Archive Page 2

AKK-BB

MARI PERTAHANKAN INDONESIA KITA!

Indonesia menjamin tiap warga bebas beragama. Inilah hak asasi manusia yang dijamin oleh konstitusi. Ini juga inti dari asas Bhineka Tunggal Ika, yang menjadi sendi ke-Indonesia- an kita. Tapi belakangan ini ada sekelompok orang yang hendak menghapuskan hak asasi itu dan mengancam ke-bhineka-an. Mereka juga menyebarkan kebencian dan ketakutan di masyarakat. Bahkan mereka menggunakan kekerasan, seperti yang terjadi terhadap penganut Ahmadiyah yang sejak 1925 hidup di Indonesia dan berdampingan damai dengan umat lain. Pada akhirnya mereka akan memaksakan rencana mereka untuk mengubah dasar negara Indonesia, Pancasila, mengabaikan konstitusi, dan menhancurkan sendi kebersamaan kita. Kami menyerukan, agar pemerintah, para wakil rakyat, dan para pemegang otoritas hukum, untuk tidak takut kepada tekanan yang membahayakan ke-Indonesia- an itu.

Marilah kita jaga republik kita.

Marilah kita pertahankan hak-hak asasi itu.

Marilah kita kembalikan persatuan kita.

Jakarta, 10 Mei 2008

Continue reading ‘AKK-BB’

Agama dan Pemikiran Keagamaan

Jelas bukan suatu keharusan penafsiran tertentu, sekali diterima harus selalu diterima; akan selalu ada ruang dan keharusan untuk penafsiran-penafsiran baru dan ini sebenarnya proses yang terus berlanjut.” (Prof. Fazlur Rahman)

Prolog

Dalam Pandangan Thomas Hobbes (1588-1679), manusia adalah serigala bagi manusia lain (homo homini lupus). Pandangan tokoh filsafat analitis tersebut seakan-akan menvonis seluruh manusia sebagai rival bagi lainnya, sehingga permusuhan, persengketaan, pertumpahan darah dan lain-lain di antara mereka merupakan sebuah keniscayaan, seraya mengeliminasi kecenderungan untuk bekerjasama sebagai perangai natural mereka.

Continue reading ‘Agama dan Pemikiran Keagamaan’

Tradisi dan Tajdid

Tidak ada satupun agama yang tidak berangkat dari sebuah respons sosial. Semua bertolak dan bergumul dari,untuk, dan dengannya. Ketika agama –yang merupakan titah suci Tuhan– berdialektika dengan realitas sosial, berarti ia masuk pada kubangan sejarah, ia menyejarah. Sejarah –ruang dan waktu— adalah penguji kebenaran serta kekokohan eksistensi agama. Sebagai penguji, sejarah tentunya memiliki seperangkat bahan ujian: pertama, unsur-unsur budaya setempat, kedua, fenomena dan budaya baru yang dihadapi, dan ketiga, rasionalitas dan relevansi doktrinnya.

Dalam sejarahnya, agama tidak luput dari unsur-unsur budaya lokal di mana ia turun. Agama —dalam hