanzamzami.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msubhanzamzami.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msubhanzamzami.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msubhanzamzami.wordpress.com/203/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msubhanzamzami.wordpress.com&blog=3491531&post=203&subd=msubhanzamzami&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msubhanzamzami.wordpress.com/2009/02/14/masa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e142ce265eb495fa16e7c3f6d1ab5ced?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">msubhanzamzami</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Teologi Dialog Antaragama</title>
		<link>http://msubhanzamzami.wordpress.com/2008/10/28/teologi-dialog-antaragama/</link>
		<comments>http://msubhanzamzami.wordpress.com/2008/10/28/teologi-dialog-antaragama/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Oct 2008 05:02:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>msubhanzamzami</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islamic Thought]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msubhanzamzami.wordpress.com/?p=192</guid>
		<description><![CDATA[Pluralitas dalam segala hal adalah sunnatullah yang tidak akan punah hingga akhir masa. Begitu juga kenyataan perbedaan agama, ia merupakan hak asasi manusia yang paling fundamental sehingga tak boleh diusik apalagi dilangkahi. Karena, hanya dengan menghormati segenap perbedaan, kedamaian sebagai cita-cita mereka bersama bisa terwujud. Tapi permasalahannya adalah, benarkah mereka bisa menghormati kebebasan beragama dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msubhanzamzami.wordpress.com&blog=3491531&post=192&subd=msubhanzamzami&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN">Pluralitas dalam segala hal adalah <em>sunnatullah </em>yang tidak akan punah hingga akhir masa. Begitu juga kenyataan perbedaan agama, ia merupakan hak asasi manusia yang paling fundamental sehingga tak boleh diusik apalagi dilangkahi. Karena, hanya dengan menghormati segenap perbedaan, kedamaian sebagai cita-cita mereka bersama bisa terwujud. Tapi permasalahannya adalah, benarkah mereka bisa menghormati kebebasan beragama dalam arti sebenarnya, atau selama ini sikap tersebut hanya sebatas pada tataran teoritis saja? Pertanyaan ini kiranya cukup menggugah sikap keberagamaan kita selama ini, dan tentunya menuntut adanya realisasi aktif dari masing-masing kalangan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN">Bertolak dari sudut pandang Islam, kita bisa sedikit menoleh kembali kebelakang yaitu ke catatan sejarah awal Islam pada zaman Nabi Muhammad Saw., karena bagaimana pun juga dari sanalah kita bisa menemukan contoh-contoh elementer pola interaksi beliau dengan pemeluk agama lain. Setidaknya, hal ini bisa kita lacak langsung dalam Alqur`an, Sunnah ataupun dalam beberapa manuskrip tentang periode-periode awal Islam yang nantinya bisa dijadikan sebagai pijakan dasar metode standar interaksi antaragama yang <em>sreg</em> dengan konteks kekinian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN">Karena sebenarnya kalau mau jujur diakui, gaung dialog antaragama yang berderu kencang di Barat akhir-akhir ini ternyata akar sejarahnya hanya terdapat dalam Islam <em>an sich</em>, mungkin di sinilah letak sisi toleransi –dalam pengertian sebenarnya– Islam bisa digali dan dikembangkan. Adapun dalam tradisi Barat, terutama dalam kitab suci mereka, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, tak sepeserpun konsep dialog antaragama termaktub di dalamnya.<span id="more-192"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN">Hal ini terbukti ketika kita telaah Alqur`an, di dalamnya dengan mudah dapat ditemukan ayat-ayat <em>hiwar</em>, <em>mujadalah</em>, kebebasan beragama, toleransi, dan lain-lain. Begitu juga kita bisa memotret interaksi antaragama antara umat Islam dengan non-Islam sebagai ranah aplikasi doktrin Islam yang dibarengi oleh sikap proaktif Rasulullah Saw. dan para kaum Muslim saat itu. Sehingga tidak berlebihan jika Robert N. Bellah mengatakan, bahwa sistem tatanegara <em>ala </em>Nabi Muhammad Saw. merupakan sistem paling demokratis hingga kini yang salah-satunya mencerminkan sikap penghormatan terhadap kebebasan dalam beragama. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN">Kita bisa lihat, misalnya, bagaimana nuansa keharmonisan antara umat Islam dengan umat Kristiani di Abisinia di bawah kekuasaan Raja Negus paska hijrah pertama mereka ke sana setelah mengalami penyiksaan dari Quraisy. Begitu juga kehidupan mereka di Madinah setelah hijrah, nuansa kebebasan beragama antara pemeluk tiga agama tersebut menghiasi interaksi di antara mereka. Hal ini bisa dilihat dari kebebasan yang sama dari masing-masing umat beragama dalam menganut kepercayaan, untuk menyatakan pendapat, dan bahkan untuk menjalankan propaganda agama. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN">Inilah fakta sejarah. jika memang benar demikian, setelah kita mengetahui bahwa anjuran dialog antaragama hanya ada dalam Islam dan telah dijalankan oleh umat Islam periode-periode awal, tapi mengapa gaung tersebut lebih bergema di Barat daripada di dunia Islam sendiri? Malah kenyataan sekarang terkesan terbalik, Islam cenderung diidentikkan dengan paras kasar, kaku, galak, intoleran bahkan aksi terorisme. Pasti ada yang tidak beres di sini. Bisa jadi, umat Islam memang demikian serta patut disalahkan, atau bisa jadi, tuduhan tersebut hanya propoganda pihak seberang untuk mendiskreditkan umat Islam di pentas publik internasional.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN">Keadaan demikian wajar adanya, karena secara logika, pernyataan Islam sebagai agama penebar rahmat bagi seantero alam yang mengajarkan nilai-nilai luhur serta melarang semua aksi anti-humanisme, tentu akan mencetak serta melahirkan tipe manusia yang berbudi pekerti luhur serta menjunjung tinggi nilai-nilai humanisme pula. Tapi, bukankah realitanya sekarang sebagian umat Islam berwajah galak, suka mengusik ketentraman, dan tidak bisa menahan ego serta emosi yang berkecamuk dalam diri mereka yang seakan-akan membenarkan tuduhan pihak lain di atas?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN">Untuk sementara ini, ada dua asumsi yang paling kuat sebagai jawabannya: <em>pertama</em>, umat Islam telah jauh dari nilai-nilai Islam atau paling tidak mereka tidak bisa memahami ajaran Islam dengan baik serta mendalam, yang pada akhirnya hanya melahirkan penafsiran dangkal yang kerapkali dijadikan legitimasi keabsahan menjadikan komunitas non-Islam sebagai komunitas kedua dan harus tunduk pada “hukum-hukum Islam”; <em>kedua</em>, pernyataan Islam sebagai agama yang menebarkan rahmat hanyalah omong-kosong belaka, karena diakui atau tidak, ajaran Islam selama ini hanya bisa mencetak manusia (dengan skala besar) yang cenderung anti-humanisme daripada menjunjung tinggi nilai-nilai humanisme. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN">Mari kita urai secara seksama satu persatu dari dua asumsi di atas; <em>pertama</em>, jika kita telisik dari perspektif data yang ada, maka asumsi di atas bisa dibenarkan. Hal ini disebabkan oleh realita kehidupan masa kini, di mana mayoritas umat Islam lebih cenderung melihat segala fenomena yang ada dengan kacamata teologis, sehingga jika ada suatu perkara yang dinilai bertentangan dengan Islam akan segera dibredeli atas nama agama tanpa pertimbangan lainnya. Kenyataan ini, secara langsung membenarkan asumsi pertama di atas, karena meski secara eksplisit mereka “menghakimi” dengan dalih agama, tapi sebenarnya mereka telah melangkah jauh darinya; <em>kedua</em>, asumsi kedua di atas hanya bisa dibenarkan jika memang pernyataan Islam tersebut terbukti bertolak-belakang dengan ajarannya. Karena menilai sesuatu hanya berdasarkan pandangan hitam-putih atas hasil sesuatu tanpa melihat ajaran Islam dengan kepala dingin masih sah-sah saja diragukan kebenarannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN">Terlepas dari itu semua, sudah bukan saatnya lagi kita mengungkit kembali atau mengembar-gemborkan rasa permusuhan antaragama yang rentan menyuburkan benih-benih kekerasan. Cukuplah nilai-nilai Islam yang menjunjung tinggi harmonisasi agama-agama dan pengembangan-pengembangan teori dialog antaragama yang terus dilakukan para ilmuan masa kini sebagai pegangan demi terciptanya masyarakat madani-pluralis. Biarlah kekelaman masa silam berlalu dan hilang begitu saja. Apalah gunanya terus mengingatnya jika hanya akan menumbuhkan kembali rasa kebencian dan tidak bisa menggugah kita untuk menghindarinya serta mencari peluang untuk saling menghormati?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN">Dewasa ini, ada tawaran solusi positif yang mesti terus-menerus dikembangkan, yaitu sebuah tawaran bombastis untuk mencari titik temu kesamaan agama-agama. Karena selain solusi jitu tersebut memang mempunyai pijakan teologisnya dalam Islam, solusi itu juga dapat meminimalisir membengkaknya ketegangan antaragama yang disebabkan adanya perbedaan ajaran masing-masing.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;">
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN">Adanya persamaan dalam ajaran agama, secara bertahap akan menyadarkan umat beragama, bahwa secara general, tidak ada satupun agama di dunia ini yang mengajarkan tindak kekerasan, betapa tujuan mereka adalah sama, yaitu sama-sama menuju Tuhan dan menghirup udara perdamaian.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN">Ditambah lagi dengan adanya kenyataan yang tak dapat dipungkiri, bahwa<span> </span>tiga agama semitik, yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam sebagai agama terbesar dunia, ketiganya bersua pada banyak hal karena sama-sama bersumber dari satu sumber, satu Tuhan. Kalau memang demikian, sebagai manusia yang berperadaban dan berpandangan jauh ke depan, sudah semestinya umat Islam lah yang berada pada garis depan sekaligus promotor pertama dialog antaragama demi merealisasikan salah satu doktrin Islam.[]</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msubhanzamzami.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msubhanzamzami.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msubhanzamzami.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msubhanzamzami.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msubhanzamzami.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msubhanzamzami.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msubhanzamzami.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msubhanzamzami.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msubhanzamzami.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msubhanzamzami.wordpress.com/192/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msubhanzamzami.wordpress.com&blog=3491531&post=192&subd=msubhanzamzami&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msubhanzamzami.wordpress.com/2008/10/28/teologi-dialog-antaragama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e142ce265eb495fa16e7c3f6d1ab5ced?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">msubhanzamzami</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dialog Peradaban; Dari Wacana Menuju Realita</title>
		<link>http://msubhanzamzami.wordpress.com/2008/09/22/dialog-peradaban-dari-wacana-menuju-realita/</link>
		<comments>http://msubhanzamzami.wordpress.com/2008/09/22/dialog-peradaban-dari-wacana-menuju-realita/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Sep 2008 03:48:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>msubhanzamzami</dc:creator>
				<category><![CDATA[Thought]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msubhanzamzami.wordpress.com/?p=148</guid>
		<description><![CDATA[Meski runtuhnya gedung WTC (World Trade Centre) di Manhattan pada tanggal 11 September 2001 sudah berselang beberapa waktu, namun pelbagai efeknya hingga kini masih terasa. Tragedi yang menelan banyak korban ini, menguatkan teori benturan peradaban yang diusung oleh dua tesis kesohor, yaitu The Clash of Civilizations and The Remaking of The World Order karya Samuel [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msubhanzamzami.wordpress.com&blog=3491531&post=148&subd=msubhanzamzami&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">Meski runtuhnya gedung WTC (<em>World Trade Centre</em>) di Manhattan pada tanggal 11 September 2001 sudah berselang beberapa waktu, namun pelbagai efeknya hingga kini masih terasa. Tragedi yang menelan banyak korban ini, menguatkan teori benturan peradaban yang diusung oleh dua tesis kesohor, yaitu <em>The Clash of Civilizations</em> <em>and The Remaking of The World Order</em> karya Samuel P. Huntington, dan <em>The End of History</em> <em>and The Last Man</em> karya Francis Fukuyama, di mana keduanya masih pasang surut.</span><span style="font-size:10pt;color:black;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">Secara garis besar, kedua penulis tesis tersebut sama-sama menekankan kedigdayaan peradaban Barat di atas peradaban lain. Hanya saja, Samuel P. Huntington selain menekankan hal tersebut, dia juga optimis akan kemenangan mutlak peradaban Barat dalam perang kebudayaan. Sedang Francis Fukuyama menegaskan, bahwa kapitalisme –identitas primer peradaban Barat modern– akan mengalahkan ideologi lain, seperti Marxisme sebagai rival utamanya. Dia juga optimis, bahwa pada akhirnya, kapitalisme –dengan pasar dan perdagangan bebas sebagai propagandanya– akan menjelma menjadi agama manusia selamanya.</span><span style="font-size:10pt;color:black;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">Sayyid Yasin, seorang sosiolog Mesir, menyuguhkan buah karyanya <em><span style="text-decoration:underline;">H</span>iwâr al-<span style="text-decoration:underline;">H</span>adhârât; al-Gharb al-Kawnî wa al-Syarq al-Mutafarrid</em>. Buku ini merupakan respon terhadap perkembangan wacana dialog peradaban yang memeras keringat para filsuf, sejarahwan, dan sosiolog sejak tahun 90-an, yang merupakan respon positif guna mencari solusi menanggulangi problem antarperadaban. Di dalam buku ini, penulis berusaha menarik dialog peradaban dari sekedar wacana menjadi tindakan riil, berupa universalitas politik dan budaya. </span><span style="font-size:10pt;color:black;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">Buku tersebut dibagi ke dalam dua sub-tema. <em>Pertama</em>, peradaban; antara dialog dan benturan, yang mencakup tiga hal, yaitu menelisik akar dialog antarperadaban, problem Barat sentris dan orisinalitas budaya, serta situasi pasca-tragedi 11 September 2001. <em>Kedua</em>, dialog Palestina-Israel sebagai sampel ideal dialog peradaban, di mana keduanya berada pada dua pilihan; damai atau perang.</span><span style="font-size:10pt;color:black;"></span></p>
<p><span id="more-148"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">Sebagai sosiolog, Sayyid Yasin memfokuskan analisanya pada aspek krusial sehubungan dengan perkembangan yang turut mewarnai paradigma belakangan ini. Dalam analisanya, konsep dialog peradaban bergeser seiring pergeseran zaman; corak dialog peradaban antara zaman modern berbeda dengan post-modern. Zaman post-modern sebagai metode baru berpikir, penetrasi universal, hubungan tanpa batas, koalisi teritorial dan revivalitas nasionalisme, telah mampu merubah konsep dialog peradaban berikut aplikasinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">Dampak tragedi 11 September 2001 kian merambah ke pelbagai bidang: politik, ekonomi, budaya, militer, dan pemikiran di belahan Dunia. Dunia pun dibuat <em>ketar-ketir</em> olehnya. Tragedi tersebut bisa menjelma menjadi sumbu provokatif yang dapat merangsang terjadinya benturan antarperadaban –Barat dan Timur [Islam]. Melihat hal itu, Sayyid Yasin gencar mendiskusikan wacana dialog peradaban dan menawarkannya sebagai solusi guna menghindari benturan tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">Sebelum memasuki ranah dialog, dia menggulirkan konsep peradaban di abad 21 serta mengilustrasikannya dengan merujuk buku <em>The Social and Culture Dynamics</em> karya Betrym Sorokin. Dia menemukan bahwa Sorokin membedakan konsep peradaban (<em>civilization</em>) dari kebudayaan (<em>culture</em>); peradaban didefinisikan sebagai teori yang menekankan pada perangkat dan produk materiil, sedang kebudayaan menurutnya adalah teori yang memprioritaskan nilai dan sisi riil. </span><span style="font-size:10pt;color:black;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">Hampir senada dengan Betrym Sorokin, Arnold Toynbee, filsuf sejarah, menegaskan bahwa peradaban dunia bersifat terbatas, sementara kebudayaan beraneka ragam dan <em>unlimited</em>. Namun Sayyid Yasin –dengan mengekspansi pelbagai konsep peradaban dan kebudayaan– menggusur disparitas konsep peradaban dan kebudayaan versi Betrym Sorokin dan Arnold Toynbee. </span><span style="font-size:10pt;color:black;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">Sayyid Yasin mendefinisikan dialog peradaban sebagai ekspresi atas proses sejarah yang mengagas –setelah berakhirnya perang ideologi antara kapitalisme dan marxisme sepanjang abad 20– sisi keserasian antarperadaban besar dunia berdasarkan pada kerelaan sebagai asas manajemen masyarakat universal. </span><span style="font-size:10pt;color:black;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">Selanjutnya, dia menukil pendapat Muhammad Khatami tentang beberapa fondasi filosofis-historis dialog peradaban: <em>pertama</em>, membentangkan terma dialog ke pelbagai aspek, baik filosofis, historis, serta menindaklanjuti teori-teori para pemikir; <em>kedua</em>, menguraikan makna hakiki dan metaforis dari terma dialog; <em>ketiga</em>, dialog pasca-Perang Dunia II di bidang kebudayaan, ekonomi, sosial, dan politik; dan <em>keempat</em>, dialog antarperadaban masa silam. </span><span style="font-size:10pt;color:black;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">Selain itu, Muhammad Khatami menawarkan beberapa syarat realisasi dialog peradaban. <em>Pertama</em>, sikap untuk berubah, <em>kedua</em>, visi, dan <em>ketiga</em>, inklusivitas. Dengan memenuhi tiga syarat tersebut, suatu peradaban akan tetap eksis. Sayyid Yasin menjelaskan lebih jauh syarat ketiga di atas. Menurutnya, peradaban yang mengklaim dirinya sempurna adalah peradaban statis dan dengan sendirinya akan binasa, karena tidak belajar dari peradaban lain dan tidak mengadapsi konsep-konsepnya. </span><span style="font-size:10pt;color:black;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">Melihat kegemilangan peradaban Barat, Sayyid Yasin merasa kecewa terhadap peradaban Arab Islam yang menyia-nyiakan waktu, seraya larut dalam perdebatan sekitar ‘teori penyerapan’ antarperadaban dan melahirkan dua kubu besar, yaitu, <em>pertama</em>, kubu ‘tradisionalis kustodian’ yang berpandangan bahwa, teori penyerapan akan menghanguskan orisinalitas kebudayaan suatu peradaban, <em>kedua</em>, kubu ‘reformis idealis’ yang menyerukan teori penyerapan seluas-luasnya. </span><span style="font-size:10pt;color:black;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">Dia juga menawarkan ciri-ciri baru harmonisasi universal, di mana dengan itu upaya modernisasi akan mampu melenyapkan reversi kaum fundamentalis. <em>Pertama</em>, toleransi budaya yang berasaskan relativitas dalam menghadapi rasisme, Eropa-sentris dan individualisme. <em>Kedua</em>, kemenangan relativitas pemikiran atas absolutisme ideologi. <em>Ketiga</em>, menggalakkan demokrasi di segala bidang. <em>Keempat</em>, merevival masyarakat domestik dan mereduksi negara-sentris. <em>Kelima</em>, merevival masyarakat sipil dalam menghadapi cengkraman negara di pelbagai bidang. Dan <em>keenam</em>, keseimbangan antara nilai-nilai materiil, spiritual dan humanis. </span><span style="font-size:10pt;color:black;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">Sayyid Yasin menilai, bahwa dialog peradaban belum menunjukkan hasil yang signifikan, di samping karena konsep yang ditawarkan para filsuf, sejahrawan dan sosiolog belum jelas, juga batasan pembahasannya masih rancu, yang semestinya ditentukan dan diperjelas sehingga usaha untuk mencari titik temu dalam pelbagai hal bisa dicapai.</span><span style="font-size:10pt;color:black;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">Buku ini cocok bagi pemerhati masalah-masalah sosial yang menaruh harapan besar akan perdamaian dunia, terlebih lagi bila dikonsumsi oleh pihak yang sudah mempunyai <em>basic</em> tentang peradaban, karena di dalamnya, penulis tidak membahas secara detail akar-akar, konsep dan pelbagai hal yang harus dijadikan landasan dialog peradaban. Di dalamnya juga dijelaskan mengenai isu-isu terkini dan pandangan para tokoh yang masih layak untuk didiskusikan lebih mendalam.</span><span style="font-size:10pt;color:black;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">Terbaca dari ulasan data dan gagasannya, penulis menaruh harapan besar terwujudnya dialog peradaban, sehingga tidak lagi hanya sekedar wacana, akan tetapi bisa dikembangkan dan menjadi usaha riil dalam mengharmoniskan hubungan antarperadaban, khususnya peradaban Barat dan Timur (Islam). Dalam penilaian penulis, peradaban Barat telah menghegemoni dunia, seakan-akan ia menjelma sebagai “polisi tunggal dunia”. Sedangkan peradaban Timur terkesan mengisolir diri seraya mempertahankan jati diri konvensionalnya. </span><span style="font-size:10pt;color:black;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">Usaha penulis untuk merealisasikan beberapa gagasan di dalam karyanya ini, tentunya masih membutuhkan uluran pemikiran konstruktif-inovatif, sehingga benar-benar bisa dijadikan sumber acuan bagi generasi mendatang agar lebih peka dalam merespon pelbagai perkembangan yang senantiasa bergulir tanpa henti. []</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msubhanzamzami.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msubhanzamzami.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msubhanzamzami.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msubhanzamzami.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msubhanzamzami.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msubhanzamzami.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msubhanzamzami.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msubhanzamzami.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msubhanzamzami.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msubhanzamzami.wordpress.com/148/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msubhanzamzami.wordpress.com&blog=3491531&post=148&subd=msubhanzamzami&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msubhanzamzami.wordpress.com/2008/09/22/dialog-peradaban-dari-wacana-menuju-realita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e142ce265eb495fa16e7c3f6d1ab5ced?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">msubhanzamzami</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pencarianku!</title>
		<link>http://msubhanzamzami.wordpress.com/2008/08/26/pencarianku/</link>
		<comments>http://msubhanzamzami.wordpress.com/2008/08/26/pencarianku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Aug 2008 01:26:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>msubhanzamzami</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Pribadi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msubhanzamzami.wordpress.com/?p=116</guid>
		<description><![CDATA[Dalam kesempatan ini, saya ingin curhat atau katakanlah berbagi pengalaman kepada Anda tentang pencarian jati diri saya dalam rentang waktu beberapa tahun belakangan ini, terutama yang berkenaan dengan pencarian format ideal beragama yang klop dengan diri seseorang. Barangkali, ada kesamaan pengalaman yang pernah Anda alami atau juga hal ini bisa dijadikan sebagai kaca perbandingan bagi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msubhanzamzami.wordpress.com&blog=3491531&post=116&subd=msubhanzamzami&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://msubhanzamzami.files.wordpress.com/2008/08/merenung-kehidupan2.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-128" src="http://msubhanzamzami.files.wordpress.com/2008/08/merenung-kehidupan2.jpg?w=128&#038;h=96" alt="" width="128" height="96" /></a><span lang="IN">Dalam kesempatan ini, saya ingin curhat atau katakanlah berbagi pengalaman kepada Anda tentang pencarian jati diri saya dalam rentang waktu beberapa tahun belakangan ini, terutama yang berkenaan dengan pencarian format ideal beragama yang klop dengan diri seseorang. Barangkali, ada kesamaan pengalaman yang pernah Anda alami atau juga hal ini bisa dijadikan sebagai kaca perbandingan bagi Anda atau yang lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Sejak kecil, saya dibesarkan dalam lingkungan dan keluarga yang cukup fanatik pada tradisi-tradisi keagamaan NU (Nahdlatul Ulama). Tak heran bila hingga sekarang –meskipun aneka ragam ideologi pernah saya rasakan– beberapa tradisi tersebut masih melekat kuat pada diri saya. Lingkungan seperti inilah yang cukup banyak mewarnai pola pikir dan tindak-tanduk saya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">NU merupakan ormas terbesar di Madura, bahkan ada sebuah banyolan yang cukup terkenal mengenai kerekatan NU dan umat Islam di Madura. Yaitu, bila kita bertanya kepada mereka apakah gerangan agama mereka? Karena kuatnya dominasi tradisi NU pada sebagian besar masyarakat Madura, dengan penuh keluguan mereka akan menjawab: &#8220;NU!&#8221;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Tentunya, banyolan tersebut tidak sepenuhnya salah atau sepenuhnya benar. Tetapi, seperti yang telah kita ketahui, ia mengisyaratkan bahwa mayoritas penduduk Madura memegang teguh tradisi NU bahkan cukup fanatik. Dan hal ini juga terjadi di lingkungan di mana saya dilahirkan dan tumbuh dewasa, malah hingga di Pondok Al-Amien di mana saya menuntut ilmu selama 6 tahun tradisi-tradisi tersebut cukup dominan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Sebelum menginjakkan kaki di Al-Amien, bapak sering mengajak saya sowan ke kiyai-kiyai salaf di Madura yang selain cukup disegani penduduk Madura mereka juga terkenal dengan ilmu mukasyafah, bahkan di antara mereka ada juga yang berambut gondrong. Dari sowan ke kiyai satu ke kiyai lainnya, saya mendapatkan pelajaran “aneh” yang tak bisa di dapatkan di bangku sekolah. Tradisi sowan ini terus berlanjut hingga saya tamat di Al-Amien bahkan tetap saya lakukan hingga sekarang.<span id="more-116"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Di Al-Amien, pada mulanya yaitu ketika saya duduk di bangku kelas 3 SMP, saya bersentuhan dengan buku-buku tentang kristologi. Karena sangat intensnya membaca buku-buku tersebut, keimanan dan keislaman saya tergoncang dahsyat. Dahsyatnya ujian ini pernah saya ceritakan ke orang tua via telepon. Karena sangat dahsyatnya goncangan terhadap keimanan ini, terpikir juga dalam benak saya untuk memeluk Kristen.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Untuk mengatasi hal ini, saya mulai tertarik membaca buku-buku yang bisa membentengi dan meneguhkan kembali keislaman saya. Akhirnya, saya mendapatkan dan membaca buku-buku terjemahan karya orang-orang Wahhabi (pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab, Saudi Arabia) yang diseberluaskan secara cuma-cuma (majjânan wa lâ yubâ’) yang memang pembahasannya tak jauh dari persoalan akidah, bahkan majalah-majalah Islam Fundamentalis ini seperti Majalah Salafi, Majalah Sabili, dan Majalah as-Syari’ah tak luput dari jamahan “kehausan” saya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Lagi-lagi karena begitu intensnya bercengkerama dengan bacaan-bacaan seperti itu, pemikiran saya mengalami perubahan besar yang mempengaruhi tindak-tanduk saya sehari-hari. Saya mulai berlagak seperti orang-orang Wahhabi: anti-bid’ah dan sangat benci terhadap non-muslim. Karena ini pulalah saya tak menghiraukan sunnah-sunnah pondok yang saya anggap bid’ah bahkan mesti dilenyapkan, apalagi saya mendapatkan justifikasi atas keyakinan dan tindakan ini dengan melihat keyakinan dan doktrin seorang kiyai alumnus Madinah University yang terkenal Wahhabi –pada waktu itu, beliau menjabat sebagai wakil pimpinan Ma&#8217;had Tahfidz al-Qur`an– yang menjadi figur panutan saya kala itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Setelah sekian lama saya akrab dengan bacaan-bacaan itu, saya mulai berkenalan dengan bacaan Islam Fundamentalis yang pemikirannya relatif lebih lunak, yaitu Majalah Hidayatullah bahkan hampir berlangganan. Beberapa edisi sudah saya lahap dan sisa beberapa edisi itu masih saya simpan di rumah hingga sekarang. Dengan membaca majalah ini, pemikiran keislaman saya mulai sedikit melunak, tetapi tetap saja pemikiran-pemikiran Islam Garis Keras menggelayangi otak saya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Tetapi, meskipun pemikiran Wahhabi dominan dalam benak saya, tetapi masih ada beberapa tradisi NU yang tidak bisa saya tolak karena sudah terlanjur saya yakini dan telah mendarah-daging dalam diri saya sejak kecil. Oleh karena itu, seorang teman sekelas berkata kepada saya: &#8220;Kamu tidak mungkin bisa menjadi Wahhabi.&#8221; Ya, kata-kata yang sekarang menjadi kenyataan itu masih segar dalam ingatan saya hingga detik ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Pada fase ini, kecenderungan ibadah saya memuncak sehingga hati yang mengontrol perasaan mendapatkan porsi yang melebihi porsi otak. Oleh karena itu, otak saya tidak bisa berfungsi dengan baik. Hanya akhirat yang ada dalam pikiran saya, sebaliknya dunia adalah kehidupan yang menjijikkan. Akhirnya, semua persoalan yang bersifat duniawi an sich tidak saya hiraukan. Karena otak dikalahkan oleh perasaan, saya tidak bisa berpikir kritis terhadap doktrin-doktrin Islam Fundamentalis sehingga langsung meyakininya dan menolak doktrin-doktrin yang berlawanan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Fase ini kemudian agak mengendor dan mulai menapak fase baru yang lebih “ilmiah” setelah bersentuhan dan akrab dengan Majalah Islamia dan buku-buku INSISTS lainnya. Meskipun ideologi Islam Keras mulai memudar dan tak sekeras sebelumnya, tapi pada fase ini kebencian terhadap orang-orang liberal tetap meledak-ledak dalam diri saya yang mana pada waktu itu mulai bermunculan dan menulis di salah satu rubrik Jawa Pos untuk mengeksplorasi pemikiran-pemikiran mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Sebagaimana lazimnya cara orang awam dan pihak Islam Fundamentalis berpikir, dalam pikiran saya muncul dugaan: orang-orang liberal itu pasti akan masuk neraka karena telah “menistakan” ajaran-ajaran Islam. Bahkan saya pernah berkata kepada seorang teman saya: &#8220;Nanti kalau sudah dewasa, saya akan menantang Ulil berdebat.&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Sekarang, kalau ingat dua hal tersebut, kadang-kadang saya tersenyum sendiri bahkan seharusnya malu karena saya malah memakan ludah sendiri. Nah, fase ini tetap berlangsung hingga saya tamat dari Al-Amien bahkan hingga beberapa bulan saya berada di Mesir.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Setelah beberapa bulan di Mesir dan menikmati langsung beberapa buku yang di Indonesia dianggap liberal, saya pun mulai tertarik dan pada akhirnya mulai tertantang untuk terus membaca buku-buku lain yang sejenis. Para penulis dan buku-buku yang sering dijelek-jelekkan orang-orang INSISTS itu, akhirnya menjadi figur dan buku favorit saya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Keadaan pun menjadi berbalik drastis, kalau dulu mengecam pemikiran liberal kini saya malah meyakininya begitu juga sebaliknya; kalau dulu meyakini pemikiran Islam Fundamentalis tetapi kini saya malah sangat tidak menyukai apa-apa yang dulu pernah saya yakini sebagai kebenaran itu.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Di Mesir, saya juga mulai suka dengan buku-buku pemikiran dan filsafat. Pada gilirannya, pemikiran saya pun sangat bebas, bahkan kalau saja saya bukan seorang muslim karena faktor keturunan, saya lebih memilih menjadi seorang ateis pada waktu itu. Pada fase ini, pemikiran saya liberal dan sangat idealis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Setelah menikmati liburan panjang summer ke Indonesia, saya mendapatkan realita yang semuanya tak sama dengan dunia ide yang saya geluti di Mesir. Karena ternyata dunia riil lebih kompleks dan saya merasakan sangat kesulitan untuk menerapkan ide-ide yang ada di benak saya. Akhirnya, pemikiran saya menjadi lebih lunak dan saya pun tidak seidealis seperti sebelumnya. Selain karena dunia riil tidak sama dengan dunia ide, bebasnya pemikiran telah membuat saya malas beribadah dan membuat saya merasa hebat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Menyadari semua itu, sekarang saya tengah berusaha menyatukan pemikiran yang bebas dan ketekunan dalam beribadah pada diri saya. Saya ingin kecenderungan sufi dan filsafat yang mana dua-duanya sama-sama pernah saya lalui bisa menyatu dalam diri saya. Tetapi tentu saja hal ini bukanlah pekerjaan yang mudah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dari semua pengalaman ini, <span lang="IN">ada dua poin yang saya dapatkan </span>yaitu (1) apa yang pernah kita yakini sebagai sebuah kebenaran tidak menutup kemungkinan pada masa-masa setelahnya kita akan menganggapnya sebagai sebuah kesalahan (2) apa yang kita cintai dan kita perjuangkan tidak menutup kemungkinan pada masa-masa setelahnya akan kita benci dan kita berusaha memusnahkannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Akhirnya, mohon maaf bila dalam paparan di atas, saya terkesan &#8220;sok-sok-an&#8221;, tetapi itulah realita yang saya alami bahkan masih banyak hal yang </span><span>sengaja</span><span> </span><span>tidak </span><span lang="IN">saya ungkap. Lalu, bagaimanakah pengalaman Anda sendiri? []</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/msubhanzamzami.wordpress.com/116/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/msubhanzamzami.wordpress.com/116/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msubhanzamzami.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msubhanzamzami.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msubhanzamzami.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msubhanzamzami.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msubhanzamzami.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msubhanzamzami.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msubhanzamzami.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msubhanzamzami.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msubhanzamzami.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msubhanzamzami.wordpress.com/116/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msubhanzamzami.wordpress.com&blog=3491531&post=116&subd=msubhanzamzami&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msubhanzamzami.wordpress.com/2008/08/26/pencarianku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e142ce265eb495fa16e7c3f6d1ab5ced?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">msubhanzamzami</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://msubhanzamzami.files.wordpress.com/2008/08/merenung-kehidupan2.jpg?w=128" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Neo-Dzahiriyah</title>
		<link>http://msubhanzamzami.wordpress.com/2008/07/07/neo-dzahiriyah/</link>
		<comments>http://msubhanzamzami.wordpress.com/2008/07/07/neo-dzahiriyah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 09:01:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>msubhanzamzami</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islamic Thought]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msubhanzamzami.wordpress.com/?p=75</guid>
		<description><![CDATA[Akhir-akhir ini kita sering mendengar, membaca, dan berdiskusi tentang Neo-Khawarij, yaitu sebuah sekte Islam yang merupakan wajah baru dari Khawarij yang muncul pada masa-masa awal Islam. Menurut Musthafa as-Syak’ah di dalam bukunya “Islâm bilâ Madzâhib”, sekte ini pertama kali dipimpin oleh Abdullah bin Wahb ar-Rasibi dan pertama kali dikenal dengan nama “al-Muhakkimah al-Ula”. 
Sekte ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msubhanzamzami.wordpress.com&blog=3491531&post=75&subd=msubhanzamzami&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://msubhanzamzami.files.wordpress.com/2008/07/salafi1.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-81" src="http://msubhanzamzami.files.wordpress.com/2008/07/salafi1.jpg?w=97&#038;h=96" alt="" width="97" height="96" /></a><span lang="IN">Akhir-akhir ini kita sering mendengar, membaca, dan berdiskusi tentang Neo-Khawarij, yaitu sebuah sekte Islam yang merupakan wajah baru dari Khawarij yang muncul pada masa-masa awal Islam. Menurut Musthafa as-Syak’ah di dalam bukunya “<em>Islâm bilâ Madzâhib</em>”, sekte ini pertama kali dipimpin oleh Abdullah bin Wahb ar-Rasibi dan pertama kali dikenal dengan nama “al-Muhakkimah al-Ula”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Sekte ini sering diidentikkan dengan pengkafiran terhadap pihak yang berbeda pendapat dengan mereka. Sebagaimana Khawarij identik dengan penghalalan darah pihak yang berbeda pendapat dari kalangan umat Islam sendiri, Neo-Khawarij yang ada sekarang juga diidentikkan dengan pembolehan menggunakan kekerasan atas nama agama terhadap pihak yang berbeda pandangan dan pengamalan atas sejumlah doktrin Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Yang tak kalah pentingnya dari sekte ini adalah apa yang kita sebut dengan Neo-Dzahiriyah (<em>ad-dzahiriyah al-judud</em>) yang mempunyai kesamaan dengan Khawarij dalam beberapa hal. Madzhab ini merupakan wajah baru dari madzhab Dzahiriyah yang digagas oleh Dawud bin Ali al-Asfihani (202-270 H) yang selain dikenal hanya cukup memahami dan menafsirkan teks-teks partikular agama berdasarkan dzahirnya saja, mereka juga diidentikkan dengan pola pikir yang <em>saklek</em>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Lebih dari itu, mereka mengingkari adanya hikmah dan tujuan (<em>maqashid</em>) di balik teks; menolak <em>istihsan</em>, <em>sadz ad-Dzara`i’</em>, <em>al-Mashalih al-Mursalah</em>; mereka juga menolak keabsahan pengunaan qiyas yang benar dalam menentukan suatu hukum karena ia akan membuka ruang ijtihad (Rasyad Hasan Khalil, <em>Târîk<span style="text-decoration:underline;">h</span> at-Tasyrî’ al-Islâmî</em>: <em>Adwâr Tathawwurihi, Mashâdiruhu, Madzâhibuhu al-Fiqhiyah</em>, 2002). Intinya, mereka mendewakan makna literal teks dan menolak semua metode penalaran manusia terhadapnya berikut hasilnya.<span id="more-75"></span> <span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Meskipun Neo-Dzahiriyah merupakan wajah baru dari madzhab Dzahiriyah yang pernah dikembangkan oleh Ibnu Hazm al-Andalusi (384-456 H), tetapi ada perbedaan fundamental antara keduanya. Perbedaan ini terletak pada tidak adanya kecakapan ilmu seperti yang dimiliki oleh para pengikut madzhab Dzahiriyah terdahulu pada diri Neo-Dzahiriyah, terutama pada pengetahuan tentang teks-teks al-Qur`an, hadits, dan atsar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Menurut Yusuf al-Qardhawi di dalam bukunya “<em>Dirâsah fî Fiqh Maqâshid as-Syarî’ah: Bayn al-Maqâshid al-Kulliyah wa an-Nushûs al-Juz`iyah</em>”, <span> </span>Neo-Dzahiriyah ini terbagi menjadi beberapa kelompok. Di antaranya ada yang cenderung bernuansa agamis seperti kelompok Salafi dan di antaranya lagi lebih bernuansa politis seperti Hizbuttahrir (HT), tetapi semua itu masih dengan ciri-ciri yang sama; pemahaman tekstual<span> </span>(<em>harfiyah al-fahm)</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Hanya bertumpu pada pemahaman tekstual terhadap teks-teks suci agama bukanlah pilihan satu-satunya yang tepat, karena bagaimanapun juga turunnya sejumlah ayat al-Qur`an tak lepas dari penyebab yang mengiringinya yang kita kenal dengan istilah “Asbâb an-Nuzûl”. Demikian pula dengan hadits, sejumlah hadits juga tak lepas dari penyebab yang mengiringinya yang kita kenal dengan nama “<em>Asbâb al-Wurûd</em>”. Bahkan hanya bertumpu pada makna literal teks berpotensi melahirkan pemahaman dan penafsiran yang salah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Itulah ciri utama Neo-Dzahiriyah yang melahirkan penafsiran-penafsiran dangkal terhadap doktrin Islam. Di antaranya adalah sikap mereka terhadap kaum hawa yang hanya berkutat pada dapur dan kasur, dan penolakan mereka terhadap sesuatu yang datang dari pihak non-Islam. Oleh karena itu, tak jarang yang berasal dari mereka terutama Barat seperti demokrasi dicap sebagai barang haram yang wajib ditinggalkan. Mereka terbuai dengan kehidupan abad ke-7 sehingga mereka lupa bahwa sebenarnya mereka hidup di abad 21 yang mana hampir semua hal telah berubah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Masih menurut Yusuf al-Qardhawi, selain berlebihan terhadap makna literal teks mereka juga merasa lebih enak dengan pendapat-pendapat yang memberatkan dibanding yang memudahkan; pendapat mereka paling dan pasti benar sementara pendapat yang berbeda pasti salah dan mereka pasti menolaknya; mencela pihak yang berseberangan dengan mereka dengan celaan berlebihan seperti mengatakan mereka bid’ah, fasik, dan kafir.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Beda tempat dan waktu, beda pula penyikapannya</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Di Indonesia, dengan ciri-ciri yang dipaparkan Yusuf al-Qardawi di atas, kita bisa menemukan Neo-Dzahiriyah ini. Biasanya hanya berbekal sedikit ayat dan hadits, dengan memekikkan takbir mereka kerap dengan lantang menyalahkan pihak yang bersilang pendapat dengan mereka, cacian dan label sesat bahkan vonis kafirpun terhadap sesama umat Islam mereka lakukan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Ada dugaan kuat bahwa tindakan-tindakan mereka lahir dari kesalahan pemahaman mereka terhadap doktrin Islam. Kesalahan ini lebih disebabkan oleh minimnya pengetahuan mereka terhadap tradisi Indonesia yang sangat berbeda dengan tradisi Arab abad ke-7. Perbedaan inilah yang luput dari jangkauan mereka, apalagi secara sosiologis dan antropologis kelompok Salafi dan Hizbuttahrir (HT), yang oleh Yusuf al-Qardhawi dimasukkan ke dalam Neo-Dzahiriyah, tak memiliki akar tradisi yang kuat di Indonesia. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Seakan-akan ber-islam yang benar adalah meng<em>copy-paste</em> seluruh doktrin Islam yang tertuang di dalam al-Qur`an, hadits, dan pendapat-pendapat ulama terdahulu ke dalam kehidupan nyata di sebuah tempat yang mempunyai sejarah dan tradisi yang berbeda. Ironinya, tak sedikit dari mereka yang belum menyadari bahwa pendapat-pendapat tersebut tak bisa dilepaskan dari tradisi yang melingkupi pribadi masing-masing ulama yang mesti direkontekstualisasikan. <span> </span><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Barangkali mereka tak mengetahui bahwa ada sejumlah doktrin Islam yang merupakan warisan dari tradisi Arab dan Persia, sehingga mereka tak meyakini bahwa sejumlah doktrin itu sejatinya diadapsi dari tradisi setempat. Padahal tradisi-tradisi ini diadapsi Islam sesuai dengan prinsip dasar Islam dan sah sebagai doktrin Islam. Seorang intelektual Mesir, Khalil Abdul Karim, berhasil melacak akar-akar sejarah syariat Islam dan memaparkan fakta ini di dalam bukunya yang bertajuk “<em>al-Judzûr at-Târikhiyah lî as-Syarî’ah al-Islâmiyah</em>” dan membaginya ke dalam beberapa kategorisasi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dengan demikian, tak ada alasan untuk membumi-hanguskan semua tradisi lokal yang ada seraya hanya mendaku pada pemahaman makna literal teks-teks suci agama, karena tradisi lokal juga mesti dijadikan pertimbangan dalam menentukan suatu hukum. Oleh karena itu, metode pemahaman yang digunakan oleh Neo-Dzahiriyah tak bisa dijadikan acuan utama untuk memahami Islam, karena selain cenderung mengesampingkan tradisi lokal ia juga sebenarnya menolak ruh historis dan tujuan utama syariat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Inilah kelemahan pemahaman <em>ala</em> Neo-Dzahiriyah yang tak mereka sadari. Bahkan mereka mengira bahwa pendapat mereka adalah satu-satunya pendapat yang pasti dan paling benar karena sesuai dengan makna literal teks. Dan dengan demikian, menurut mereka pendapat yang berbeda dengan mereka pasti salah. Mereka menganggap bahwa merekalah pemilik satu-satunya kebenaran di dunia ini. Oleh karena itu, tak aneh bila mereka merasa sebagai orang yang paling Islam! <span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Antara Neo-Khawarij dan Neo-Dzahiriyah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong></strong><span lang="IN">Tulisan ini tentu bukan tempat yang tepat untuk mengulas semua keyakinan Khawarij, apalagi sekte ini terpecah menjadi beberapa golongan: al-Azaraqah; an-Najdat; al-Bayhasiyah; al-‘Ajaridah (as-Shaltiyah, al-Maymuniyah, al-Hamziyah, al-Khalafiyah, al-Athrafiyah, as-Syu’aibiyah, dan al-Hazimiyah); ats-Tsa’alibah (al-Akhnasiyah, al-Ma’badiyah, ar-Rusyaidiyah, as-Syaybaniyah, al-Makramiyah, al-Mu’awimiyah, al-Majhuliyah, dan al-Bid’iyah); al-Ibadhiyah (al-Hafshiyah, al-Haritsiyah, dan al-Yazidiyah); dan as-Shufriyah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Karena Neo-Dzahiriyah dan Neo-Khawarij sama-sama termasuk golongan yang ekstrem, maka kita bisa melihat adanya kesamaan sikap antara dua golongan ini, yaitu terutama sikap mereka yang acapkali menyalahkan pihak lain yang berseberangan dengan mereka, menuduhnya melakukan bid’ah, melabelinya fasik, bahkan mengkafirkannya, suatu sikap yang sangat berlebihan di dalam menyikapi perbedaan pendapat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Sikap berlebihan tersebut bukan saja bisa kita temukan di dalam buku-buku dan tulisan-tulisan mereka, tetapi dalam kehidupan nyatapun kita juga bisa menemukannya. Selain hal ini merupakan dampak negatif dari sikap seseorang yang merasa pendapat kelompoknya adalah pendapat yang paling benar yang mewakili Islam secara keseluruhan tanpa memberikan porsi kebenaran dari kelompok lain, hal ini juga merupakan dampak destruktif dari sikap seseorang yang merasa dirinya paling Islam. <span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Ada ungkapan menarik tentang kemiripan Neo-Dzahiriyah dan Neo-Khawarij, yaitu ungkapan yang paling dekat dengan lisan dan tulisan Neo-Dzahiriyah adalah kata “Haram!” sementara ungkapan yang paling dekat dengan lisan dan tulisan Neo-Khawarij adalah kata “Kafir!”. Kalau Yusuf al-Qardhawi memasukkan kelompok Salafi dan Hizbuttahrir (HT) ke dalam Neo-Dzahiriyah</span><span style="font-family:Tahoma;"> </span><span lang="IN">secara pemahaman fikih</span><span lang="IN">, maka pantaskah bila keduanya juga dimasukkan dalam Neo-Khawarij secara akidah dengan adanya kemiripan antara Neo-Dzahiriyah dan Neo-Khawarij?</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/msubhanzamzami.wordpress.com/75/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/msubhanzamzami.wordpress.com/75/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msubhanzamzami.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msubhanzamzami.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msubhanzamzami.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msubhanzamzami.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msubhanzamzami.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msubhanzamzami.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msubhanzamzami.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msubhanzamzami.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msubhanzamzami.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msubhanzamzami.wordpress.com/75/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msubhanzamzami.wordpress.com&blog=3491531&post=75&subd=msubhanzamzami&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msubhanzamzami.wordpress.com/2008/07/07/neo-dzahiriyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e142ce265eb495fa16e7c3f6d1ab5ced?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">msubhanzamzami</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://msubhanzamzami.files.wordpress.com/2008/07/salafi1.jpg?w=97" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>NU dan Islam Indonesia</title>
		<link>http://msubhanzamzami.wordpress.com/2008/06/14/nu-dan-islam-indonesia/</link>
		<comments>http://msubhanzamzami.wordpress.com/2008/06/14/nu-dan-islam-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jun 2008 01:36:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>msubhanzamzami</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msubhanzamzami.wordpress.com/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[Jamak diketahui bahwasanya NU (Nahdhatul Ulama) merupakan ormas keagamaan terbesar di Indonesia. Kenyataan ini adalah salah satu bukti kuat bahwasanya nuansa keberagamaan yang diusung NU dengan konsep Aswajanya, lebih cocok bagi mayoritas masyarakat Muslim Indonesia dibanding ormas-ormas keagamaan lainnya. 
Hal ini bukan berarti karena NU lahir lebih awal dari ormas-ormas lainnya, karena ada beberapa ormas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msubhanzamzami.wordpress.com&blog=3491531&post=45&subd=msubhanzamzami&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><a href="http://msubhanzamzami.files.wordpress.com/2008/08/nu1.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-139" src="http://msubhanzamzami.files.wordpress.com/2008/08/nu1.jpg?w=128&#038;h=88" alt="" width="128" height="88" /></a><span lang="IN">Jamak diketahui bahwasanya NU (Nahdhatul Ulama) merupakan ormas keagamaan terbesar di Indonesia. Kenyataan ini adalah salah satu bukti kuat bahwasanya nuansa keberagamaan yang diusung NU dengan konsep Aswajanya, lebih cocok bagi mayoritas masyarakat Muslim Indonesia dibanding ormas-ormas keagamaan lainnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">Hal ini bukan berarti karena NU lahir lebih awal dari ormas-ormas lainnya, karena ada beberapa ormas yang muncul lebih awal dari NU seperti Muhammadiyah misalnya. Ormas yang terakhir ini dirintis oleh KH. Ahmad Dahlan pada tahun 1912, sementara NU baru muncul pada tahun 1926. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">Kalau kita perhatikan sejarah Indonesia terutama agama awal masyarakat tanah air, kita bisa mendapatkan beberapa fakta atas keyakinan dan adat-istiadat mereka yang secara garis besar menunjukkan bahwasanya mayoritas mereka –untuk tidak dikatakan semua— terjebak pada animisme, mistisisme, dan politiesme. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">Pelbagai perkara ini sudah barang tentu menyisakan pengaruh – sedikit atau banyak— kepada generasi setelah mereka. Sementara itu, keyakinan-keyakinan seperti itu tidak mendapatkan tempat yang layak di dalam Muhammadiyah atau Persis misalnya, bahkan diperangi dan diberangus sampai ke akar-akarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">Pada kondisi seperti inilah NU mendapatkan tempat yang bagus di kalangan mayoritas masyarakat Muslim Indonesia. Karena ia mampu mengakomodasi antara keyakinan dan adat-istiadat mereka dengan nilai-nilai Islami yang diusungnya. Suatu hal yang mendapatkan pijakan teologis yang kuat di dalam Islam.<span id="more-45"></span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">Islam <em>ala</em> NU adalah Islam yang toleran dengan nilai-nilai yang telah mengakar kuat di dalam keyakinan dan adat-istiadat mereka tersebut. Ia mampu mengawinkan nilai-nilai Islami dengan itu semua, sehingga yang terjadi adalah semacam pembenahan secara perlahan tanpa harus melenceng dari substansi ajaran Islam ataupun melecehkan keyakinan dan adat-istiadat tersebut, apalagi memeranginya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">Satu contoh kecil yang perlu dikemukakan di sini adalah masalah tahlil bagi orang yang telah meninggal dunia. Tahlil yang dimaksud di sini adalah melantunkan ayat-ayat Al-Qur`an dan berdzikir secara bersamaan untuk mendoakan orang yang telah meninggal dunia selama tujuh hari berturut-turut. Kalau kita menggunakan definisi ini, tahlil memang tidak pernah dilakukan pada masa Nabi Muhammad Saw. Tetapi apakah ini berarti tahlil bertentangan dengan ajaran Islam? Jawabannya tentu tidak. Karena secara substansi, tahlil tidak bertentangan dengan ajaran Islam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">Penulis kira, tradisi tahlilan merupakan salah satu hasil akulturasi antara nilai-nilai masyarakat setempat dengan nilai-nilai Islam, di mana tradisi ini tumbuh subur di kalangan Nahdliyyin. Sementara ormas-ormas lainnya cenderung memusuhi bahkan berusaha mengikisnya habis-habisan. Seakan-akan tradisi tahlilan menjelma sebagai tanda pembeda apakah dia warga NU, Muhammadiyah, Persis, atau yang lainnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">Fakta di atas merupakan salah satu bukti kuat bahwasanya Islam <em>ala</em> NU lebih cocok dan ramah dengan sosio-kultur mayoritas masyarakat Muslim Indonesia dibanding Islam <em>ala </em>ormas-ormas keagamaan lainnya. Di sana masih terlalu banyak contoh lainnya untuk disebutkan yang menunjukkan realita tersebut. Setelah kita menyingkap sedikit tentang keramahan Islam <em>ala</em> NU terhadap nilai-nilai masyarakat Indonesia, selanjutnya kita beralih kepada persoalan lain yaitu relasi antara Islam dan NU dan pengaruhnya terhadap sosio-kultur dan politik Indonesia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">Corak fikih yang berkembang dan menjadi patokan mayoritas masyarakat Muslim Indonesia adalah fikih Syafi’i. Hal ini tentunya tidak bisa dipisahkan dari peran NU di dalamnya. Karena meski tokoh-tokoh NU menyatakan bahwasanya mereka menganut fikih imam yang empat (fikih Hanafi, fikih Maliki, fikih Syafi’i, dan fikih Hambali), tetapi pada kenyataannya warga NU cenderung lebih banyak mengaplikasikan fikih Syafi’i dibanding yang lain. Realita ini juga sangat mempengaruhi keberagamaan umat Islam di Indonesia, terutama warga NU sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">Fikih Syafi’i yang masyhur dengan kehati-hatiannya memberikan dampak yang sangat serius bagi umat Islam di Indonesia. Salah satu dampak itu adalah kehati-hatian tokoh-tokoh mereka di dalam menghasilkan atau menetapkan hukum suatu perkara. Salah satu slogan yang kesohor di kalangan warga Nahdliyyin adalah slogan, “Memelihara tradisi masa lalu yang baik dan mengambil khazanah masa kini yang lebih membawa kemaslahatan” (<em>al-mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>âfadzah ‘alâ al-qadîm as-shâli<span style="text-decoration:underline;">h</span> wa al-ak<span style="text-decoration:underline;">h</span>dz bi al-jadîd al-ashla<span style="text-decoration:underline;">h</span></em>). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">Slogan ini selalu dan akan selalu dijadikan pegangan warga NU khususnya para tokohnya dalam rangka <em>istinbath</em> hukum atas suatu perkara yang mereka hadapi. Poin yang amat penting untuk digarisbawahi dan dijadikan spirit di sini adalah, bahwasanya slogan ini selain mengandung makna melestarikan tradisi para pendahulu, ia juga mengandung makna progresivitas di dalam memutuskan hukum suatu perkara. Jadi NU adalah corong bagi lahirnya fikih yang peka terhadap perkembangan, tetapi tetap berpijak pada tradisi sebagai landasan pertimbangannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">Tradisi di sini lebih spesifik lagi dimaksudkan sebagai warisan nenek moyang penduduk Indonesia. Karena setiap daerah memiliki tradisi tersendiri yang berbeda dari daerah lainnya. Perbedaan tradisi antara Indonesia dan Arab misalnya, keduanya tentu mempunyai perbedaan sosio-kultur terutama karena perbedaan geopolitis antara keduanya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">Hal ini tentu sangat berpengaruh pada pemahaman serta aplikasi doktrin Islam. Apa yang bisa diaplikasikan di wilayah Arab belum tentu bisa diaplikasikan secara hitam putih di wilayah Melayu terutama di Indonesia. <em>Nah</em>, di sinilah seorang ahli fikih selain dituntut untuk menguasai doktrin-doktrin Islam, dia juga sebenarnya dituntut untuk menguasai tradisi setempat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">Apa yang diselenggarakan di pondok-pondok yang berbasis NU di tanah air seperti <em>ba<span style="text-decoration:underline;">h</span>ts al-masâ`il </em>merupakan salah satu wadah untuk memecahkan persoalan yang telah, sedang, atau akan terjadi di daerah masing-masing. Kegiatan semacam ini merupakan tindakan jitu dalam rangka menjembatani antara pelbagai perkara yang terjadi di Indonesia, dengan doktrin-doktrin Islam yang sudah tertuang di dalam kitab-kitab kuning, yang biasanya dijadikan sebagai rujukan sentral di kalangan penduduk Muslim Indonesia terutama warga Nahdliyyin. Karena sudah barang tentu semua perkara tersebut tidak semuanya telah dikaji di dalam kitab-kitab kuning tadi, di mana biasanya –kalau tidak mau dikatakan semuanya— kitab-kitab tersebut berasal dari wilayah Timur Tengah. Hasil-hasil hukum yang berasal dari pondok pesantren inilah yang kemudian dibawa, diajarkan, serta diaplikasikan oleh para santri ke tengah-tengah masyarakat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">Kalau hal ini kita kiaskan dengan para pelajar Indonesia yang sedang menuntut ilmu-ilmu Islam di Timur Tengah terutama Arab Saudi dan Mesir, maka kesimpulannya pun nyaris sama: mereka juga harus bisa membedakan antara hukum-hukum Islam yang bisa diaplikasikan di jazirah Arab, tetapi tidak bisa diaplikasikan secara hitam putih di Indonesia kecuali setelah dilakukan beberapa penyesuaian dengan sosio-kultur masyarakat Indonesia, dan begitu juga sebaliknya. Hal ini tentu bukan perkara mudah atau isapan jempol belaka. Karena kalau tidak, akan terjadi semacam ketimpangan antara nilai-nilai Islam dengan nilai-nilai masyarakat Indonesia, baik secara sosio-kultur ataupun politik. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">Sebagaimana sudah maklum, meskipun umat Islam di Indonesia tercatat sebagai komunitas Muslim terbesar se-dunia, tetapi sebagian besar dari mereka buta akan hukum-hukum Islam. Biasanya, mereka memasrahkan urusan tersebut kepada para tokoh masyarakat setempat; mereka cukup bertanya bahkan cenderung menerima apa adanya fatwa-fatwa para tokoh tersebut tanpa mengkritisinya sedikitpun. Karena bagi mereka, fatwa-fatwa tersebut adalah hukum-hukum Tuhan sendiri yang bersifat transenden serta mesti dipatuhi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">Hal ini sangat berpengaruh pada sosio-kultur mereka dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi jika para tokoh mereka <em>demen</em> politik, mereka –secara sadar atau tidak— adalah korban empuk politik para agamawan yang seringkali “dibodohi” untuk meraup suara sebanyak-banyaknya sebagai tangga menuju kursi pemerintahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span lang="IN">Ini adalah realita yang kerap terjadi pada umat Islam di Indonesia, di mana Islam dijadikan sebagai amunisi ampuh untuk mengatur arah pergolakan perpolitikan di Indonesia. Bukan hanya para tokoh NU yang melakukannya, tindakan serupa juga dilakukan oleh para tokoh ormas-ormas keagamaan lainnya. Keadaan ini selain berimbas pada kestabilan sosial, ekonomi, dan politik, ia juga sangat berimbas pada nuansa keberagamaan di tanah air. Di sinilah relasi antara NU dan Islam di Indonesia acapkali disalahpahami atau sengaja salah untuk memahaminya. []</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/msubhanzamzami.wordpress.com/45/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/msubhanzamzami.wordpress.com/45/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msubhanzamzami.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msubhanzamzami.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msubhanzamzami.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msubhanzamzami.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msubhanzamzami.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msubhanzamzami.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msubhanzamzami.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msubhanzamzami.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msubhanzamzami.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msubhanzamzami.wordpress.com/45/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msubhanzamzami.wordpress.com&blog=3491531&post=45&subd=msubhanzamzami&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msubhanzamzami.wordpress.com/2008/06/14/nu-dan-islam-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e142ce265eb495fa16e7c3f6d1ab5ced?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">msubhanzamzami</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://msubhanzamzami.files.wordpress.com/2008/08/nu1.jpg?w=128" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Islam Perdana</title>
		<link>http://msubhanzamzami.wordpress.com/2008/06/07/islam-perdana-2/</link>
		<comments>http://msubhanzamzami.wordpress.com/2008/06/07/islam-perdana-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Jun 2008 15:51:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>msubhanzamzami</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islamic Thought]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msubhanzamzami.wordpress.com/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[Abstraksi Artikel ini menyorot seputar pergumulan Islam dengan nilai-nilai non-Islam yang ada ketika Muhammad hidup. Nilai-nilai di sini bisa berupa tradisi, keyakinan keagamaan dan sistem pemerintahan, baik berupa tradisi Arab dengan paganismenya, Kristen, Yahudi, kebudayaan serta peradaban lain yang ada di Jazirah Arabia dan sekitarnya yang turut serta bergumul dengan nilai-nilai Islam dan umat Islam. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msubhanzamzami.wordpress.com&blog=3491531&post=28&subd=msubhanzamzami&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><a href="http://msubhanzamzami.files.wordpress.com/2008/06/islam-perdana2.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-29" src="http://msubhanzamzami.files.wordpress.com/2008/06/islam-perdana2.jpg?w=92&#038;h=96" alt="Islam Perdana" width="92" height="96" /></a>Abstraksi </span></span></strong><em><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Artikel ini menyorot seputar pergumulan Islam dengan nilai-nilai non-Islam yang ada ketika Muhammad hidup. Nilai-nilai di sini bisa berupa tradisi, keyakinan keagamaan dan sistem pemerintahan, baik berupa tradisi Arab dengan paganismenya, Kristen, Yahudi, kebudayaan serta peradaban lain yang ada di Jazirah Arabia dan sekitarnya yang turut serta bergumul dengan nilai-nilai Islam dan umat Islam. Yang nantinya bisa dijadikan kunci utama memahami Islam dengan sempurna dari segi interaksinya dengan nilai-nilai non-Islam melalui pendekatan sosiologis-historis Jazirah Arabia periode kerasulan Muhammad.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span lang="IN"><span style="font-size:small;">Prolog</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">&#8220;Tidak ada perdamaian dunia, jika tidak ada perdamaian agama,&#8221; begitulah seloroh Hans Kung, seorang teolog Kristen kenamaan Jerman.<a name="_ftnref1" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference">1</span></a> Benarkah demikian? Mari kita renungkan sejenak, sehingga bisa menilai statemennya secara tepat. Kalau kita lihat bentangan sejarah agama-agama sejak ribuan tahun yang lalu, agaknya statemen Kung bisa dibenarkan. Ini terbukti dari <em>chaos</em> yang acapkali terjadi di tengah-tengah para pemeluk agama yang turut memberikan corak tersendiri bagi kehidupan manusia, bahkan turut mempengaruhi kebijakan politik para elit kekuasaan. Raja Namrudz ,misalnya, membakar Ibrahim hidup-hidup karena keyakinannya diobrak-abrik. Ramses II menguber Musa dan Harun karena kasus serupa. Itu masih pada kasus individu dengan penguasa. Sedangkan dalam kasus penguasa <em>versus</em> penguasa, kita bisa memberikan bukti lamanya pertentangan antara imperium Bizantium dengan kekaisaran Persia dengan dalih agama dan kekuasaan sebelum dan ketika Muhammad hidup.</span></p>
<p><span id="more-28"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Sebagai unsur utama suatu peradaban, agama seringkali menjadi penyulut sumbu perselisihan manusia. Sebagaimana tradisi, agama juga menawarkan pandangan hidup (<em>worldview</em>/ </span><em><span style="font-size:10pt;" lang="IN">weltanschauung</span></em><span lang="IN"><span style="font-size:small;">/ </span></span><em><span style="font-size:10pt;" lang="IN">weltansicht</span></em><span style="font-size:11pt;" lang="IN">)<a name="_ftnref2" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference">2</span></a> bagi pemeluknya. Karena agama tidak hanya satu alias bermacam-macam, tentu saja memberikan perbedaan pandangan yang berujung pada perbedaan tindakan pula. Setiap individu atau komunitas bertindak sesuai dengan keyakinan yang dipegang. Tidak ayal bila benturan pandangan hidup sering berujung pada perbenturan tindakan. Tidak hanya agama, tradisi pun sebagai pandangan hidup juga tidak kalah urgennya dibanding agama. Ia juga <em>kudu</em> bergumul dengan tradisi-tradisi lain dan seterusnya. Di sinilah pluralitas sebagai <em>sunnatullah</em> harus diberikan porsi yang sebenarnya. Sebagai sebuah keniscayaan dalam kehidupan ini, ia harus tetap dijaga dan dihormati. Jika tidak, jangan harap perdamaian dunia akan terwujud.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Lantas bagaimanakah cara terbaik yang telah diejawantahkan Muhammad saat menyerukan Islam sebagai agama semitik terakhir kepada masyarakat yang telah mempunyai pandangan hidup sendiri yang kokoh, di samping harus menyempurnakan serta menjadi saksi atas ajaran para utusan terdahulu, yang telah menjelma sebagai agama di tangan para pemeluknya (Yahudi dan Kristen)? <em>Nah</em>, dalam artikel ini, melalui pendekatan sosio-histo-teologis, penulis akan berusaha mengulas sedikit seputar respons Islam atas interaksi antarpemeluk (<em>inter-follower</em>) dan antarnilai (<em>inter-value</em>) dalam perspektif sejarah Islam awal di masa Muhammad. Kiranya ulasan ini akan sedikit membantu memahami Islam dengan sempurna serta mengungkap karakteristik fundamental syariah Islam dalam merespons realita yang ada, atau bisa dikatakan, merespons &#8220;nilai-nilai non-Islam&#8221;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span lang="IN"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><strong><span lang="IN">Arab Pra-Islam</span></strong><strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Jazirah Arabia bentuknya memanjang dan tidak parallelogram<strong>. </strong>Sebelah utara dibatasi oleh Palestina dan Padang Syam, sebelah timur oleh Hira, Dijla (Tigris), Furat (Euphrates), dan Teluk Persia, sebelah selatan oleh Samudera Hindia dan Teluk Aden, sedangkan sebelah barat oleh Laut Merah. Jadi, dari sebelah barat dan selatan daerah ini dibatasi oleh lautan, dari utara padang sahara, dan dari sebelah timur padang sahara dan Teluk Persia.<a name="_ftnref3" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference">3</span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Dalam kajian sosiologi, ada dua hal yang dapat mempengaruhi individu atau sebuah komunitas, yaitu letak geografis dan sistem peraturan masyarakat. Dengan adanya kenyataan ini, maka tidak heran bila penduduk Jazirah Arabia memiliki tradisi dan karakteristik yang berbeda dengan penduduk yang tinggal di daerah lain. Penduduk Arab sebelum kedatangan Islam di tangan Muhammad, masih tergolong masyarakat primitif, cepat terbawa emosi yang berujung pada tindakan kekerasan di mana pedang seringkali <em>kudu</em> menjadi hakim untuk menuntaskan perkara di antara mereka, berjiwa bebas yang menyebabkan mereka tidak mau tunduk pada sebuah kekuasaan kecuali pada kabilahnya dengan segenap loyalitas yang dimiliki dan lain sebagainya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Hal ini juga berimbas pada tatacara keberagamaan mereka yang sesuai dengan kadar pengetahuan mereka kala itu. Mereka sudah merasa puas dengan paganisme sebagai agama warisan turun-temurun dari nenek moyang seraya tidak tertarik pada kepercayaan lain semisal Yahudi yang ada di Yatsrib dan Kristen di Najd, kecuali hanya sebagian kecil dari mereka yang bisa menerimanya. Kehidupan sehari-hari, selain melayani berhala dan hidup berfoya-foya, mereka juga tangkas dalam dunia perdagangan. Sepanjang musim dingin mereka melakukan perjalanan ke Yaman, sementara saat musim dingin mereka ke Palestina sebagaimana diabadikan oleh al-Qur`an dalam surat Quraisy. Selama perjalanan itu, mereka mendapatkan jaminan keamanan dari para penguasa dari negeri-negeri yang dilaluinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Sebelum Muhammad lahir dan berlangsung hingga menjelang beliau wafat, Jazirah Arabia dikelilingi oleh dua kekuasaan raksasa, yaitu Imperium Bizantium sebagai penerus Imperium Romawi yang beragama Kristen dan Kekaisaran Persia yang beragama Majusi.<a name="_ftnref4" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference">4</span></a> Adapun sistem politik masyarakat Arab Jahiliah, kecuali kerajaan-kerajaan kecil di sebelah utara dan selatan, menurut sejarahwan kawakan dunia, Will Durant, adalah sistem primitif yang berasaskan pada ikatan kekerabatan dan terkumpul dalam suatu wadah kabilah. </span><span style="font-size:11pt;">Tidak ada suatu kesatuan ikatan politik sebelum era Muhammad kecuali penamaan Yunani yang kurang terperinci.<a name="_ftnref5" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference">5</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Ulasan di atas hanya ilustrasi singkat tentang Arab pra-Islam atau sebuah masa yang lazim disebut dengan masa Jahiliah. Menurut Ahmad Amin, Jahiliah di sini bukan berarti anti ilmu pengetahuan (<em>dhidh al-&#8217;ilm</em>), akan tetapi lebih tepat bila diartikan dengan kedunguan (<em>al-safah</em>), kemarahan (<em>al-g<span style="text-decoration:underline;">h</span>adhab</em>), dan kesombongan (<em>al-anafah</em>).<a name="_ftnref6" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference">6</span></a> Sementara Muhammad Abid al-Jabiri menyatakan, bahwa yang dimaksud Jahiliah bukan saja berarti kebodohan, melainkan juga segala yang menyertai kebodohan beserta hasilnya atau kesemrawutan dan tidak adanya seorang pemimpin masyarakat, baik pada tataran politik (negara) maupun akhlak (agama), yaitu masa suatu kebudayaan yang membentang sekitar 150 tahun sebelum Islam.<a name="_ftnref7" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference">7</span></a> <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Setelah Islam datang, ia harus bergumul dengan nilai-nilai Arab, Yahudi, Kristen, dan nilai-nilai lain yang ada di Jazirah Arabia dan sekitarnya. Realita ini wajar adanya, sebab dalam kajian sosiologi, agama-agama semitik, seperti Yahudi, Kristen dan Islam tergolong fenomena baru dalam sejarah dunia. Sebab bila dikomparasikan dengan usia kehidupan manusia, usia tiga agama ini masih terlalu belia atau hanya beberapa ribu tahun saja. Lantas bagaimanakah metode Islam <em>ala</em> Muhammad dalam merespons realita ini? Ulasan selanjutnya berkenaan dengan beberapa persoalan yang kiranya perlu diberi porsi perhatian lebih. Hemat Penulis, inilah salah satu metode memahami esensi dan karakteristik elementer syariah Islam dalam merespons pluralitas corak kehidupan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span lang="IN"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span lang="IN"><span style="font-size:small;">Islam <em>vis â vis</em> Arab</span></span></strong><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Berbekal sedikit ulasan sebelumnya tentang keeksisan serta kekokohan pelbagai sistem nilai di tengah-tengah penduduk Jazirah Arabia sebelum atau saat Islam datang, maka pada langkah selanjutnya, kita akan mengulas lebih rinci lagi seputar pergumulan antarnilai (<em>inter-value</em>) dan antarpemeluk (<em>inter-follower</em>) antara Islam dan Arab pada masa kerasulan Muhammad sekitar 14 abad silam. Ulasan ini bertolak dari tiga pendekatan sekaligus yaitu pendekatan sosio-histo-teologis, yang nantinya bisa sedikit membantu mengungkap persoalan arabisasi Islam yang kini masih dalam perdebatan hangat di kalangan ahli Islam. <span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN">1. Islam <em>versus</em> Tradisi Arab</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Kalau kita cermati syariah Islam (al-Qur`an dan sunnah), kita akan menemukan sisi-sisi adaptif, adadtatif dan fleksibelitasnya. Hal ini lumrah, karena syariah Islam tidak bisa lepas begitu saja dari sosio-kultural penduduk Arab abad VI M sebagai lahan pertama dakwah Islam. Sosio-kultural mereka tergambar secara vulgar di dalam gundukan tradisi kehidupan mereka sehari-hari, inilah realita pertama yang harus dihadapi Islam. Sebelum melangkah pada ulasan seputar adanya saling keterpengaruhan antara keduanya, ada baiknya bila terlebih dahulu kita mengetahui karakteristik fundamental syariah Islam. Muhammad Sa&#8217;id al-Asymawi, seorang mantan hakim agung Mesir, telah menguaraikannya secara global sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:10pt;" lang="IN">Pertama</span></em><span style="font-size:10pt;" lang="IN">, turunnya syariah terkait dengan adanya masyarakat beragama, adapun penerapannya tergantung kepada adanya masyarakat tersebut; <em>kedua</em>, syariah turun karena ada sebab-sebab yang menuntutnya, adapun sebab-sebab tersebut tidak senantiasa sepadan dengannya; <em>ketiga</em>, tujuan syariah adalah kemaslahatan umum bagi masyarakat, maka demi merealisasikan kemaslahatan tersebut, sebagian syariah menghapus sebagian lainnya, sedangkan relevansinya terikat dengan kemajuan dan perubahan; <em>keempat</em>, sebagian hukum syariah khusus bagi Nabi saja, dan sebagian lagi hanya khusus bagi suatu perkara; <em>kelima</em>, syariah tidak terlepas dari realita masa lalu, akar-akarnya terdapat dalam masyarakat di mana ia turun, bahkan ia juga mengambil kaidah serta tradisi masyarakat yang nantinya menjelma sebagai hukum Islam; <em>keenam</em>, agama telah sempurna, adapun kesempurnaan syariah terwujud pada konsistensi usahanya guna menyandingi konteks masyarakat, mengantar manusia pada nilai-nilai humanisme dan spirit alam.</span><a name="_ftnref8" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="IN"><span style="font-size:small;">8</span></span></span></a><span style="font-size:10pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Enam karakteristik syariah tersebut merupakan kunci serta fondasi seseorang untuk memahami Islam dengan baik. Kita bisa memanfaatkannya sebagai pisau analisa guna memahami syariah lebih mendalam serta menyandingkannya dengan tiga pendekatan yang telah dikemukakan sebelumnya. Pada langkah pertama, kita akan menerapkannya pada realita penduduk Arab beserta kekayaan tradisi mereka akan nilai-nilai kepercayaan, sosial kemasyarakatan, perpolitikan, hukum pidana dan lain sebagainya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Sebagaimana utusan-utusan sebelumnya, Muhammad diutus Tuhan kepada masyarakat dengan bahasa mereka. Karena dengan metode seperti ini, ajaran yang dibawa dan diserukan bisa dipahami dengan mudah (Qs. 14: 4). Tuhan memilih bahasa Arab sebagai media perantara guna membumikan seluruh ajaran-Nya. Sehingga benarlah orang yang berpandangan, bahwa ketika Tuhan memilih dan menggunakan bahasa manusia sebagai media perantara dengan mereka, maka untuk pertama kalinya, ajaran Tuhan yang pada mulanya bersifat meta-historis telah berubah menjadi historis, karena secara otomatis ia telah masuk pada kubangan sejarah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Kajian linguistik yang berkembang saat ini menyatakan, bahwa bahasa mempunyai peran signifikan dalam mempengaruhi pengguna bahasa tersebut. Melalui pendekatan linguistik, kita juga bisa memprediksikan ilmu pengetahuan yang sedang berkembang dalam suatu komunitas pada zaman tertentu.<a name="_ftnref9" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference">9</span></a> Bahasa (dialek) suku Quraisy Mekkah adalah bahasa terbaik di antara bahasa suku-suku di Jazirah Arabia ketika itu. Kemudian bahasa ini menjadi bahasa al-Qur`an dan salah satu syarat utama guna memahami Islam dengan baik. Meskipun di dalam al-Qur`an terdapat beberapa ayat yang dengan gamblang menyatakan bahwasanya bahasa al-Qur`an adalah murni bahasa Arab (Qs. 12: 2, 16: 103, 26: 195, 39: 28, 42: 7, 43: 3, 46:12), akan tetapi pada realitanya, bahasa-bahasa non-Arab juga banyak termaktub di dalamnya. Menurut Muhammad Sai&#8217;d al-Asymawi, <span> </span>bahasa-bahasa tersebut telah menjadi bahasa Arab atau dengan kata lain, orang-orang Arab telah menggunakannya ketika itu. Seperti kata <em>firdaws</em>, <em>qist<span style="text-decoration:underline;">h</span>âs<span style="text-decoration:underline;">h</span></em> dan <em>qint<span style="text-decoration:underline;">h</span>âr</em> berasal dari bahasa Yunani dan Latin, <em>zanjabîl</em> dari Persia, <em>nifâq</em>, <em><span style="text-decoration:underline;">h</span>awariyyîn</em> dan <em>burhân</em> dari Ethiopia, <em>misykât</em>, <em>s<span style="text-decoration:underline;">h</span>ub<span style="text-decoration:underline;">h</span></em> dan <em>bahâ`</em> dari Sinkritisme, <em>thûr</em>, <em>ifk</em>, <em>bâraka</em>, <em>tijârah</em>, <em>tannûr</em>, <em>stamma</em>, <em>jabbâr</em> dan <em><span style="text-decoration:underline;">h</span>annân</em> dari Aramea,<a name="_ftnref10" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn10"><span class="MsoFootnoteReference">10</span></a> sedangkan <em>jahannam</em>, <em>syaithân</em>,<em> </em>dan <em>iblîs </em>dari Yahudi.<a name="_ftnref11" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn11"><span class="MsoFootnoteReference">11</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Di samping merubah tatanan perekonomian dan politik, Islam juga merubah tatanan sosial, salah satunya dengan merubah beberapa pengertian kosa-kata serta membubuhinya dengan nilai-nilai baru Islam. Sekedar menyebutkan contoh, kata <em>ik<span style="text-decoration:underline;">h</span>wah </em>(persaudaraan) yang berkonotasi kekuatan dan kesombongan kesukuan, dirubah dengan memperkenalkan gagasan persaudaraan yang dibangun atas dasar keimanan yang lebih tinggi dari persaudaraan darah. Pun demikian kata <em>karâmah </em>(kemuliaan)<em> </em>yang sebelumnya bermakna memiliki banyak anak, harta dan karakter tertentu yang merefleksikan kelelakian, dirubah dengan memperkenalkan unsur ketakwaan, begitu juga kata <em>muruwwah </em>(penghormatan). Semua kata tadi mengalami perubahan pengertian saat Islam membumi, yang banyak berbeda dari pengertian sebelumnya di masa Jahiliah.<a name="_ftnref12" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn12"><span class="MsoFootnoteReference">12</span></a> Inilah respons Islam atas bahasa Arab. Barangkali di sana masih banyak contoh-contoh lainnya yang belum terungkap. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Melalui fakta ada atau tidak adanya perubahan pengertian kosa-kata bahasa Arab tertentu, maka secara natural adanya saling keterpengaruhan antara nilai-nilai Islam dengan nilai-nilai Arab tidak terbantahkan. Fokus ulasan selanjutnya adalah proses pembuktian seputar adanya saling keterpengaruhan tersebut, yang sisa-sisanya bisa ditemukan dalam khazanah tradisi Islam dan Arab paska pergumulan lama antara keduanya. Ulasan ini terdiri dari dua pembahasan: <em>pertama</em>, pengaruh Islam terhadap tradisi Arab; dan <em>kedua</em>, pengaruh tradisi Arab terhadap Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Pertama, pengaruh Islam terhadap tradisi Arab. Islam datang untuk merubah semua hal yang bertentangan dengan kehendak Tuhan dan nilai-nilai kemanusiaan. Inilah prinsip utama misi seluruh para nabi pra-Muhammad. Pergumulannya yang cukup lama dengan tradisi Arab pada masa Muhammad menimbulkan beberapa pergeseran tradisi Arab ke derajat yang lebih tinggi. Ajaran-ajaran Islam telah mengangkat derajat penalaran Arab, berpengaruh besar dalam merubah nilai barang dan akhlak mereka; sebagian nilainya kian tinggi sementara sebagian yang lain makin rendah. Seorang orientalis missionaris kenamaan, Ignaz Goldziher, menyatakan bahwasanya Islam mendesain kehidupan yang lebih tinggi daripada masa Jahiliah. Antara keduanya terdapat persamaan kendati perbedaannya lebih banyak. Menurutnya, dasar-dasar kemulian bagi masyarakat Arab pada zaman Jahiliah tergambar dari keberanian individualistik, kesetiaan tanpa batas, kemuliaan yang terlanjur berlebihan, loyalitas penuh terhadap kabilah, tidak pandang bulu saat balas dendam, membalas pihak yang melukainya atau kerabat dan kabilahnya baik dengan ucapan maupun perbuatan dan lain sebagainya. Sedangkan Islam mengajarkan taat kepada Tuhan serta perintah-Nya, sabar, memprioritaskan kepentingan agama daripada kepentingan pribadi, rasa menerima (<em>al-qanâ&#8217;ah</em>), tidak berbangga diri dan berfoya-foya, menjauhi dosa besar dan seterusnya.<a name="_ftnref13" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn13"><span class="MsoFootnoteReference">13</span></a> Jadi semua tradisi Arab tadi dan semua yang bertentangan dengan Islam, dimodifikasi dengan nilai-nilai baru Islam atau dirombak total secara gradual. <span> </span><span>      </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Kedua, pengaruh tradisi Arab terhadap Islam. Salah seorang yang telah mengkaji persoalan ini adalah Khalil Abdul-Karim dengan karya berharganya &#8220;<em>al-Judzûr at-Târîk<span style="text-decoration:underline;">h</span>iyah li as-Syarî&#8217;ah al-Islâmiyah</em>&#8220;. Dia menyatakan, memahami historisitas syariah Islam akan menghantarkan seseorang pada pemahaman yang baik tentang Islam.<a name="_ftnref14" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn14"><span class="MsoFootnoteReference">14</span></a> Statemen tersebut tentu ada benarnya juga, terlebih lagi jika kita mampu memudarkan segala prasangka negatif terhadap semua usaha untuk memaparkan apa adanya, walau harus melawan <em>mainstream</em> pemikiran umat Islam selama ini seraya tetap berusaha mengkajinya lebih kritis dan mendalam. Khalil Abdul-Karim mengangkat sebagian tradisi Arab yang diadapsi ( atau adopsi [?]) oleh Islam dan membaginya ke dalam lima kategori persoalan utama:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Pertama, simbol-simbol ibadah (<em>as-sya&#8217;â`ir at-ta&#8217;abbudiyah</em>). Seperti haji, umrah, mengagungkan Ka&#8217;bah, mengagungkan bulan Ramadhan, mengagungkan Ibrahim dan Isma&#8217;il, kumpul bareng pada hari Jum&#8217;at dan keharaman perang pada bulan-bulan suci.<a name="_ftnref15" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn15"><span class="MsoFootnoteReference">15</span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Kedua, simbol-simbol sosial (<em>as-sya&#8217;â`ir al-ijtimâ&#8217;iyah</em>). Seperti <span> </span><em>ruqyah</em> (mantra-mantra), <em>ta&#8217;âwîdz</em> (jampi-jampi), perhatian terhadap unta dan binatang ternak, poligami, pemisahan antara orang Arab dengan non-Arab (<em>&#8216;ajam</em>), perbedaan antara orang Arab kota dengan Arab badui, kepedulian terhadap pertanian dan pekerjanya, <em>ta&#8217;syîr</em>, <em>istijârah</em> (mencari perlindungan), <em>jiwâr</em> (perlindungan keamanan), penghormatan terhadap nasab dan terakhir adalah perbudakan.<a name="_ftnref16" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn16"><span class="MsoFootnoteReference">16</span></a> <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Ketiga, simbol-simbol hukum pidana (<em>as-sya&#8217;â`ir al-jazâ`iyah</em>). Seperti <em>&#8216;âqilah</em> (<em>diyat</em> yang ditanggung oleh kabilah &#8220;pembunuh&#8221; dalam perkara pembunuhan salah atau tidak sengaja (<em>al-qatl al-k<span style="text-decoration:underline;">h</span>atha` aw syibh al-&#8217;amd</em>), <em>qisâmah</em> (janji lima puluh penduduk suatu tempat perkara terjadinya pembunuhan tetapi pembunuhnya tidak diketahui, mereka dipilih oleh wali pihak terbunuh untuk berjanji bahwa mereka tidak membunuhnya dan tidak pula mengetahui siapa pembunuhnya, kemudian seluruh penduduk setempat itu dikenakan <em>diyat</em>).<a name="_ftnref17" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn17"><span class="MsoFootnoteReference">17</span></a> Begitu pula <em>qishâsh</em> (mengambil pembalasan yang sama), <em>diyat</em> (pembayaran sejumlah harta karena suatu tindak pidana terhadap suatu jiwa atau anggota badan), keharaman tiga tindakan pidana (<em><span style="text-decoration:underline;">h</span>udûd</em>) yaitu zina, mencuri dan meminum khamr.<a name="_ftnref18" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn18"><span class="MsoFootnoteReference">18</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Keempat, simbol-simbol peperangan (<em>as-sya&#8217;â`ir al-<span style="text-decoration:underline;">h</span>arbiyah</em>). Seperti <em>k<span style="text-decoration:underline;">h</span>ams al-ghanâ`im</em> (seperlima harta rampasan perang), <em>salb</em> (barang rampasan) dan <em>s<span style="text-decoration:underline;">h</span>afiyah</em> (rampasan perang khusus bagi komandan perang sebelum dibagikan kepada prajurit).<a name="_ftnref19" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn19"><span class="MsoFootnoteReference">1</span></a><span class="MsoFootnoteReference">9</span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Kelima, simbol-simbol perpolitikan (<em>as-sya&#8217;â`ir as-siyâsiyah</em>). Seperti <em>k<span style="text-decoration:underline;">h</span>ilâfah</em> (pengganti pemimpin) dan <em>syûrâ</em> (musyawarah).<a name="_ftnref20" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn20"><span class="MsoFootnoteReference">20</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Adapun tradisi yang berasal dari golongan <em><span style="text-decoration:underline;">H</span>unafâ` </em>yang ada sebelum Islam adalah menjauhi penyembahan berhala serta tidak mengikuti hari rayanya, pengharaman daging korban yang disembelih untuk berhala serta tidak memakannya, keharaman khamr dan hukuman bagi peminumnya, keharaman riba, keharaman zina berikut hukuman bagi pelakunya, <em>ta<span style="text-decoration:underline;">h</span>annuts</em> di gua Hira di bulan Ramadhan, memperbanyak perberbuatan baik dan memberi makan orang miskin sepanjang bulan Ramadhan, memotong tangan pencuri, keharaman memakan bangkai, darah dan daging babi, larangan mengubur anak-anak perempuan hidup-hidup serta membiayai pendidikan mereka, puasa, khitan, mandi besar, iman kepada hari berbangkit dari liang kubur, berkumpul di padang Mahsyar dan hisab bahwa yang berbuat kebaikan akan masuk surga dan yang berbuat kejelekan akan masuk neraka, iman kepada satu Tuhan dan berseru untuk menyembah-Nya.<a name="_ftnref21" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn21"><span class="MsoFootnoteReference">21</span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Itulah tradisi-tradisi Arab yang membekas pada Islam. Barangkali masih banyak contoh-contoh lain yang masih memerlukan riset lanjutan. Fakta ini tidaklah aneh, karena ketika seseorang mengkaji persoalan serupa dengan seksama, besar kemungkinan juga akan membuahkan kesimpulan serupa. Salah satu bukti kuatnya adalah firman Tuhan, &#8221; <em>Wa Kadzâlika Anzalnâhu <strong><span style="text-decoration:underline;">H</span>ukm-an &#8216;Arabiy-an..</strong>&#8230;.&#8221;</em>(Qs. 13: 37). Jadi kategorisasi karakteristik syariah Islam versi Muhammad Sa&#8217;id al-Asymawi tadi benar adanya, apalagi poin kedua dan kelima. Kiranya ulasan simpel perihal pengaruh tradisi Arab terhadap Islam atau sebaliknya adalah bukti pertama sifat adaptif, adaptatif dan fleksibelitas syariah Islam dalam merespons nilai-nilai non-Islam. Lantas bagaimana Islam <em>versus</em> paganisme di zaman Muhammad, apakah kasus serupa dialami oleh keduanya seperti halnya Islam <em>versus</em> tradisi Arab? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN">2. Islam <em>versus</em> Paganisme</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Salah satu pendapat menyatakan, bahwasanya asal mula paganisme bisa ditelusuri pada para pengikut Ibrahim. Diceritakan, saat itu ketika seorang menjauh dari Ka&#8217;bah dia mengambil batu dari batu Ka&#8217;bah lalu berputar mengelilinginya sebagaimana mengelilingi Ka&#8217;bah. Keadaan demikian terus berlangsung beberapa lama dan pada akhirnya mereka lupa akan ajaran Ibrahim malah berubah menyembah berhala. Menurut Ibn al-Kalabi, orang yang pertama kali merubah agama Isma&#8217;il adalah Amru bin Luhay. Pendapat ini disepakati oleh para sejahrawan selevel Ibn Hisyam dan al-Alusi.<a name="_ftnref22" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn22"><span class="MsoFootnoteReference">22</span></a> Tetapi pendapat ini agaknya kurang benar, dengan alasan ketika Ibrahim hidup beliau juga telah menghadapi masyarakat pagan di sekitarnya. Terlebih lagi ketika beliau harus menghadapi Namrudz, beliau dibakar hidup-hidup karena telah menghancurkan semua berhala objek penyembahan mereka kecuali berhala terbesar (Qs. 21: 52-71). Inilah suatu konsekuensi melawan <em>mainstream</em> adat-istiadat masyarakat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Saat Islam muncul, tradisi paganisme telah merajalela di Jazirah Arabia. Masyarakat Arab kala itu sudah merasa puas dengan keyakinan warisan turun temurun nenek moyang tersebut. Mereka menyembah berhala, menyajikan aneka ragam makanan kepadanya dengan harapan akan mendekatkan diri mereka kepada Tuhan. (Qs: 39: 3). Bentuk dan nama berhala-berhala itu bervariasi: (1) <em>S<span style="text-decoration:underline;">h</span>anam </em>(patung) berbentuk manusia dibuat dari logam atau kayu; (2) W<em>atsan </em>(berhala) juga dibuat dari batu; (3) <em>Nus<span style="text-decoration:underline;">h</span>ub </em>adalah batu karang tanpa suatu bentuk tertentu. Setiap kabilah melakukan ibadahnya sendiri-sendiri. Berhala-berhala tadi tersebar di mana-mana, seperti di dalam rumah, di dalam Ka&#8217;bah dan di luarnya, bahkan hampir di seluruh penjuru negeri Arab.<a name="_ftnref23" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn23"><span class="MsoFootnoteReference">23</span></a> Di kalangan masyarakat Arab, ada tiga berhala jenis <em>s<span style="text-decoration:underline;">h</span>anam</em> terkenal, yaitu Hubal berhala terbesar di dalam Ka&#8217;bah yang berbentuk manusia, Manat, Lata dan Uzza adalah berhala tertua. Tiga berhala terakhir menurut keyakinan orang-orang Jahiliah merupakan anak-anak perempuan Tuhan (Qs. 53: 19-20, 16: 57).<a name="_ftnref24" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn24"><span class="MsoFootnoteReference">24</span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Selain Yahudi dan Kristen, paganisme adalah keyakinan yang pertama kali dan paling sengit perselisihannya dengan Islam dan Muslimin sewaktu di Mekkah sebelum hijrah ke Madinah. Muhammad berusaha menyadarkan kaum pagan bahwa sesembahanya itu tidak akan memberi manfaat atau kemalangan sekalipun. Sekitar 3 tahun pertama, beliau berdakwah kepada kerabat dekat serta beribadah secara diam-diam, baru setelah tahun keempat dakwah secara terang-terangan dilakukan (Qs. 15: 94).<a name="_ftnref25" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn25"><span class="MsoFootnoteReference">25</span></a> Pertama-tama, selama dua hari berturut-turut beliau mengundang para kerabat dekat ke rumahnya, di sanalah beliau menyeru mereka memeluk Islam serta meninggalkan paganisme. Setelah itu seruannya dialihkan ke seluruh penduduk Mekkah.<a name="_ftnref26" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn26"><span class="MsoFootnoteReference">26</span></a> Biasanya bulan-bulan suci dimanfaatkannya guna menyebarkan Islam kepada para peziarah Arab yang datang ke Mekkah.<a name="_ftnref27" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn27"><span class="MsoFootnoteReference">27</span></a> Di samping juga beliau pernah pergi ke Bani Tsaqif di Tha`if untuk mendapatkan dukungan dan suaka dari Tsaqif buat masyarakatnya sendiri, dengan harapan mereka juga akan menerima Islam, walaupun mereka menolak bahkan sampai mencederainya.<a name="_ftnref28" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn28"><span class="MsoFootnoteReference">28</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Seruan Muhammad membuat para bangsawan Quraisy, suku yang paling sengit permusuhannya dengan Muslimin, berpikir. Merasa seruan itu merupakan bahaya besar bagi kedudukan mereka. Mula-mula mereka menyerangnya dengan cara mendiskreditkannya seraya mendustakan segala ajarannya. Langkah pertama dalam hal ini adalah membujuk penyair-penyair mereka: Abu Sufyan bin al-Harits, Amr bin Ash, dan Abdullah bin az-Ziba`ra agar mengejek Muhammad dan menyerangnya. Para penyair Muslim pun tampil membalas serangan mereka tanpa Muhammad sendiri yang harus melayaninya. Selain itu, mereka juga meminta beberapa mukjizat kepada beliau sebagai bukti kerasulannya, seperti mukjizat-mukjizat Musa dan Isa. Tidak cukup dengan itu, mereka mengejeknya dalam soal-soal mukjizat, malahan ejekan-ejekan mereka kian menjadi-jadi, mereka bertanya dan mendebat beliau seputar perkara gaib, di sanalah ayat ke-188 surah al-A&#8217;raf turun menanggapi mereka.<a name="_ftnref29" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn29"><span class="MsoFootnoteReference">29</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Muhammad pun mulai vulgar mencela berhala-berhala mereka, yang sebelumnya tidak pernah dilakoninya. Tindakan ini menjadi persoalan besar bagi Quraisy yang menusuk hati dan meluapkan perhatian serius mereka. Para bangsawan Quraisy lalu menemui Abu Thalib, paman sekaligus pembela Muhammad, demi membujuknya untuk menghentikan seruan kemenakannya itu, tetapi tiga kali berturut-turut Abu Thalib menolak bujuk rayu mereka.<a name="_ftnref30" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn30"><span class="MsoFootnoteReference">30</span></a> Pernah juga dia mengajak Muhammad menghentikan seruannya, tetapi dengan tegas beliau menolaknya.<a name="_ftnref31" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn31"><span class="MsoFootnoteReference">31</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Kala itu Muslimin masih lemah dan masih tidak berdaya untuk berperang, tidak bisa melawan Quraisy yang punya kekuasaan, harta, persiapan dan banyak jumlah mereka. Sementara Muhammad tidak punya apa-apa selain keimanan pada kebenaran yang diwahyukan padanya dan telah pula diserunya. Beliau meneruskan misinya, baginya lebih baik mati dengan membawa keimanan pada kebenaran itu daripada menyerah atau ragu-ragu.<a name="_ftnref32" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn32"><span class="MsoFootnoteReference">32</span></a> Sedangkan sikap permusuhan pihak Quraisy kian parah, mereka menyerang Muslimin, disiksanya mereka seraya dipaksa menanggalkan agamanya. Hampir serupa juga dialami Muhammad, beliau dicaci-maki, rumahnya dilempari batu, keluarganya diancam, bahkan hendak dibunuh. Tetapi dengan cobaan tersebut, beliau makin tabah, makin gigih meneruskan seruannya dan semua dihadapinya dengan sabar.<a name="_ftnref33" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn33"><span class="MsoFootnoteReference">33</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Lantaran semua usaha tadi dianggap tidak berhasil, terpikir oleh Quraisy untuk mencari cara lain, yaitu menyuguhi Muhammad segala keiinginannya, baik berupa harta maupun pangkat sosial asalkan beliau mau menghentikan seruannya. Usaha ini juga tidak berhasil, mereka kembali memusuhi Muhammad dan Muslimin dengan menimpakan pelbagai bencana. Melihat siksaan pihak Quraisy kian membengkak, Muhammad menyarankan sebagian pengikutnya untuk hijrah ke Abissinia. Terdiri dari sebelas orang pria dan empat wanita, mereka pun hijrah ke sana dengan diam-diam demi mendapatkan perlindungan. Di Abissinia mereka mendapat tempat yang baik dari sorang Negus Kristiani, Ashhamah bin Abhar, hingga paska Muhammad hijrah ke Yatsrib.<a name="_ftnref34" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn34"><span class="MsoFootnoteReference">34</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Saat para pemuka Quraisy menyadari segala macam tekanannya tidak berhasil meluluhkan Muslimin, mereka menggunakan cara lain memusuhi Muslimin, yaitu dengan cara memboikot mereka. Kaum pagan itu memboikot Bani Hasyim dan Bani Muthallib dengan memutuskan hubungan, berbai&#8217;at dan mengasihi mereka hingga mereka menyerahkan Muhammad kepada para pemuka Quraisy dalam keadaan terbunuh. Akhirnya Muslimin memutuskan hijrah ke Abissinia untuk yang kedua kalinya.<a name="_ftnref35" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn35"><span class="MsoFootnoteReference">35</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Begitulah sekilas ulasan mengenai Islam dan paganisme di Mekkah saat permulaan dakwah Islam. Kendati keduanya pernah bergumul, tetapi dua-duanya berbeda dan tidak akan pernah bersatu. Mereka pernah adu kekuatan dalam satu medan peperangan hebat, perang Badr (623 M), perang terbesar Muslimin <em>versus</em> kaum pagan sekaligus penentu tegaknya Islam di dunia pada babak selanjutnya, selain perang Uhud, Khandaq, Hunayn dan beberapa peperangan lainnya. Tetapi mereka juga pernah mengadakan perjanjian Hudaibiya (Maret 628), yang disetujui bersama oleh kedua belah pihak. Permusuhan mereka terus berlangsung hingga pembebasan Mekkah, yaitu setelah pihak Quraisy melanggar perjanjian Hudaibiya. Salah satu teladan Muhammad adalah pemberian amnesti pada pihak Quraisy paska pembebasan Mekkah, beliau membiarkan mereka tetap pada keyakinannya tanpa menuntut balas dendam atas perlakuan kasar mereka terhadap Muslimin pra-hijrah ke Yatsrib.<a name="_ftnref36" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn36"><span class="MsoFootnoteReference">36</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Di sinilah kita bisa memahami karakteristik ayat-ayat<em> </em>Makkiyah yang lebih bercorak perihal penegasan keesaan Tuhan, anjuran memerangi kesalahan kepercayaan kaum pagan Mekkah dan sekitarnya, menetapkan risalah, kebangkitan dari alam kubur, kiamat dan kengeriannya, neraka dan siksanya, surga dan kenikmatannya, mendebat kaum musyrik melalui penalaran rasio serta tanda-tanda penciptaan, menaruh dasar-dasar umum legislasi dan keutamaan-keutamaan akhlak sebagai sandaran masyarakat, menyingkap kriminalitas kaum musyrik, pertumpahan darah, memakan harta anak yatim secara dzalim, mengubur anak perempuan hidup-hidup, curang dalam timbangan, cerita para nabi dan umat terdahulu dan lain sebagainya.<a name="_ftnref37" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn37"><span class="MsoFootnoteReference">37</span></a> Pelbagai karakteristik ini sesuai dengan penduduk Mekkah yang mayoritas menyembah berhala dan berkepribadian keras kepala. Fakta ini merupakan bukti kedua bahwa syariah Islam bersifat adaptif, adaptatif dan fleksibel karena tidak bisa lepas begitu saja dengan <em>setting</em> sosio-kultural penduduk Arab abad VI M.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span lang="IN"><span style="font-size:small;">Islam <em>vis â vis</em> Yahudi</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Setelah mengulas seputar Islam dan paganisme, ulasan selanjutnya seputar Islam <em>versus</em> Yahudi. Mengiringi ulasan sebelumnya, ulasan ini juga dititikberatkan kepada persoalan seputar interaksi antarnilai (<em>inter-value</em>) dan antarpemeluk<span>  </span>(<em>inter-follower</em>) antara Islam dengan Yahudi yang terjadi pada masa kerasulan Muhammad, yaitu dengan menggunakan tiga pendekatan sosio-histo-teologis sekaligus.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Ada dua pendapat terkuat mengenai Yahudi sebagai agama semitik atau bukan. <em>Pertama</em>, ia adalah agama <em>samawi</em> yang dibawa oleh Musa (Moses) kepada Bani Isra`il tetapi telah diselewengkan oleh para pendeta mereka atau pengikutnya. Demi meneguhkan pendapat ini, para pendukungnya biasa melabuhkan argumen mereka pada teks-teks keagamaan yang ada (Qs. 2: 75,79, 4: 46, 5: 13). Pendapat ini mendominasi pemikiran mayoritas Muslimin. <em>Kedua</em>, ia bukan agama semitik yang dibawa oleh Musa atau utusan-utusan Tuhan yang lain. Dengan argumentasi, bahwa Islam bukanlah agama yang lebih senior daripada Yahudi dan Kristen, dan juga bukan lebih muda ataupun sama dengan agama-agama lain di dunia ini. Pada faktanya, Islam adalah satu-satunya agama <em>samawi</em> yang secara benar dianugerahkan kepada manusia untuk setiap masa dan tempat. Pada dasarnya, Islam sangat berbeda dengan Yahudi dan Kristen. Dialah satu-satunya agama <em>samawi</em> yang dibawa oleh semua nabi-nabi terdahulu, baik Ibrahim, Musa ataupun Isa. Dengan datangnya Nabi terakhir, Muhammad, agama <em>samawi</em> ini akhirnya disahkan Tuhan sebagai agama-Nya, dengan nama &#8220;Islam&#8221;.<a name="_ftnref38" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn38"><span class="MsoFootnoteReference">38</span></a> Dua pendapat di atas hingga kini masih dalam perdebatan sengit di kalangan para ahli dan belum mencapai sebuah kesepakatan.<span>  </span><span> </span><span> </span><span> </span><strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Lepas dari perdebatan semacam itu, kaum Yahudi dan Kristiani mempunyai kedudukan khusus dalam pandangan Muslimin karena agama mereka adalah pendahulu agama kaum Muslim (Islam). Dengan kata lain, umat Islam mempercayai bahwa agama mereka adalah kelanjutan dan penyempurnaan dari dua agama tersebut. Inti yang disampaikan Tuhan kepada Muhammad adalah sama dengan inti ajaran yang disampaikan kepada semua nabi. Oleh karena itu, sesungguhnya seluruh umat pemeluk agama Tuhan adalah umat yang tunggal. Akan tetapi pembetulan dan penyempurnaan selalu diperlukan dari waktu ke waktu, sampai akhirnya tiba saatnya tampilnya Muhammad. Menurut al-Qur`an, ajaran-ajaran kebenaran itu dalam proses sejarah<span>  </span>mengalami pelbagai bentuk penyimpangan (Qs. 42: 13, 23: 53, 3: 84-85, 3: 64).<a name="_ftnref39" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn39"><span class="MsoFootnoteReference">39</span></a> Persoalannya kini adalah bagaimanakah pola penyikapan mereka atas perbedaan doktrin yang membentang luas antara mereka, yang turut berimbas pada pola interaksi antara pemelukya dalam kehidupan sehari-hari.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Menurut Akbar. S. Ahmed, ada suatu hubungan ideologis dan teologis yang erat antara Kristen, Yahudi dan Islam: ketiga-tiganya percaya pada gagasan satu Tuhan; mereka juga percaya bahwa kita adalah makhluk hidup yang untuk sementara ditaruh di dunia ini dan bahwa ada pertanggungjawaban terhadap tindakan-tindakan kita, setelah hidup. </span><span style="font-size:11pt;">Al-Qur`an berulang-ulang menunjukkan bahwa Yahudi dan Kristen adalah &#8216;Ahli Kitab&#8217;, bahwa kitab-kitab asli mereka berasal dari Tuhan. Jadi, bagi Islam nabi-nabi Yahudi dan Kristen juga nabi-nabi Islam. Nabi-nabi Islam mulai dari Adam, dan termasuk Nuh (Noah), Ibrahim (Abraham), Isma&#8217;il (Ishmael), Ishak (Isac), Luth (Lot), Yakub (Jacob), Yusuf (Joseph), Musa (Moses), dan Ayyub (Job). Bahkan ada suatu hubungan silsilah dengan Yahudi: Yahudi mengklaim leluhurnya Ibrahim melalui anaknya Ishak sementara orang-orang Arab mengklaim leluhurnya melalui anak Ibrahim yaitu Isma&#8217;il</span><span style="font-size:11pt;" lang="IN">.<a name="_ftnref40" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn40"><span class="MsoFootnoteReference">40</span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Kaum Yahudi di Jazirah Arabia merupakan imigran yang besar, kebanyakan mereka tinggal di Yaman dan Yatsrib. Mengenai awal mula kedatangan mereka ke Jazirah Arabia telah melahirkan perdebatan panjang di kalangan para ahli sejarah: <em>pertama</em>, pada zaman Dawud; <em>kedua</em>, pada zaman Raja Hazqiyal yang memerintah negeri Yahudza dari tahun 717 hingga 690 SM; <em>ketiga</em>, hijrah besar-besaran kaum Yahudi ke Jazirah Arabia terjadi pada abad pertama M setelah diusir oleh orang-orang Romawi pada tahun 70 M.<a name="_ftnref41" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn41"><span class="MsoFootnoteReference">41</span></a> Ajaran-ajaran Yahudi di sana telah banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Yunani, begitu pula infiltrasi sebagian prinsip-prinsip undang-undang Romawi.<a name="_ftnref42" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn42"><span class="MsoFootnoteReference">42</span></a> Sependek wawasan penulis, sejarah perihal pergumulan Islam dengan Yahudi di Mekkah tidak sebanyak dan seseru di Yatsrib paska hijrahnya Muslimin ke sana. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Di Mekkah nasib mereka seperti umat Kristiani, jumlah mereka sedikit dan hanya terdiri dari budak. Barangkali penyebabnya adalah adanya peraturan kala itu yang tidak mengizinkan seorang pun dari Ahli Kitab memasuki Mekkah kecuali tenaga kerja yang tidak akan bicara tentang agama atau kitabnya atau sistem penduduk Mekkah yang merujuk pada sistem kabilah, maka tempat tinggal mereka pun jauh dari Ka&#8217;bah malah sudah berbatasan dengan sahara. Kala itu pembicaraan seputar akan datangnya seorang Nabi di tengah-tengah orang Arab waktu itu sudah cukup membuat heboh mereka.<a name="_ftnref43" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn43"><span class="MsoFootnoteReference">43</span></a> Saat bulan-bulan suci tepatnya di Ukadz, daerak dekat Mekkah, sebagaimana kaum pagan dan Kristen, kaum Yahudi bebas juga bebas menyerukan agama mereka.<a name="_ftnref44" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn44"><span class="MsoFootnoteReference">44</span></a> Besar kemungkinan, sebagian dari mereka tinggal atau pernah singgah di Mekkah dalam rangka perdagangan atau pekerjaan-pekerjaan lain dan juga menyaksikan perseteruan Islam <em>versus</em> paganisme. Karena data penulis seputar Islam dan Yahudi di Mekkah kurang memadahi, kita beranjak pada pembahasan tersebut yang meletup di Madinah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Kaum Yahudi di Yatsrib terdiri dari tiga suku besar, yaitu Bani Nadhir, Bani Qaynuqa dan Bani Quraydzah. Mereka menetap dan berkembang di sana beberapa abad lamanya sebelum kedatangan Islam. Adapun Islam sudah tersebar pula di sana sebelum Muhammad dan Muslimin hijrah ke kota itu.<a name="_ftnref45" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn45"><span class="MsoFootnoteReference">45</span></a> Sewaktu mereka tiba di sana, kaum Yahudi dan musyrik menyambut kedatangan mereka dengan baik.<a name="_ftnref46" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn46"><span class="MsoFootnoteReference">46</span></a> Pihak Yahudi berbuat demikian dengan dugaan mereka akan dapat membujuknya sekaligus merangkulnya ke pihak mereka, serta dapat pula diminta bantuannya membentuk sebuah Jazirah Arabia, dengan demikian mereka dapat membendung penyebaran Kristen. Selain mereka yakin lahan dakwah Muhammad tidak akan meliputi mereka, mereka juga saat itu masih terpecah-belah yang memaksa mereka tidak terburu-buru menyatakan permusuhannya terhadap Muslimin seraya menanti waktu yang tepat untuk itu.<a name="_ftnref47" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn47"><span class="MsoFootnoteReference">47</span></a> Bertolak dari pertimbangan serupa, kaum musyrik sisa-sisa suku Aus dan Khazraj berbuat serupa seperti kaum Yahudi.<a name="_ftnref48" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn48"><span class="MsoFootnoteReference">48</span></a> Di balik itu secara diam-diam, sebagian kaum Yahudi sudah berniat jahat terhadap dakwah Islam sejak awal mula kedatangan Muhammad di Yatsrib, beliau pun telah menyadarinya.<a name="_ftnref49" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn49"><span class="MsoFootnoteReference">49</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Di Yatsrib (kemudian dirubah menjadi Madinah), Muhammad memulai fase perpolitikan baru dengan tujuan meletakkan dasar kesatuan politik dan organisasi yang sebelumnya belum pernah dikenal di seluruh wilayah Hijaz,<a name="_ftnref50" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn50"><span class="MsoFootnoteReference">50</span></a> yaitu dengan cara mengadakan kesepakatan dengan pihak Yahudi atas landasan kebebasan dan persekutuan yang amat kuat. Beliau berbicara serta mendekati pemuka-pemuka mereka dan membentuk suatu ikatan persahabatan dengan pertimbangan, bahwa mereka adalah Ahli Kitab dan kaum monotheistis. Perjanjian ini berisi pengakuan atas kebebasan beragama, harta beda benda mereka dengan syarat-syarat timbal balik, kebebasan menyatakan pendapat, larangan berbuat kejahatan, bersama-sama memerangi orang yang melanggarnya serta memerangi pihak yang menyerang Madinah dan menanggung biaya peperangan itu atau lain sebagainya.<a name="_ftnref51" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn51"><span class="MsoFootnoteReference">51</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Pada tahun pertama Muhammad di Madinah, jaminan kebebasan yang sama dalam menganut kepercayaan, menyatakan pendapat dan menjalankan propaganda agama, beliau berikan kepada semua umat beragama. Beliau sadar betul, hanya dengan kebebasanlah yang akan menjamin dunia ini mencapai kebenaran dan kemajuannya dalam menuju kesatuan yang integral dan terhormat.<a name="_ftnref52" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn52"><span class="MsoFootnoteReference">52</span></a> Namun setelah berselang beberapa waktu, pihak Yahudi mulai merasa cemas karena ajaran-ajaran Muhammad serta teladan dan bimbingannya telah meninggalkan pengaruh yang mendalam ke dalam jiwa, sehingga tidak sedikit orang berdatangan menyatakan masuk Islam dan Muslimin makin bertambah kuat di Madinah. Diperparah ketika Abdullah bin Sallam, seorang pendeta Yahudi, menyatakan diri masuk Islam, sejak saat itu kaum Yahudi dan musyrik berkomplot terhadap Muhammad menolak kenabiannya. Polemik pun meledak antara Muslimin dengan kaum Yahudi yang ternyata lebih bengis dan licik daripada polemik dengan kaum Quraisy di Mekkah. Mereka menyerang Muhammad, risalah serta para sahabatnya dengan menggunakan intrik-intrik melalui para pendeta mereka, ilmu tentang sejarah dan peristiwa masa lampau mengenai para nabi dan rasul, mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan menimbulkan perselisihan di kalangan Muslimin. Mereka mendebat Muhammad seputar kenabiannya, Ibrahim dan <em>millah</em>-nya, kenabian Isa, penghapusan hukum (<em>nasakh</em>), perubahan kiblat dari Masjid al-Aqsha ke Ka&#8217;bah, kehalalan dan keharaman makanan dan keistimewaan Masjid al-Haram.<a name="_ftnref53" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn53"><span class="MsoFootnoteReference">53</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Tidak cukup dengan menimbulkan insiden antara Muhajirin dengan Anshar dan Aus dengan Khazraj dan tidak cukup pula dengan membujuk Muslimin supaya meninggalkan Islam dan kembali ke musyrikan tanpa mengajak mereka menganut Yahudi, pihak Yahudi itu mulai berusaha memperdaya Muhammad melalui pemuka-pemuka mereka. Dengan tujuan, Muslimin akan keluar meninggalkan Madinah sebagaimana mereka meninggalkan Mekkah.<a name="_ftnref54" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn54"><span class="MsoFootnoteReference">54</span></a> Mereka melakukannya secara diam-diam selain karena dikhawatirkan kepentingan perdagangan mereka akan kacau bila sampai berkobar perang saudara antara penduduk Madinah, mereka juga masih memelihara perjanjian perdamaian dengan Muslimin. Muslimin menyadari semuanya, Muhammad pun tidak hanya tinggal diam dan mulai bertindak tegas.<a name="_ftnref55" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn55"><span class="MsoFootnoteReference">55</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Ketika berita kemenangan Muslimin dalam perang Badr melawan kaum Quraisy datang, kaum musyrik dan Yahudi merasa terpukul sekali. Mereka berusaha meyakinkan diri mereka dan Muslimin kesalahan berita itu.<a name="_ftnref56" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn56"><span class="MsoFootnoteReference">56</span></a> Dampak perang Badr terlihat jelas dan erat kaitannya dengan kehidupan umat Islam di Madinah. Kaum Yahudi dan musyrik merasakan sekali bertambahnya kekuatan dan kewibawaan Muslimin, yang hampir menguasai seantero penduduk Madinah. Mereka mulai menggencarkan permusuhan terhadap Muslimin, malah kini bukan hanya termotivasi oleh faktor agama tetapi sudah merambah ke faktor politik. Sayangnya, Muhammad sudah mengetahui semua rahasia dan berita itu.<a name="_ftnref57" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn57"><span class="MsoFootnoteReference">57</span></a> Sehingga ancang-ancang langkah selanjutnya sudah pula dipikirkannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Paska pembunuhan Abu &#8216;Afak, Ashma&#8217; binti Marwan dan Ka&#8217;b bin Asyraf, pihak Yahudi kian mencemaskan nasib mereka. Diperparah oleh tindakan memalukan seorang Yahudi terhadap seorang wanita Arab yang sedang berbelanja di pasar Bani Qaynuqa, yang harus merenggut nyawa seorang Yahudi dan Muslim. Perkara ini menjelma sumbu peledak pertikaian antara mereka, Muslimin pun mengepung kaum Yahudi Bani Qaynuqa selama lima belas hari berturut-turut, akhirnya mereka menyerah dan <em>kudu</em> meninggalkan Madinah (624 M). Pengusiran ini mempersurut kekuasaan Yahudi di sana, sebagian besar kaum Yahudi yang disebut-sebut dari Madinah ini, mereka tinggal jauh di Khaybar dan Wadi&#8217;il-Qura. Apalagi setelah Muhammad menghalalkan darah mereka sesudah kejadian itu, yaitu pada tahun kedua paska hijrah. Oleh karenanya, mereka berbicara lama dengan beliau yang kemudian diputuskan untuk mengadakan perjanjian bersama dan menghormati isinya.<a name="_ftnref58" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn58"><span class="MsoFootnoteReference">58</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Di sela-sela itu perang Uhud pecah antara Muslimin dan pihak Quraisy, di mana dalam perang itu Muslimin menderita kekalahan. Kekalahan ini turut mempengaruhi kancah perpolitikan di Madinah. Diperkeruh lagi oleh malapetaka yang menimpa Muslimin di Raji` dan Bi`ir Ma&#8217;una yang turut mengikis kewibawaan mereka di mata kaum Yahudi dan musyrik. Bani Qaynuqa telah dikepung dan diusir dari Madinah, kini giliran Bani Nadzir menerima perlakuan serupa karena telah melanggar isi perjanjian dengan Muslimin (625 M). Tindakan ini dilakukan Muslimin karena eksistensi mereka di sana akan memotivasi, menimbulkan bibit-bibit fitnah, mengajak golongan munafik untuk mengangkat kepala setiap melihat pihak Muslimin mendapat bencana dan mengancam timbulnya perang saudara bila ada musuh menyerang Muslimin. Suasana Madinah menjadi tenteram setelah Bani Nadhir meninggalkan<span>  </span>kota itu. Yang penting dicatat di sini, sekretaris Muhammad paska hijrah hingga kejadian ini adalah orang Yahudi. Dengan tujuan, memudahkan pengiriman surat-surat dalam bahasa Ibrani dan Asiria.<a name="_ftnref59" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn59"><span class="MsoFootnoteReference">59</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Babakan selanjutnya, para pemuka Bani Nadhir berencana menghasut masyarakat Arab. Mereka minta bantuan kerjasama dari Quraisy dan Ghatafan. Setelah kesepakatan terajut, mereka bersatu-padu dengan 10.000 bala tentara (pasukan Ahzab) hendak memerangi Muslimin. Karena kekuatan musuh super jumbo, maka dengan usulan Salman al-Farisi Muslimin menggali parit di sekitar Madinah sebagai strategi perang. Musuh pun tidak bisa menembus parit itu, mereka hanya bertahan lama tidak jauh dari sana. Akhirnya mereka membujuk Bani Quraydzah supaya bersatu dan melanggar perjanjian mereka dengan Muslimin, karena dengan cara ini, mereka akan dapat menembus masuk Madinah. Muslimin mendengar perkara tersebut, dengan langkah cepat Muhammad mengutus delegasi kepada mereka. Adu mulut pun pecah antara delegasi Muslimin dengan Bani Quraydzah, mereka memilih berkhianat, bergabung dengan pasukan Ahzab dan membukakan jalan bagi mereka bahkan memberi bala bantuan dan makanan kepada sekutu barunya.<a name="_ftnref60" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn60"><span class="MsoFootnoteReference">60</span></a> Di sekitar parit, hanya gesekan kecil saja yang meletus antara pasukan Ahzab dan Muslimin. Kini Muhammad mulai mendedahkan strategi, selain mengutus delegasi ke Ghatafan dengan menjanjikan mereka sepertiga hasil buah-buahan Madinah asalkan mau pergi meninggalkan tempat itu, beliau juga mengutus Nu&#8217;aim bin Mas&#8217;ud untuk mengadudomba Bani Quraydzah dengan Qurays dan Ghatafan. Intrik-intrik Nu&#8217;aim berhasil memecahbelah persekutuan mereka. Pihak Quraisy tidak percaya Bani Quraidzah lagi, sedangkan Ghatafan selain berpikiran serupa dengan Quraisy, ia juga maju mundur karena terbuai oleh janji Muslimin. Pada suatu malam, kencangnya angin topan disertai hujan lebat dengan gemuruh petir dan halilintar, merusak kemah-kemah Quraisy yang akhirnya membuat mereka memutuskan untuk kembali ke Mekkah.<a name="_ftnref61" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn61"><span class="MsoFootnoteReference">61</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Karena ulahnya, Bani Quraydzah <em>kudu</em> menanggung akibatnya. Muslimin mengepung mereka selama dua puluh lima malam, selama pengepungan terjadi bentrokan kecil antara kedua belah pihak. Menyadari keterbatasannya, Bani Quraydzah mengutus orang kepada Muhammad dengan permintaan untuk mengirimkan Abu Lubaba dari Aus kepada mereka untuk dimintai pendapatnya. Muhammad menyetujuinya dan mereka pun berunding dengan keputusan mereka akan pergi ke Adhri`at, tetapi beliau menolaknya. Oleh karena itu, mereka minta bantuan kepada Aus yang akhirnya mampu merubah keputusan Nabi, beliau meminta seorang untuk menengahi persoalan tersebut. Bani Quraydzah memilih Sa&#8217;ad bin Mu&#8217;adz, mereka berunding dengan keputusan, mereka harus turun dari benteng, meletakkan senjata, bagi pelaku kejahatan perang dari mereka dijatuhi hukuman mati, harta benda dibagi, wanita dan anak-anak ditawan (627 M).<a name="_ftnref62" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn62"><span class="MsoFootnoteReference">6</span></a><span class="MsoFootnoteReference">2</span><span style="background:yellow;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Muhammad masih khawatir sekiranya nanti Heraklius atau Kisra datang meminta bantuan Yahudi Khaybar yang merupakan koloni Isra`il yang terkuat dengan persenjataan terkuat pula, atau dendam lama dalam hati mereka itu akan bangkit kembali, atau juga mengingatkan mereka kepada nasib saudara seagama mereka, Bani Qaynuqa. Wajar sekali mereka akan mengadakan pembalasan bila saja mereka mendapatkan bala bantuan dari pihak Heraklius. Selain itu beberapa utusan mereka telah memperkuat pasukan Ahzab dalam perang Khandaq. Setelah kalahnya pasukan Ahzab, mereka juga berkomplot dengan Bani Ghatafan dan orang-orang Arab badui untuk memerangi Muslimin. Kalau memang demikian, kekuasaan mereka harus ditumpas habis secepatnya, sehingga mereka sama sekali tidak akan bisa lagi mengadakan perlawanan di negeri-negeri Arab. Beliau memerintahkan seribu tujuh ratus Muslimin menyerbu Yahudi Khaybar. Akan tetapi pihak Yahudi Khaybar memang sudah menantikan penyerangan ini, mereka pun bersiap-siap dan meminta bantuan Ghatafan. Sebelum perang meledak, Muslimin sudah menewaskan pemimpin-pemimpin Yahudi Khaybar. Kedua belah pihak sudah berhadap-hadapan di sekitar benteng Natat dan pertempuran mati-matian akhirnya meletus. Pihak Yahudi Kahybar terpaksa mundur dan mereka terkepung selama beberapa hari di dalam sebuah benteng. Muslimin berhasil menerobos benteng Qamush itu dan perang pun berkobar di antara mereka. Akhirnya benteng-benteng mereka satu demi satu jatuh ke tangan Muslimin. Sejak itulah Yahudi Khaybar mulai putus asa dan minta damai, permintaan ini dikabulkan. Muhammad memperlakukan mereka tidak sama seperti Yahudi Bani Qaynuqa dan Bani Nadhir karena dengan jatuhnya mereka, beliau merasa terjamin dari bahaya mereka dan yakin bahwa mereka tidak akan bisa melawan lagi. Selain itu di sana juga terdapat beberapa perkebunan, ladang dan kebun-kebun kurma yang masih memerlukan tenaga ahli untuk mengurusnya.<a name="_ftnref63" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn63"><span class="MsoFootnoteReference">63</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Setelah itu, Muhammad mengutus seorang ke Yahudi Fadak supaya mereka menerima seruannya dan menyerahkan harta benda mereka. Mengetahui kejadian di Khaybar, mereka merasa ketakutan dan persetujuan pun diadakan dengan menyerahkan separuh harta mereka tanpa pertempuran. Sesudah itu Muslimin hendak kembali ke Madinah melewati Wadi&#8217;l Qura. Tetapi kaum Yahudi di sana sudah menyiapkan diri hendak menyerang mereka, pertempuran pun pecah akan tetapi pihak Yahudi terpaksa menyerah dan minta damai. Sebaliknya Yahudi Tayma` bersedia membayar <em>jizyah</em> tanpa peperangan. Persetujuan antara Muslimin dengan Yahudi Bani Ghazia dan Bani &#8216;Aridz juga tercipta bahwa mereka akan memperoleh perlindungan (<em>dzimmah</em>) dan mereka dikenakan pajak. Dengan demikian semua kaum Yahudi tunduk kepada kekuasaan Muhammad.<a name="_ftnref64" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn64"><span class="MsoFootnoteReference">64</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Dengan ini, kekuatan dan kewibawaan Muslimin kian bertambah di Madinah. Orang-orang munafik tidak berani bersuara lagi. Semua masyarakat Arab sudah mulai berbicara tentang kekuatan dan kekuasaan Muslimin. Sedangkan Muslimin merasa lega setelah pihak Yahudi di sekitar Madinah dapat dibersihkan, mereka pun tidak punya apa-apa dan hanya bertahan selama enam bulan di sana. Mereka bersama Muslimin menyusun suatu masyarakat Arab dengan cara yang belum mereka kenal sebelumnya di bawah naungan Islam. Dalam waktu singkat, Islam telah membukakan jalan dalam meletakkan bibit kebudayaan, yang kemudian tersusun dari peradaban Persia, Romawi, Mesir, serta diwarnai dengan pola peradaban Islam.<a name="_ftnref65" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn65"><span class="MsoFootnoteReference">65</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"><span> </span><span>                                                                                                                                                                                   </span><span>                                                        </span><span>       </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Dari ulasan di atas dapat disimpulkan bahwa pertentangan antara Muslimin dengan kaum Yahudi di Madinah lebih dipicu oleh faktor politik ketimbang faktor teologis. Maka sudah sewajarnya, bila ayat-ayat al-Qur`an yang turun di Madinah lebih terwarnai dengan pembeberan kemunafikan Yahudi serta bahayanya, perdebatan dengan Ahli Kitab, menyingkap kriminalitas mereka dalam merubah kitab suci, pensyariatan perang dan lain sebagainya.<a name="_ftnref66" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn66"><span class="MsoFootnoteReference">66</span></a> Walaupun demikian, Muhammad acapkali tetap menghormati mereka serta keyakinannya, tidak pernah mengusik jalannya ritual-ritual keagamaan Yahudi. Inilah ilustrasi ajaran Islam sesungguhnya sebagai agama penebar kasih sayang dan anti segala tindak kekerasan dan kelaliman. Di sini pula kita dituntut untuk memahami ayat al-Qur`an dan Hadits versi Madinah dengan konteks kesejarahannya. Karena tidak sedikit dari keduanya yang berbau politis seirama dengan kancah politik di Madinah atau sekitar Jazirah Arabia. Jika ini tidak dilakukan, maka ketimpangan pemahaman rentan terjadi yang akan menimbulkan dampak serius bagi umat Islam. <span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><strong><span lang="IN">Islam <em>vis â vis</em> Kristen</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Setelah mengurai pergumulan Islam dengan Yahudi, kita beralih pada pembahasan seputar Islam dan Kristen yang juga tergolong kaum Ahli kitab selain Yahudi. Pembahasan ini sama dengan pembahasan sebelumnya, yaitu lebih memberikan porsi penekanan pada interaksi antarpemeluk (<em>inter-follower</em>) dan interaksi antarnilai (<em>inter-value</em>) antara Islam dan Kristen pada zaman Muhammad. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Sebagaimana Yahudi, perdebatan perihal Kristen sebagai agama <em>samawi</em> atau bukan juga masih dalam perdebatan. Persoalan ini tidak akan kita bahas secara detail di sini karena kurang cocok dengan pembahasan kita kali ini. Persoalannya senada dengan Yahudi, asumsi dominan yang berkembang di kalangan mayoritas umat Islam saat ini, bahwasanya Kristen adalah agama yang dibawa oleh Isa (Yesus) yang telah diselewengkan oleh para pengikutnya. Umat Kristiani saat ini meyakini bahwa ajaran mereka bermuara dari satu muara dengan Islam yaitu Tuhan. Tidak heran bila di samping terdapat beberapa perbedaan prinsipil antara keduanya, di sana juga beberapa kesamaan doktrin dapat ditemukan. <span>  </span><span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Di Jazirah Arabia sebelum dan saat Muhammad hidup, umat Kristiani berjumlah banyak. Sebagaimana ajaran Yahudi, ajaran Kristen di sana telah terpengaruhi oleh kebudayaan Yunani. Di Jazirah Arabia terdapat dua sekte Kristen yang tersebar yaitu sekte Nestorian dan Yakobit. Yang pertama tersebar di Hirah sedangkan yang kedua tersebar di Ghassan dan seluruh kabilah Syam. Umat Kristiani juga mendiami daerah Aila (Elath), Dawmat al-Jandal, Tayma`, tetapi kota terpenting bagi umat Kristiani adalah Najran yang bersekte Yakobit dan punya relasi lebih besar dengan Abissinia (Habasyah) daripada dengan Romawi.<a name="_ftnref67" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn67"><span class="MsoFootnoteReference">67</span></a> Menurut Will Durant, umat Krsitiani di Mekkah hanya sedikit.<a name="_ftnref68" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn68"><span class="MsoFootnoteReference">68</span></a> Mereka terpecah dalam dua sekte, yaitu Nestorian dan Monofisit (Yakobit dan Copt). Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, sedikitnya jumlah mereka di sana mungkin disebabkan oleh adanya peraturan kala itu yang tidak memperbolehkan seorang pun dari Ahli Kitab memasuki Mekkah, kecuali tenaga kerja yang tidak akan bicara tentang agama atau kitabnya. Lantaran sistem masyarakat di Mekkah kala itu merujuk pada sistem kabilah, maka tempat tinggal mereka pun jauh dari Ka&#8217;bah malah sudah berbatasan dengan sahara.<a name="_ftnref69" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn69"><span class="MsoFootnoteReference">69</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Seperti kaum pagan dan Yahudi, mereka juga mempunyai hak untuk mendakwahkan Kristen kepada semua orang setiap bulan-bulan suci di Ukadz.<a name="_ftnref70" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn70"><span class="MsoFootnoteReference">70</span></a> Dalam buku-buku sejarah, kisah-kisahnya seringkali diwarnai seputar relasi dekat Muhammad dengan Waraqah bin Nawfal, seorang Kristiani yang banyak tau tentang Injil dan diduga telah menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab.<a name="_ftnref71" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn71"><span class="MsoFootnoteReference">71</span></a> Pun demikian, kisah-kisah perbincangan mereka tentang akan datangnya seorang nabi di Jazirah Arabia, semisal pertemuan Muhammad dengan seorang pendeta, Buhaira, di Bushra (Bostra) saat perjalanan pertamanya ke Syam dan kisah-kisah lain mengenai relasi beliau dengan umat Kristiani. Acapkali pihak non-muslim atau lebih &#8220;canggihnya&#8221; para orientalis, memanfaatkan kisah-kisah kayak ini untuk menguatkan tuduhan mereka terhadap orisinalitas ajaran-ajaran Islam yang tertuang di dalam al-Qur`an, sehingga turunlah ayat ke 103 surah al-Nahl.<a name="_ftnref72" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn72"><span class="MsoFootnoteReference">72</span></a> <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Suasana interaksi Islam dengan Kristen di Mekkah tidak begitu panas seperti ia dengan paganisme. Selain kaum pagan, kaum Yahudi dan Kristiani juga pernah singgah di kediaman Muhammad demi mendengarkan seruannya. Disebabkan kegigihan dan keelokan bahasanya, segelintir orang dari mereka datang dan menerima seruannya.<a name="_ftnref73" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn73"><span class="MsoFootnoteReference">73</span></a> Menurut Heribert Busse, interaksi keduanya tidak seseru antara Islam dan Yahudi. Pada mulanya Muhammad sangat baik kepada umat Kristiani, tetapi paska hijrah ke Madinah hubungan antara keduanya kian memburuk. Pada tahun 614 M yaitu sekitar empat tahun dari dakwahnya, Muhammad berhubungan baik dengan umat Kristiani. Pada waktu itu Romawi Timur yang beragama Kristen kalah dalam perang melawan Persia yang beragama Majusi, tetapi dalam kesempatan yang sama ayat dari surah al-Rum turun dan menegaskan bahwa kelak beberapa tahun yang akan datang Romawi Timur akan mengalahkan Persia.<a name="_ftnref74" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn74"><span class="MsoFootnoteReference">74</span></a> <em>Nah</em>, Pada tahun 625 M ternyata al-Qur`an benar, Heraklius menang melawan Persia. Kala itu umat Muslim dan Kristiani amat gembira dengan berita kemenangan itu. Hubungan persaudaraan antara mereka yang menjadi pengikut Muhammad dan yang percaya kepada Isa, selama hidup Muhammad, besar sekali, meskipun antara keduanya sering terlibat dalam perdebatan.<a name="_ftnref75" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn75"><span class="MsoFootnoteReference">75</span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Sewaktu Muslimin ditimpa pelbagai siksaan dan tekanan dari Quraisy, Muhammad memerintah mereka hijrah ke Abissinia (Habasyah/ Ethiopia) yang mayoritas penduduknya beragama Kristen dan di bawah kekuasaan Negus Kristiani, Ashhamah bin Abhar, yang waktu itu menjadi sekutu Rumawi Timur dan memegang panji Kristen di Laut Merah. Inilah bukti pertama atas relasi dakwah Muhammad dengan jaringan-jaringan di luar Jazirah Arabia.<a name="_ftnref76" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn76"><span class="MsoFootnoteReference">76</span></a> Di sana interaksi antara umat Muslim dan Kristiani sangat harmonis, selama di sana pula Muslimin merasa aman dan tentram. Negus pernah menolak delegasi Quraisy untuk mengembalikan Muslimin ke Mekkah.<a name="_ftnref77" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn77"><span class="MsoFootnoteReference">77</span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Pada masa permulaan Islam, umat Kristiani pernah mendebat Muslimin seputar konsep trinitas. Umat Kristiani seluruh Jazirah Arabia dengan bermacam-macam alirannya mengajak Muhammad berdebat menurut dasar aliran-aliran tersebut. Namun yang perlu digarisbawahi di sini, perdebatan antara mereka berjalan dengan baik, mereka baru terlibat permusuhan politik sejak pasukan Rumawi dipukul mundur oleh Muslimin di perang Tabuk.<a name="_ftnref78" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn78"><span class="MsoFootnoteReference">78</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Dari Mekkah kita beranjak ke Madinah. Saat sengit-sengitnya polemik antara Muhammad dengan kaum Yahudi paska hijrah ke Madinah, delegasi Kristen Najran tiba di sana yang terdiri dari enam puluh buah kendaraan. Boleh jadi kedatangan mereka ke sana karena mendengar adanya polemik itu dan berusaha mengobarkannya sampai menjadi permusuhan terbuka. Ini berarti tiga agama itu sekarang telah berkumpul dalam pertarungan teologis. Kejadian ini sampai sekarang saling mempengaruhi perkembangan dunia. Di sana ketiganya bertemu demi suatu tujuan dan cita-cita yang tinggi dan mulia. Ini bukanlah suatu pertemuan ekonomi, juga bukan suatu tujuan materi tetapi semata-mata hanya tujuan rohani. Muhammad mengajak mereka memeluk Islam. Umat Kristiani diajak saling berdoa (<em>mubahalah</em>) (Qs. 3: 61). Sedangkan waktu itu Muslimin dengan Yahudi sudah ada perjanjian perdamaian.<a name="_ftnref79" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn79"><span class="MsoFootnoteReference">79</span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Pertempuran antara Muslimin dengan Romawi yang beragama Kristen juga pernah terjadi ketika Muhammad masih hidup, yaitu ketika beliau hendak menyebarkan ajarannya ke luar semenanjung Arab. Ceritanya begini, perhatiannya tertuju pada Syam dan sekitarnya yang pada waktu itu masih dalam kekuasaan Romawi. Beliau mengutus tiga ribu orang ke sana yang kemudian berhadapan dengan seratus ribu tentara Romawi yang terdiri dari orang Yunani dan Arab di Mu`ta. Ahli sejarah bersilang pendapat mengenai penyebab ekspedisi Muhammad yang dikenal dengan ekspedisi Mu`ta dan merupakan pendahuluan perang Tabuk, tetapi kita tidak akan membahasnya di sini. Menurut sebuah pendapat, pasukan Romawi dipimpin langsung oleh Heraklius tetapi ada juga yang berpendapat bahwa mereka dipimpin oleh saudaranya, Theodore. Di peperangan ini, masing-masing menarik diri pasukannya, atau bisa dikatakan antara keduanya tidak ada yang menang ataupun menderita kekalahan.<a name="_ftnref80" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn80"><span class="MsoFootnoteReference">80</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Penarikan mundur ini meninggalkan kesan bagi Romawi, Muslimin, dan Quraisy. Ini karena kecermelangan strategi perang Khalid bin al-Walid. Oleh karena itu pula, seorang komandan pasukan Romawi, Farwa bin &#8216;Amr al-Judhami menyatakan masuk Islam yang akhirnya dibunuh dan Islam makin luas tersebar di kalangan kabilah-kabilah Najd yang berbatasan dengan Irak dan Syam yang ketika itu Romawi sedang berada di puncak kekuasaannya di daerah itu. Dengan bertambah banyaknya orang masuk Islam, Kerajaan Bizantium makin goyah kedudukannya. Peristiwa Mu`ta itu pula yang telah memudahkan persoalan Muslimin di bagian utara Madinah sampai ke perbatasan Syam dan telah membuat Islam lebih terpandang dan kuat. Karenanya ribuan orang masuk Islam dari kabilah Sulaim, Asyja&#8217;, &#8216;Abs, Dhubyan, Fazara dan Ghatafan yang dulu pernah bersekutu dengan Yahudi sampai hancurnya Yahudi di Khaybar. Tetapi kejadian ini pula meyebabkan pihak Quraisy meremehkan Muslimin dan melanggar perjanjian Hudaibiyah.<a name="_ftnref81" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn81"><span class="MsoFootnoteReference">81</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Berselang beberapa waktu setelah itu, terdengar kabar bahwa Romawi sedang bersiap-siap menyerang perbatasan tanah Arab sebelah utara. Dengan segera Muhammad menyerukan seluruh Muslimin dengan pasukan sebesar mungkin untuk menghadapinya. Pasukan yang dikenal dengan pasukan &#8216;Usra itu pun berangkat hingga ke Tabuk. Setelah mendengar besarnya pasukan musuh, pihak Romawi merasa getir dan menarik<span>  </span>mundur pasukannya yang tadinya telah dikerahkan ke perbetasan untuk melindungi Syam. Muhammad mendengar kabar ini dan memutuskan untuk menetap di perbatasan, menjaganya serta menghadapi siapa saja yang akan menyerangnya. Di sana Muhammad mengirim surat ke seorang amir Aila (Elath), Youhanna bin Ru&#8217;ba, yang akhirnya memeluk Islam dan membuat kesepakatan perdamaian, begitu pula dengan Jarba&#8217; dan Adhruh dengan membayar <em>jizyah</em>.<a name="_ftnref82" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn82"><span class="MsoFootnoteReference">82</span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Dengan ekspedisi Tabuk ini maka selesailah amanat Tuhan diajarkan ke seluruh Jazirah Arabia, Muhammad sudah merasa aman dari setiap permusuhan yang akan ditujukan kepada Islam. Utusan-utusan dari pelbagai daerah sekarang datang menghadap kepadanya dengan menyatakan sekali kesetiaanya serta mendeklarasikan pula keislamannya. Inilah ekspedisi terakhir bagi Muhammad. Sesudah itu beliau menetap di Madinah seraya menikmati karunia pemberian Tuhan padanya.<a name="_ftnref83" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn83"><span class="MsoFootnoteReference">83</span></a> Umat Kristiani juga hidup berdampingan dengan Muslimin di Najran hingga peristiwa pengusiran mereka pada masa kekhilafahan Umar bin Khattab yang menyebabkan mayoritas dari mereka hijrah ke Irak.<a name="_ftnref84" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn84"><span class="MsoFootnoteReference">84</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Telah diungkapkan di atas, bahwa antara Muslimin dan umat Kristiani telah terjadi perdebatan mengenai perbedaan doktrin dalam agamanya masing-masing, sebagaimana terekam di dalam al-Qur`an. Pada masa Muhammad, keduanya terlibat dalam dua pertentangan sekaligus, yaitu pertentangan teologis dan pertentangan politik. Adapun pertentangan politik di antara mereka baru terjadi ketika Muslimin menghadapi Romawi di Mu`ta dan Tabuk. Setelah itu, Muhammad melindungi mereka seraya tetap memberikan kebebasan penuh untuk menjalankan aneka ritual keagamaan dengan konskuensi membayar sedikit pajak.<a name="_ftnref85" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn85"><span class="MsoFootnoteReference">85</span></a> Jadi apakah gerangan pengaruh Islam atas Kristen? Pengaruhnya tergambar dalam dua hal: <em>pertama</em>, pada ketangkasan dakwah Muhammad yang tergambargan dari kelembutan dan keelokan bahasanya; <em>kedua</em>, keunggulan kekuasaan Muslimin yang berdampak pada ranah politik dan ranah-ranah lainnya. <span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Setelah mengetahui karakter kaum Yahudi dan Kristen pada masa Muhammad, tidak heran jika kita temukan di dalam al-Qur`an beberapa metode guna mengajak mereka memeluk Islam. <em>Pertama</em>, mengajukan bukti atas kebenaran Muhammad, yaitu dengan cara mengingatkan mereka bahwa Muhammad adalah Nabi yang mereka temukan secara tertulis di dalam Taurat dan Injil (Qs. 7:156-158), mengingatkan mereka bahwa Muhammad adalah Nabi yang diberitakan Isa (Qs. 61: 6), menunjukkan mereka bahwa Muhammad adalah seorang yang dengannya mereka minta bantuan kepada Tuhan untuk memenangkan mereka atas &#8220;kaum kafir&#8221; dan menunjukkan mereka bahwa al-Qur`an membenarkan kitab-kitab suci terdahulu. <em>Kedua</em>, menunjukkan mereka bahwa ajaran yang diserukan Muhammad pada dasarnya sama dengan ajaran yang diserukan para nabi terdahulu (Qs. 42: 13, 21: 25). <em>Ketiga</em>, membuat mereka tertarik untuk memeluk Islam dengan metode yang lembut dan bijaksana atau tepat (<em>al-maw&#8217;idzah al-<span style="text-decoration:underline;">h</span>asanah</em>) (Qs. 3: 64, 5: 15-16 dan 19). <em>Keempat</em>, memperingati mereka dengan siksaan yang akan datang secara cepat atau lambat jika mereka tidak mengikuti Muhammad (Qs. 4: 47-48, 8: 24). <em>Kelima</em>, memberitahukan mereka bahwa perselisihan mereka dalam persoalan agama disebabkan oleh kelaliman dan kedengkian (Qs. 3: 19, 45: 17, 42: 14). <em>Keenam</em>, mengabari mereka bahwa al-Qur`an memberitakan yang benar mengenai perselisihan mereka (Qs. 27: 76). <em>Ketujuh</em>, mengajukan bukti kepada mereka dengan meminta mereka untuk menjadi saksi atas kebenaran Muhammad (Qs. 10: 94).<a name="_ftnref86" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn86"><span class="MsoFootnoteReference">86</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Tidak hanya itu, kita bisa menemukan ekspresi-ekspresi keadilan Islam terhadap dua golongan Ahli Kitab tersebut, yaitu mendeskripsikan mereka sebagai Ahli Kitab (kaum yang memiliki kitab suci) (Qs. 3: 98-99, 28: 52-54), keadilan hukum-hukum al-Qur`an atas mereka (Qs. 2: 83, 3: 113-115), mendebat mereka dengan baik (Qs. 29: 46), membolehkan mengkonsumsi makanan mereka serta menikahi (perempuan) mereka (Qs. 5: 5), <span> </span>menerima <em>jizyah</em> mereka serta tidak menerimanya dari kaum musyrik (Qs. 9: 29) dan berinteraksi dengan mereka berdasarkan asas &#8220;<em>lahum mâ lanâ wa &#8216;alayhim mâ &#8216;alaynâ</em>&#8220;.<a name="_ftnref87" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn87"><span class="MsoFootnoteReference">87</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span lang="IN"><span style="font-size:small;">Islam <em>vis â vis </em>Para Penguasa </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN">1. Islam dan Pemuka Quraisy</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Karena pada masa Muhammad Islam juga berhadapan dengan para penguasa, maka ulasan berikutnya lebih difokuskan pada sikap Islam terhadap mereka yang pernah berinteraksi dengan Muslimin. Hal ini juga bisa membantu kita memahami Islam dengan baik. Dengan alasan, tidak sedikit ayat al-Qur`an atau Hadits yang berlatar belakang politis yang terjadi pada abad VI M. Jadi, di sinilah seorang Muslim dituntut untuk menafsirkan ayat-ayat politis secara kontekstual seirama dengan spirit zaman masing-masing. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Ketika Muhammad lahir hingga peristiwa pembebasan Mekkah, Mekkah sebagai medan awal dakwah Islam dikuasai oleh suku Quraiys. Pada awal mulanya, Muhammad menyerukan Islam kepada orang-orang terdekat secara diam-diam. Lambat-laun ajarannya sampai di telinga para pemuka Quraisy, mereka berang lantaran merasa sembahan-sembahan mereka telah dilecehkan dan posisi sosial mereka juga telah terancam. Merasa berkuasa dan lebih kuat, mereka senantiasa menekan Muslimin dengan menimpakan bermacam-macam penyiksaan serta berbagai cara busuk lainnya. Saat menghadapi mereka, Muhammad bertindak tegas serta tidak mau berkompromi sedikitpun mengenai kepercayaan, beliau tegar dan begitu pula Muslimin. Beberapa kali beliau ditawari kenikmatan duniawi asalkan mau berhenti berdakwah, tetapi beliau mengenyahkannya. Karena tidak mempunyai kekuatan, beliau memanfaatkan bulan-bulan suci untuk berdakwah, lantaran saat itu segala peperangan dilarang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Tekanan Quraisy kian berlarut-larut, sementara Muslimin kala itu hanya komunitas kecil yang tidak berdaya untuk melawan, hanya keimanan senjata mereka. Mereka cuma bisa bersabar dan melawan <em>ala</em> kadarnya. Akhirnya demi kemaslahatan Islam dan pemeluknya, Muhammad memilih menyingkir dengan keimanan di dada dengan menyuruh Muslimin untuk hijrah ke Abissinia, sebuah kerajaan dengan mayoritas penduduk beragama Kristen,<a name="_ftnref88" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn88"><span class="MsoFootnoteReference">88</span></a>yang di bawah kekuasaan Negus Kristiani, Ashhamah bin Arhab. Karena antara Muhammad dengan raja itu telah terikat tali persahabatan, maka wajar bila Muhammad meminta bantuan kepadanya untuk melindungi Muslimin di sana. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN">2. Islam dan Para Penguasa</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Menurut Heribert Busse, pada awalnya Muhammad dengan umat Kristiani terikat dalam suatu relasi yang baik, tetapi paska hijrah ke Madinah relasi baik kian memburuk.<a name="_ftnref89" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn89"><span class="MsoFootnoteReference">89</span></a> Sebagaimana di singgung sebelumnya, relasi Muhammad dengan mereka di luar Jazirah Arabia juga terjalin dengan baik, yaitu relasi baik beliau dengan Negus penguasa Abissinia yang tergambar dari adanya surat-menyurat dan kerjasama keduanya.<a name="_ftnref90" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn90"><span class="MsoFootnoteReference">90</span></a> Memang benar pada awal mula kedatangan Islam terjadi perdebatan antara Muslimin dengan umat Kristiani, tetapi bentrokan Muhammad dengan para pemuka Kristen di Mekkah yang berujung pada adu kekuatan para pengikutnya tidak pernah terjadi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Paska hijrah ke Madinah, mendekati para pemuka Yahudi dan kaum musyrik dan sempat berbicara panjang lebar yang akhirnya membuahkan perjanjian perdamaian dengan kaum Yahudi, kendati pada saat itu kaum Yahudi Bani Quraydzah, Bani Qaynuqa&#8217; dan Bani Nahdir tidak ikut serta menandatanganinya, tetapi tidak terlalu lama setelah itu mereka membuat perjanjian serupa dengan Muhammad.<a name="_ftnref91" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn91"><span class="MsoFootnoteReference">91</span></a> Seringkali Muhammad membuat perjanjian semacam itu dengan mereka, <em>toh</em> meskipun mereka sering <em>bandel</em> melanggarnya yang berujung pada pengusiran mereka dari Madinah. Selain itu pula, seringkali terjadi debat teologis antara Muhammad dengan para pemuka Yahudi. Pernah suatu ketika salah seorang pemuka Yahudi, Abdullah bin Sallam, bertanya kepada beliau tentang tiga perkara yang akhirnya bisa membuatnya percaya kepada Muhammad seraya tidak segan-segan memeluk Islam. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Ketika kekuasaan Islam di Madinah mulai menguat, Muhammad mengirim surat melalui utusan-utusannya kepada para penguasa di sekita Jazirah Arabia. Seperti ke Heraklius penguasa Romawi, Kisra penguasa Persia, Muqauqis penguasa Koptik di Mesir, Negus di Abissinia, Harith al-Ghassani penguasa Hira, Harith al-Himyari penguasa Yaman dan lain sebagainya. Surat kepada Heraklius dibawa oleh Dihya bin Khalifa, surat kepada Kisra dibawa oleh Abdullah bin Hudhafa, surat kepada Negus dibawa oleh &#8216;Amr bin Umayya, surat kepada Muqauqis dibawa oleh Hatib bin Abi Balta`a, surat kepada penguasa Omman dibawa oleh &#8216;Amr bin al-&#8217;Ash, surat kepada penguasa Yamamah dibawa oleh Salit bin &#8216;Amr, surat kepada raja Bahrain dibawa oleh al-A&#8217;la bin al-Hadhrami, surat kepada Harith al-Ghassani, raja perbatasan Syam, dibawa oleh Syuja&#8217; bin Wahb, surat kepada Harith al-Himyari, raja Yaman, dibawa oleh Muhajir bin Umayya. Isi semua surat itu adalah mengajak mereka memeluk Islam.<a name="_ftnref92" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn92"><span class="MsoFootnoteReference">92</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Tanggapan terhadap surat itu beragam. Setelah dibacakan di depan Heraklius, dia tidak geram atau murka dan tidak pula berencana hendak mengirim angkatan perangnya menyerbu negeri-negeri Arab. Sebaliknya surat itu dibalasnya dengan baik sekali. Dalam waktu bersamaan Harith al-Ghassani menerima surat serupa, setelah itu dia meminta persetujuan Heraklius untuk menyerang Muhammad, tetapi dia tidak menurutinya. Adapun Kisra raja Persia setelah membaca surat itu, dia murka sekali dan menyobeknya. Sepucuk surat itu dikirimnya kepada Bazan, penguasanya di Yaman dengan perintah agar kepala Muhammad segera dibawa kepadanya. Bazan pun mengirim utusan dengan sepucuk surat ke Muhammad dan ketika itu beliau telah mendengar kabar bahwa Kisra telah diganti oleh putranya Syiruya (Kavadh II) dan memberitahukannya kepada utusan-utusan Bazan itu dan diperintahya mereka menjadi utusan-utusannya kepada Bazan untuk memeluk Islam. Dengan senang hati Bazan pun menerima ajakan Muhammad dan tetap menjadi penguasa Muhammad di Yaman. Jawaban Muqauqis tidak sama dengan Kisra, malah lebih indah daripada jawaban Heraklius. Dia mengatakan kepada Muhammad bahwa dia memang percaya akan datang seorang Nabi, tetapi di Syam bukan di Mekkah. Muqauqis menyambut utusan itu dengan segala penghormatan sebagaimana mestinya. Kemudian dia mengirim hadiah melalui utusan itu berupa dua orang dayang-dayang, seekor bagal putih, seekor himar, sejumlah harta dan bermacam-macam produksi Mesir. Seorang dari dayang-dayang itu, Maria, dinikahi Muhammad. Sebagaimana kita ketahui adanya hubungan amat baik antara Negus di Abissinia dengan Muslimin, maka sudah wajar jika balasan suratnya juga akan amat baik. Tetapi di samping surat yang berisi ajakan untuk memeluk Islam disertai pula sepucuk surat lain dengan permintaan supaya Muslimin yang ada di sana dapat dikembalikan ke Madinah. Dalam hal ini, Negus telah menyiapkan dua bua kapal yang akan mengangkut mereka ke Madinah. Sebaliknya, penguasa-penguasa Arab, baik mereka yang dari Yaman atau Oman membalas surat Muhammad itu dengan amat kasar, sementara penguasa Bahrain membalasnya dengan baik dan masuk Islam. Sebaliknya penguasa Yamamah, dia memperlihatkan kesediaanya untuk masuk asalkan diangkat menjadi gubernur. Karena ambisinya itu, Muhammad mengutuknya.<a name="_ftnref93" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn93"><span class="MsoFootnoteReference">93</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Apakakah gerangan yang bisa dipetik dari ulasan tersebut? Ternyata Muhammad tidak pernah gentar menghadapi para penguasa dalam mendakwahkan Islam. Beliau tetap berpegang pada sisi-sisi kelembutan dan tidak pernah memaksa mereka untuk memeluk Islam. Hubungan diplomasi yang digunakan juga tidak tanggung-tanggung, yaitu langsung kepada para penguasa. Barangkali beliau yakin, bahwa cara seperti ini cukup ampuh untuk mendakwahkan Islam melalui jaringan-jaringan politik. Karena sebagaimana jamak diketahui pengaruh politik juga sangat signifikan terhadap penyebaran agama apapun dan di manapun. Dan yang perlu dicatat di sini, bahwa kekuasaan Islam kala itu sudah menguat sehingga dampak negatif yang akan timbul juga tidak akan begitu parah. Barangkali! <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span lang="IN"><span style="font-size:small;">Epilog</span></span></strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> <span> </span></span><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Islam datang bukan hanya mengobati persoalan ekonomi dan sosial masyarakat Arab, tetapi juga dalam rangka mengatur seluruh aspek hubungan manusia di seantero dunia. Ulasan makalah ini menggambarkan alangkah beratnya misi Muhammad dalam menyerukan Islam kepada masyarakat yang telah memiliki multi nilai.<a name="_ftnref94" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn94"><span class="MsoFootnoteReference">94</span></a> Pada faktanya, Islam mampu mengakomodasi semuanya dengan bijaksana, ia tidak mengenyahkan atau mengadopsinya secara hitam putih. Inilah pola penyikapan yang telah diejawantahkan Islam pada masa Muhammad. Konsekuensi tetap saja ada, seirama para reformis ulung lainnya, Muhammad juga menghadapi pelbagai tantangan berat selama perjuangannya menyerukan Islam dalam rangka mereformasi semua aspek kehidupan. Sebagai contoh, dalam aspek sosial tidak ada seorang reformis pun yang tidak merasakan beratnya merubah adat-istiadat suatu masyarakat, apalagi merubah keyakinan (agama) mereka.<a name="_ftnref95" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn95"><span class="MsoFootnoteReference">95</span></a> Tidak aneh bila selama Muhammad hidup, pertentangan antara kebenaran dan kebatilan tidak kunjung usai. Tercatat enam puluh lima kali peperangan antara Muslimin <em>versus</em> penentangnya, dua puluh tujuh kali di antaranya dipimpin langsung oleh beliau.<a name="_ftnref96" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn96"><span class="MsoFootnoteReference">96</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Pertentangan demi pertentangan yang terjadi bukan hanya disebabkan oleh faktor teologis, tetapi juga oleh faktor-faktor lain dan inilah yang disebut dengan sistem nilai. Menurut Philip K. Hitti, Islam bisa dilihat dalam tiga aspek, yaitu sebagai agama, negara dan kebudayaan.<a name="_ftnref97" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn97"><span class="MsoFootnoteReference">97</span></a> Adapun nilai-nilai yang dimaksud berada dalam tiga aspek Islam tersebut. <em>Pertama</em>, Islam sebagai agama. Dalam ranah ini, Islam <em>kudu</em> berhadapan dengan agama-agama lain, nilai-nilai dalam setiap agama pasti ada persamaan dan perbedaan. Di sini Islam mengoreksi segala kesalahan sekaligus menjadi saksi kebenaran ajaran agama lain, sebagaimana yang terjadi antara Islam dengan paganisme, Yahudi, Kristen dan lain sebagainya. <em>Kedua</em>, Islam sebagai negara. Doktrin Islam ada yang berdimensi politis, maka wajar jika Muslimin acapkali melabuhkan sistem politik mereka kepadanya. Pada masa Muhammad, Islam harus menghadapi segala kekuatan yang menentangnya, tercatat beberapa benturan kekuatan antara Islam dengan suku Quraiys, Yahudi Madinah, Kristen Romawi dan lain sebagainya. <em>Ketiga</em>, Islam sebagai kebudayaan. Karena kebudayaan Islam berlandaskan syariah Islam, sementara syariah Islam bersifat adaptif, adaptatif dan fleksibel, maka kebudayaan Islam bisa berbaur dengan kebudayaan dari peradaban lain. Pada masa Muhammad di Madinah, Islam telah membukakan jalan dalam meletakkan bibit kebudayaan, yang kemudian tersusun dari peradaban Persia, Romawi, Mesir, serta diwarnai dengan pola peradaban Islam.<a name="_ftnref98" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn98"><span class="MsoFootnoteReference">98</span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;background:yellow;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Sebagaimana <em>mainstream</em> Ibnu Khaldun, Emile Durkheim dan Max Weber dalam kajian sosiologi agama, seluruh ulasan di atas juga mentahbiskan adanya relasi simbiosis agama sebagai suatu keyakinan transendental dengan tata kemasyarakatan sebagai suatu konstruksi sosial yang imanental.<a name="_ftnref99" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn99"><span class="MsoFootnoteReference">99</span></a> Menurut Weber, agama dan masyarakat (sosiologi) tidak akan pernah bisa dilepaskan satu sama lain. Agama dan masyarakat laksana sebuah blangkon yang sisi depan dengan sisi belakangnya memang berbeda namu tidak bisa dipisahkan. Agama adalah &#8220;Dimensi Suprarasional&#8221; yang inheren dalam eksistensi manusia, di zaman dan kawasan apapun.<a name="_ftnref100" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftn100"><span class="MsoFootnoteReference">100</span></a> Di sinilah signifikansi pendekatan sosiologis terhadap agama, kita bisa meletakkannya pada tempat yang semestinya. Pengungkapan dimensi-dimensi sosio-kultural masyarakat Arab abad VI M sebagai obyek agama amat penting dilakukan. Usaha semisal ini bisa membantu umat Islam merentekstualisasikan doktrin-doktrin Islam seirama dengan spirit zamannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Pendekatan sosiologis tadi banyak mempengaruhi pendekatan teologis dalam memahami Islam. Dalam artian, singkronisasi dua pendekatan tersebut sangat dibutuhkan guna meraih pemahaman tentang Islam dengan baik. Ketimpangan rentan terjadi bila pendekatan teologis mengabaikan pendekatan sosiologis, yang pertama tidak bisa dilepaskan dari yang kedua, begitu pula sebaliknya. Demi mengatasi ketimpangan tadi, pendekatan historis bisa digunakan guna mensinergikan keduanya. Ini dilakukan dengan harapan bisa meminimalisir <em>overdosis</em> serta menambali kekurangan interpretasi atas &#8220;teks-teks keagamaan yang telah mati&#8221;. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Jika sinergi tiga pendekatan ini terwujud, maka sedikit langkah memahami Islam sudah terpenuhi. Bukankah dengan menguasai dengan baik sejarah awal Islam, sosio-kultur masyarakat Arab pada masa Muhammad, teks-teks keagamaan, sejarah para nabi khususnya Muhammad, pemahaman seseorang mengenai Islam akan lebih mendekati &#8220;kebenaran&#8221; yang benar-benar dikehendaki-Nya. Karena sejatinya, di balik semua klaim kebenaran yang bertolak dari perselisihan pendapat di kalangan umat Islam terdapat satu kebenaran yang paling benar di antara kebenaran-kebenaran lain. Dengan demikian, tidak ada salahnya kalau kita berpegang teguh pada prinsip &#8220;sesuatu yang dianggap benar detik ini, bisa jadi berubah menjadi sebuah kesalahan hanya dalam rentang waktu satu detik kemudian&#8221;. Hal ini mendaku pada sebuah ungkapan cerdas seorang filosof kenamaan dunia, Betrand Russel, yang menyatakan, &#8220;sudah sewajarnya jika kita menanyakan kembali sesuatu yang telah dianggap benar, sehingga tidak ada pertanyaan lagi.&#8221; Bukankah Islam senantiasa menyatakan bahwa hanya dialah satu-satunya agama yang paling benar di muka bumi ini?</span><span style="font-size:11pt;"> []</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<div><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"><br />
<hr size="1" /></span></div>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn1" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">1</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Nurcholis Madjid, <em>et. al</em>., <em>Fiqih Lintas Agama</em>, (Jakarta: Paramadina, 2005), cet. Ke-7, hal. 196 </span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn2" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">2</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Skema pandangan hidup: Perbedaan kultur, agama, ras, kepercayaan dan lain sebagainya –</span><span style="font-size:9pt;color:#0000cc;"> </span><span style="font-size:9pt;" lang="IN">Perbedaan persepsi (<em>collision of consciousness</em>)<em> </em>&#8211;</span><span style="font-size:9pt;color:#0000cc;"> </span><span style="font-size:9pt;" lang="IN">Perbedaan peradaban<em> </em>(<em>clash of civilizations</em>)<em> &#8211;</em></span><span style="font-size:9pt;color:#0000cc;"> </span><span style="font-size:9pt;" lang="IN">Perbedaan pandangan hidup (<em>clash of worldviews</em>) &#8211;</span><span style="font-size:9pt;color:#0000cc;"> </span><span style="font-size:9pt;" lang="IN">Perbedaan pendapat, perbedaan ideologi, perbedaan cara pandang dan perbedaan idea.<em> </em></span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> </span></p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn3" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">3</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> </span><span style="font-size:9pt;">Muhammad Husain Haekal, <em><span style="text-decoration:underline;">H</span>ayât Mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>ammad</em>, terj. Ali Audah dengan judul &#8220;<em>Sejarah Hidup Muhammad</em>&#8220;, (Bogor: Pustaka Litera AntarNusa, 1996), cet. Ke-19, hal. 6. Komparasikan dengan Ahmad Amin, <em>Fajr al-Islâm</em>, </span><span style="font-size:9pt;" lang="IN">(Kairo: Maktabah al-Ushrah, 2000), hal. 6 dan Will Durant, <em>Qiss<span style="text-decoration:underline;">h</span>at<span>  </span>al-<span style="text-decoration:underline;">H</span>adhârat</em>, terj. Muhammad Badran, (Kairo: Maktabah al-Ushrah, 2001), vol. VII, hal. 7 </span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> </span></p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn4" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">4</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Muhammad Abid al-Jabiri, <em>Madk<span style="text-decoration:underline;">h</span>al ilâ al-Qur`ân al-Karîm</em>: <em>fî at-Ta&#8217;rîf bi al-Qur`ân</em>, (Beirut: Markaz Dirasat al-Wahdah al-&#8217;Arabiyah, 2006), cet. Ke-7, vol. I,<span>  </span>hal. 46</span></p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn5" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">5</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> </span><span style="font-size:9pt;">Will Durant,<em> Op. Cit</em>., hal. 10</span></p>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn6" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">6</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Ahmad Amin, <em>Op. Cit</em>., hal. 110<span>  </span></span></p>
</div>
<div id="ftn7">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn7" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">7</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Muhammad Abid al-Jabiri, <em>Takwîn al-&#8217;Aql al-&#8217;Arabî</em>, (Beirut: Markaz Dirasat al-Wahdah al-&#8217;Arabiyah, 2006), cet. Ke-9, hal. 49 dan 57</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> </span></p>
</div>
<div id="ftn8">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn8" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">8</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Muhammad Sa&#8217;id al-&#8217;Asymawi, <em>Us<span style="text-decoration:underline;">h</span>ûl as-Syarî&#8217;ah</em>, (Kairo: Maktabah Madbouli as-Shaghir, 1996), cet. Ke-4, hal. 61 </span></p>
</div>
<div id="ftn9">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn9" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref9"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">9</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Ahmad Amin, <em>Op. Cit</em>., hal. 83-84 </span></p>
</div>
<div id="ftn10">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn10" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref10"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">10</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Lihat cacatan kaki Muhammad Sa&#8217;id al-Asymawi, <em>Op. Cit</em>., hal. 27 dia menyebutkan beberapa sumber referensi yang digunakan, seperti <em>al-Itqân fî &#8216;Ulûm al-Qur`ân</em> karya as-Suyuti,<em> az-Zînah fî al-Kalimât al-&#8217;Arabiyah al-Islâmiyah</em> karya Hamdan ar-Razi, <em>at-Tathawwur an-Na<span style="text-decoration:underline;">h</span>wî li al-Lug<span style="text-decoration:underline;">h</span>ah al-&#8217;Arabiyah</em> karya Bergrasters, <em>Târîkh al-Lug<span style="text-decoration:underline;">h</span>ah al-&#8217;Arabiyah</em> karya Jurji Zaydan dan <em>al-Qirâ`ât al-Qur`âniyah fî Dhaw` &#8216;Ilm al-Lug<span style="text-decoration:underline;">h</span>ah al-<span style="text-decoration:underline;">H</span>adîts</em> karya Abdus-Shabur Syahin. Bagi yang ingin mengetahui lebih jelas mengenai kosa kata bahasa non-Arab yang telah terarabkan dan termaktub di dalam al-Qur`an, silahkan merujuknya langsung ke buku-buku tersebut. Begitu juga dalam <em>al-Burhân fî &#8216;Ulûm al-Qur`ân</em>, Imam az-Zarkasyi menguraikan dengan singkat persoalan serupa disertai perbedaan pendapat para cendekiawan Islam klasik . Lihat Az-Zarkasyi, <em>al-Burhân fî &#8216;Ulûm al-Qur`ân</em>, diteliti (tahqiq) oleh Muhammad Abuo al-Fadl Ibrahim, (Kairo: Maktabah Dar at-Turats, t.t.), vol. I, hal. 287-290 </span></p>
</div>
<div id="ftn11">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn11" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref11"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">11</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Ahmad Amin, <em>Op. Cit</em>., hal. 42</span></p>
</div>
<div id="ftn12">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn12" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref12"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">12</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> <a href="http://islamlib.com/id/index.php?page=article&amp;id=683">http://islamlib.com/id/index.php?page=article&amp;id=683</a> <span>                       </span></span></p>
</div>
<div id="ftn13">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn13" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref13"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">13</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Ahmad Amin, Op. Cit., hal. 117-129</span></p>
</div>
<div id="ftn14">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn14" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref14"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">14</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Khalil Abdul-Karim, <em>al-A&#8217;mâl al-Kâmilah</em>: <em>Na<span style="text-decoration:underline;">h</span>wa Fikr Islâmiy Jadîd</em> </span><em><span style="font-size:9pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"><span style="font-family:Times New Roman;">2</span></span></em><em><span style="font-size:9pt;" lang="IN">, </span></em><span style="font-size:9pt;" lang="IN">(Kairo: Dar Mashriyah al-Mahrusah, 2004), cet. Ke-1, hal. 14</span></p>
</div>
<div id="ftn15">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn15" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref15"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">15</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> <em>Ibid</em>., hal. 19-23 </span></p>
</div>
<div id="ftn16">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn16" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref16"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">16</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> <em>Ibid</em>., hal. 29-65 </span></p>
</div>
<div id="ftn17">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn17" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref17"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">17</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> <em>Ibid</em>., hal. 69-73 </span></p>
</div>
<div id="ftn18">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn18" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref18"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">18</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> <em>Ibid</em>., hal. 14 </span></p>
</div>
<div id="ftn19">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn19" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref19"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">19</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> <em>Ibid</em>., hal. 77-80 </span></p>
</div>
<div id="ftn20">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn20" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref20"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">20</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> <em>Ibid</em>., hal. 83-98 </span></p>
</div>
<div id="ftn21">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn21" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref21"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">21</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> <em>Ibid</em>., hal. 24-26 </span></p>
</div>
<div id="ftn22">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn22" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref22"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">22</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Ali Jum&#8217;ah Muhammad, <em>et. al</em>., <em>al-Mawsû&#8217;ah al-Islâmiyah al-&#8217;Âmmah</em>, (Kairo: al-Majlis al-A&#8217;la li as-Syu`un al-Islamiyah, 2003), hal. 161<span>    </span></span></p>
</div>
<div id="ftn23">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn23" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref23"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">23</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Muhammad Husain Haekal, <em>Op. Cit</em>., hal. 19-20</span></p>
</div>
<div id="ftn24">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn24" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref24"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">24</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Ali Jum&#8217;ah Muhammad, <em>et. al</em>., <em>Op. Cit</em>., hal. 161 </span></p>
</div>
<div id="ftn25">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn25" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref25"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">25</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Muhammad Farid Wajdi, <em>as-S<span style="text-decoration:underline;">h</span>îrah al-Mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>ammadiyah ta<span style="text-decoration:underline;">h</span>t Dhaw` al-&#8217;Ilm wa al-Falsafah</em>, (Kairo: Maktabah al-Ushrah, 1999), hal. 110-113 dan Will Durant, <em>Op. Cit</em>., hal. 26 </span></p>
</div>
<div id="ftn26">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn26" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref26"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">26</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Muhammad Husain Haekal, <em>Op. Cit</em>., hal. 90-92 </span></p>
</div>
<div id="ftn27">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn27" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref27"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">27</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> <em>Ibid</em>., hal. 142</span></p>
</div>
<div id="ftn28">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn28" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref28"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">28</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> </span><em><span style="font-size:9pt;">Ibid</span></em><span style="font-size:9pt;">., hal. 148 dan Muhammad Farid Wajdi, <em>Op. Cit</em>., hal. 125-126</span></p>
</div>
<div id="ftn29">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn29" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref29"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">29</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Muhammad Husain Haekal, <em>Op. Cit</em>., hal. 93-94 </span></p>
</div>
<div id="ftn30">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn30" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref30"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">30</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> <em>Ibid</em>., hal. 95-96</span></p>
</div>
<div id="ftn31">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn31" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref31"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">31</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Muhammad Farid Wajdi, <em>Op. Cit</em>., hal. 119 </span></p>
</div>
<div id="ftn32">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn32" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref32"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">32</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> </span><span style="font-size:9pt;">Muhammad Husain Haekal, <em>Op. Cit</em>., hal. 97 </span></p>
</div>
<div id="ftn33">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn33" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref33"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">33</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> <em>Ibid</em>., hal. 99-100 dan Muhammad Farid Wajdi, <em>Op. Cit</em>., hal. 114-115 </span></p>
</div>
<div id="ftn34">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn34" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref34"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">34</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Muhammad Husain Haekal, <em>Op. Cit</em>., hal. 104-105 dan Muhammad Farid Wajdi, <em>Op. Cit</em>., hal. 116 dan 121 </span></p>
</div>
<div id="ftn35">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn35" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref35"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">35</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> <em>Ibid</em>., hal. 123-125 dan Mahmud Isma&#8217;il, <em>Sûsiûlûjiyâ al-Fikr al-Islamî</em>, (Kairo: Maktabah Madbouli, 1988), cet. Ke-3, vol. I, hal. 49 </span></p>
</div>
<div id="ftn36">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn36" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref36"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">36</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Muhammad Farid Wajdi, <em>Op. Cit</em>., hal. 260 </span></p>
</div>
<div id="ftn37">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn37" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref37"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">37</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Bagian Pengajaran Universitas al-Azhar,<em> Mabâ<span style="text-decoration:underline;">h</span>its fî &#8216;Ulûm al-Qur`ân</em>, diktat kuliah tingkat pertama Fak. Ushuluddin Universitas al-Azhar Kairo 2005-2006, (Kairo: Dar as-Sa&#8217;adah, 2005), hal. 105-106 bandingkan dengan Ali Jum&#8217;ah Muhammad dkk., <em>al-Mawsû&#8217;ah al-Qur`âniyah al-Mutak<span style="text-decoration:underline;">h</span>as<span style="text-decoration:underline;">h</span>s<span style="text-decoration:underline;">h</span>is<span style="text-decoration:underline;">h</span>ah</em>, (Kairo: al-Majlis al-A&#8217;la li as-Syu`un al-Islamiyah, 2006), hal. 590-591<span>  </span></span></p>
</div>
<div id="ftn38">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn38" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref38"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">38</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"><span>  </span>Muhammad Azizan Sabjan dan Noor Shakirah Mat Akhir, &#8220;<em>Konsep Ahl al-Kitab dalam Tradisi Islam</em>&#8220;, dalam majalah <em>Islamia,</em> (Edisi Keempat,<em> </em>thn. I, Januari-Maret 2005), hal. 72-73</span></p>
</div>
<div id="ftn39">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn39" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref39"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">39</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Nurcholis Madjid, <em>et. al</em>., <em>Op. Cit</em>., hal 45-47 </span></p>
</div>
<div id="ftn40">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn40" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref40"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">40</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Akbar S. Ahmed, <em>Rekonstruksi Sejarah Islam: Di Tengah Pluralitas Agama dan Peradaban</em>,<em> </em>terj. Amru Nst. (Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2003), cet. Ke-2, hal.<em> </em>37</span></p>
</div>
<div id="ftn41">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn41" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref41"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">41</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Muhammad Sayyid Thanthawi, <em>Banû Isrâ`îl fî al-Qur`ân wa as-Sunnah</em>, (Kairo: Dar as-Syurouq, 2000), cet. Ke-2, hal. 63</span></p>
</div>
<div id="ftn42">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn42" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref42"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">42</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> </span><span style="font-size:9pt;">Muhammad Husain Haekal, <em>Op. Cit</em>., hal. 42</span></p>
</div>
<div id="ftn43">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn43" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref43"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">43</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> <em>Ibid</em>., hal. 43-44 dan Ibnu Hisyam, <em>as-S<span style="text-decoration:underline;">h</span>îrah an-Nabawiyah</em>, diteliti (tahqiq) oleh Sa&#8217;id Muhammad al-Lahham, (Beirut: Dar al-Fikr, 2005), cet. Ke-1, vol. I, hal. 165</span></p>
</div>
<div id="ftn44">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn44" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref44"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">44</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Muhammad Husain Haekal, <em>Op. Cit</em>., hal. 57-58</span></p>
</div>
<div id="ftn45">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn45" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref45"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">45</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> </span><span style="font-size:9pt;">Muhammad Sayyid Thanthawi, <em>Op. Cit</em>., hal. 135-136</span></p>
</div>
<div id="ftn46">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn46" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref46"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">46</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> <em>Ibid</em>., hal. 137 dan 144 komparasikan dengan Muhammad Husain Haekal, <em>Op. Cit</em>., hal. 193<span>  </span></span></p>
</div>
<div id="ftn47">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn47" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref47"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">47</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Muhammad Sayyid Thanthawi, <em>Op. Cit</em>., hal. 145 </span></p>
</div>
<div id="ftn48">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn48" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref48"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">48</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Muhammad Husain Haekal, Op. Cit., hal. 196 dan Heribert Busse, <em>Die Theologischen Beziehungen des Islam Zu Judentum und Christentum</em>, terj. Ahmad Mahmud Huwaydi dengan judul &#8220;<em>Usus al-<span style="text-decoration:underline;">H</span>iwâr fî al-Qur`ân al-Karîm: Dirâsat fî &#8216;Alâqat al-Islâm bi al-Yahûdiyah wa al-Masî<span style="text-decoration:underline;">h</span>iyah</em>&#8221; (Kairo: al-Majlis al-A&#8217;la li as-Staqafah, 2005), hal. 40-43 </span></p>
</div>
<div id="ftn49">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn49" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref49"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">49</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> </span><span style="font-size:9pt;">Muhammad Sayyid Thanthawi, <em>Op. Cit</em>., hal. 138 </span></p>
</div>
<div id="ftn50">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn50" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref50"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">50</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Muhammad Husain Haekal, <em>Op. Cit</em>., hal. 196-197<span>  </span></span></p>
</div>
<div id="ftn51">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn51" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref51"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">51</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> <em>Ibid</em>., hal. 198-204 komparasikan dengan Will Durant, <em>Op. Cit</em>., 33-34 dan Muhammad Sayyid Thanthawi, <em>Op. Cit</em>., hal. 138-144<span>  </span></span></p>
</div>
<div id="ftn52">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn52" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref52"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">52</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Nurcholis Madjid, <em>et. al</em>., <em>Op. Cit</em>., hal. 112 </span></p>
</div>
<div id="ftn53">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn53" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref53"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">53</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Muhammad Husain Haekal, <em>Op. Cit</em>., hal. 214-215 dan Muhammad Sayyid Thanthawi, <em>Op. Cit</em>., hal. 147-150 </span></p>
</div>
<div id="ftn54">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn54" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref54"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">54</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Muhammad Husain Haekal, Op. Cit., hal. 218 </span></p>
</div>
<div id="ftn55">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn55" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref55"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">55</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> <em>Ibid</em>., hal. 232 </span></p>
</div>
<div id="ftn56">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn56" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref56"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">56</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> <em>Ibid</em>., hal. 263 dan Muhammad Sayyid Thanthawi, <em>Op. Cit</em>., hal. 264 </span></p>
</div>
<div id="ftn57">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn57" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref57"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">57</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Muhammad Husain Haekal, <em>Op. Cit</em>., hal. 273-274 </span></p>
</div>
<div id="ftn58">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn58" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref58"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">58</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> </span><span style="font-size:9pt;">Ibid., hal. 276-283 lihat juga Will Durant, Op. Cit., hal. 36-37 dan Muhammad Sayyid Thanthawi, Op. Cit., hal. 267-268</span></p>
</div>
<div id="ftn59">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn59" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref59"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">59</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> </span><span style="font-size:9pt;">Muhammad Husain Haekal, <em>Op. Cit</em>., hal. 316-321 lihat juga Will Durant,<em> Op. Cit</em>., hal. 37-38 dan Muhammad Sayyid Thanthawi, <em>Op. Cit</em>., hal. 278-281 dan 291</span></p>
</div>
<div id="ftn60">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn60" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref60"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">60</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Muhammad Husain Haekal, <em>Op. Cit</em>., hal. 342-350 lihat juga Will Durant,<em> Op. Cit</em>., hal. 38 dan Muhammad Sayyid Thanthawi, <em>Op. Cit</em>., hal. 292-295 </span></p>
</div>
<div id="ftn61">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn61" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref61"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">61</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Muhammad Husain Haekal, <em>Op. Cit</em>., hal. 353-355 dan Muhammad Sayyid Thanthawi, <em>Op. Cit</em>., hal. 296-298 </span></p>
</div>
<div id="ftn62">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn62" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref62"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">62</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Muhammad Husain Haekal, <em>Op. Cit</em>., hal. 356-360 lihat juga Will Durant, <em>Op. Cit</em>., hal. 38 dan Muhammad Sayyid Thanthawi, <em>Op. Cit</em>., hal. 299-304 </span></p>
</div>
<div id="ftn63">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn63" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref63"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">63</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Muhammad Husain Haekal,<em> Op. Cit</em>., hal. 418-423 lihat juga Muhammad Farid Wajdi, <em>Op. Cit</em>., hal. 251-253 dan Muhammad Sayyid Thanthawi, <em>Op. Cit</em>., hal. 314-322 </span></p>
</div>
<div id="ftn64">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn64" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref64"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">64</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Muhammad Husein Haekal, <em>Op. Cit</em>., hal. 424-425 lihat juga Muhammad Farid Wajdi,<em> Op. Cit</em>., hal. 253-254 dan Muhammad Sayyid Thanthawi, <em>Op. Cit</em>., hal. 326-327 </span></p>
</div>
<div id="ftn65">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn65" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref65"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">65</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Muhammad Husain Haekal, <em>Op. Cit</em>., hal. 361-363 dan Muhammad Sayyid Thanthawi, <em>Op. Cit</em>., hal. 327 </span></p>
</div>
<div id="ftn66">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn66" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref66"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">66</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Ali Jum&#8217;ah Muhammad, <em>et. al</em>., <em>Op. Cit</em>., hal. 591-592</span></p>
</div>
<div id="ftn67">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn67" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref67"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">67</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Ahmad Amin, <em>Op. Cit</em>., hal. 43-47 dan Heribert Busse, <em>Op. Cit</em>., hal. 42 </span></p>
</div>
<div id="ftn68">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn68" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref68"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">68</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Will Durant, <em>Op. Cit</em>., hal. 23 </span></p>
</div>
<div id="ftn69">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn69" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref69"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">69</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Muhammad Husain Haekal, <em>Op. Cit</em>., hal. 43</span></p>
</div>
<div id="ftn70">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn70" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref70"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">70</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> <em>Ibid</em>., hal. 57-58 komparasikan dengan Heribert Busse, <em>Op. Cit</em>., hal. 43-44 </span></p>
</div>
<div id="ftn71">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn71" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref71"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">71</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Will Durant, <em>Op. Cit</em>., hal. 23 </span></p>
</div>
<div id="ftn72">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn72" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref72"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">72</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Heribert Busse, <em>Loc. Cit</em>., dan Ibnu Hisyam, <em>Loc. Cit</em>. Beberapa orientalis menghabiskan sisa umur mereka untuk membuktikan bahwa al-Qur`an atau bahkan Islam bersumber dari Yahudi dan Kristen. Sekedar menyebutkan contoh, Abraham Geiger dengan karyanya &#8220;<em>Was Has Mohamed aus dem Judentum</em> <em>aufgenommen</em>?&#8221;, Abraham Catch dengan karyanya &#8221; <em>Judaism and the Koran</em>&#8220;, Richard Bell dengan karyanya &#8220;<em>The Origin of Islam in its Christian Environment</em>&#8220;, Frants Buhl dengan karyanya &#8220;<em>Das Leben Muhammeds</em>&#8220;, Tor Andrei dengan karyanya &#8221; <em>Mohammed sein Leben und sein Glaube</em>&#8221; dan masih banyak yang lainnya. Lihat Heribert Busse, <em>Op. Cit</em>., hal. 33-35<span>    </span></span></p>
</div>
<div id="ftn73">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn73" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref73"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">73</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Will Durant, <em>Op. Cit</em>., hal. 27 </span></p>
</div>
<div id="ftn74">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn74" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref74"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">74</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Heribert Busse, <em>Op. Cit</em>., hal. 82-83 lihat juga Muhammad Abid al-Jabiri, <em>Madk<span style="text-decoration:underline;">h</span>al ilâ al-Qur`ân al-Karîm</em>: <em>fî at-Ta&#8217;rîf bi al-Qur`ân</em>, <em>Op. Cit</em>., hal. 64 </span></p>
</div>
<div id="ftn75">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn75" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref75"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">75</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Muhammad Husain Haekal dalam pengantar buku &#8220;<em><span style="text-decoration:underline;">H</span>ayat Mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>ammad</em>&#8220;, <em>Op. Cit</em>., hal. xlv<span>  </span></span></p>
</div>
<div id="ftn76">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn76" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref76"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">76</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Heribert Busse, <em>Op. Cit</em>., hal. 70 lihat juga Muhammad Husain Haekal, <em>Op. Cit</em>., hal. 11 dan Muhammad Abid al-Jabiri,<em> Op. Cit</em>., hal. 59 </span></p>
</div>
<div id="ftn77">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn77" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref77"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">77</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> <em>Ibid</em>., hal. 66 </span></p>
</div>
<div id="ftn78">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn78" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref78"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">78</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Muhammad Husain Haekal dalam pengantar buku &#8220;<em><span style="text-decoration:underline;">H</span>ayat Mu<span style="text-decoration:underline;">h</span>ammad</em>&#8220;, <em>Op. Cit</em>., hal. xlvii-li</span></p>
</div>
<div id="ftn79">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn79" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref79"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">79</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Muhammad Husain Haekal, <em>Op. Cit</em>., hal. 219-222 </span></p>
</div>
<div id="ftn80">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn80" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref80"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">80</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> <em>Ibid</em>., hal. 440-445 dan MuhammadFarid Wajdi, <em>Op. Cit</em>., hal. 260-261</span></p>
</div>
<div id="ftn81">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn81" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref81"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">81</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> </span><span style="font-size:9pt;">Muhammad Husain Haekal, <em>Op. Cit</em>., hal. </span><span style="font-size:9pt;" lang="IN">448-450</span></p>
</div>
<div id="ftn82">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn82" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref82"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">82</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> <em>Ibid</em>., hal. 505-511</span></p>
</div>
<div id="ftn83">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn83" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref83"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">83</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> </span><em><span style="font-size:9pt;">Ibid</span></em><span style="font-size:9pt;">., hal.</span><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> 514</span></p>
</div>
<div id="ftn84">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn84" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref84"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">84</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Ahmad Amin, <em>Op. Cit</em>., hal. 45 </span></p>
</div>
<div id="ftn85">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn85" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref85"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">85</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"><span>  </span>Will Durant, <em>Op. Cit</em>., hal.41<span>   </span></span></p>
</div>
<div id="ftn86">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn86" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref86"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">86</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Muhammad Sayyid Thanthawi, Op. Cit., hal. 85-119 </span></p>
</div>
<div id="ftn87">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn87" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref87"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">87</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> <em>Ibid</em>., hal. 121-130 </span></p>
</div>
<div id="ftn88">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn88" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref88"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">88</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Muhammad Farid Wajdi, <em>Op. Cit</em>., hal. 109 </span></p>
</div>
<div id="ftn89">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn89" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref89"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">89</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Heribert Busse, <em>Op. Cit</em>., hal. 70 dan 82-83 </span></p>
</div>
<div id="ftn90">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn90" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref90"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">90</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Muhammad Abid al-Jabiri, <em>Op. Cit</em>., hal. 64-65 </span></p>
</div>
<div id="ftn91">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn91" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref91"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">91</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Muhammad Husain Haekal, <em>Op. Cit</em>., hal. 199-205 </span></p>
</div>
<div id="ftn92">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn92" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref92"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">92</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> <em>Ibid</em>., hal. 411-416 dan Will Durant, <em>Op. Cit</em>., hal. 41</span></p>
</div>
<div id="ftn93">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn93" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref93"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">93</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Muhammad Husain Haekal, <em>Op. Cit</em>., hal. 428-431 </span></p>
</div>
<div id="ftn94">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn94" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref94"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">94</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Mahmud Isma&#8217;il, <em>Op. Cit</em>., hal. 48 </span></p>
</div>
<div id="ftn95">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn95" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref95"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">95</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Muhammad Farid Wajdi, <em>Op. Cit</em>., hal. 108 </span></p>
</div>
<div id="ftn96">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn96" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref96"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">96</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Will Durant,<em> Op. Cit</em>., hal. 38 </span></p>
</div>
<div id="ftn97">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn97" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref97"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">97</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Philip K. Hitti,<em> Islam and the West</em>, (Kanada: D. Van Nostrand Company, 1962), hal. 8<span>                                                                                  </span><span>   </span></span></p>
</div>
<div id="ftn98">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn98" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref98"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">98</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> </span><span style="font-size:9pt;">Muhammad Husain Haekal, <em>Op. Cit.</em>, hal. 363</span></p>
</div>
<div id="ftn99">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn99" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref99"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">99</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> </span><span style="font-size:9pt;">Pengantar penerbit dalam Max Weber, <em>Sosiologi Agama</em>, terj. Muhammad Yamin, (Yogyakarta: IRCiSoD, 2002), cet. Ke-2, hal. v<span>  </span>Max Weber, penulis buku ini, dikenal sebagai pendiri sosiologi agama di samping Talcott Parson, Emile Durkheim dan Ibnu Khaldun. Buku ini merupakan <em>masterpiece</em>-nya yang mengusung &#8220;tema besar&#8221; agama dan kemasyarakatan. Dengan membedah akar kelahiran agama, gagasan tentang Tuhan, dewa, magis, taboo, kependetaan, kasta, asketisme, mistisisme, intelektualisme dan etika religius dalam hubungannya dengan tatanan sosio-politik, ekonomi, budaya, seni, dan bahkan seksualitas. </span></p>
</div>
<div id="ftn100">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn100" href="http://msubhanzamzami.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref100"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;" lang="IN">100</span></span></a><span style="font-size:9pt;" lang="IN"> Ibid., hal. viii</span></p>
</div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/msubhanzamzami.wordpress.com/28/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/msubhanzamzami.wordpress.com/28/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msubhanzamzami.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msubhanzamzami.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msubhanzamzami.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msubhanzamzami.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msubhanzamzami.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msubhanzamzami.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msubhanzamzami.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msubhanzamzami.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msubhanzamzami.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msubhanzamzami.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msubhanzamzami.wordpress.com&blog=3491531&post=28&subd=msubhanzamzami&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msubhanzamzami.wordpress.com/2008/06/07/islam-perdana-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e142ce265eb495fa16e7c3f6d1ab5ced?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">msubhanzamzami</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://msubhanzamzami.files.wordpress.com/2008/06/islam-perdana2.jpg?w=92" medium="image">
			<media:title type="html">Islam Perdana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>B.a.r.b.a.r.</title>
		<link>http://msubhanzamzami.wordpress.com/2008/06/05/barbar/</link>
		<comments>http://msubhanzamzami.wordpress.com/2008/06/05/barbar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jun 2008 17:29:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>msubhanzamzami</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://msubhanzamzami.wordpress.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[
 
 
 
 
Allahu Akbar, Allahu Akbar
Nyanyian mereka..
Kafir, sesat, dan neraka
Dzikir mereka..
Tegakkanlah syariat!
Topeng mereka..
Pedang, tongkat, dan bom
Mainan mereka..
Sorban, jubah, dan jenggot
Syariat mereka..
Duh, Gusti..
Tunjukkanlah
Engkau tidak seseram
Layaknya jualan mereka!
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msubhanzamzami.wordpress.com&blog=3491531&post=19&subd=msubhanzamzami&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignleft" src="http://img146.imageshack.us/img146/4707/terroristci4.th.jpg" alt="" /></p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>Allahu Akbar, Allahu Akbar<br />
Nyanyian mereka..<br />
Kafir, sesat, dan neraka<br />
Dzikir mereka..<br />
Tegakkanlah syariat!<br />
Topeng mereka..<br />
Pedang, tongkat, dan bom<br />
Mainan mereka..<br />
Sorban, jubah, dan jenggot<br />
Syariat mereka..<br />
Duh, Gusti..<br />
Tunjukkanlah<br />
Engkau tidak seseram<br />
Layaknya jualan mereka!</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/msubhanzamzami.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/msubhanzamzami.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/msubhanzamzami.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/msubhanzamzami.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/msubhanzamzami.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/msubhanzamzami.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/msubhanzamzami.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/msubhanzamzami.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/msubhanzamzami.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/msubhanzamzami.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/msubhanzamzami.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/msubhanzamzami.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=msubhanzamzami.wordpress.com&blog=3491531&post=19&subd=msubhanzamzami&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://msubhanzamzami.wordpress.com/2008/06/05/barbar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e142ce265eb495fa16e7c3f6d1ab5ced?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">msubhanzamzami</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://img146.imageshack.us/img146/4707/terroristci4.th.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>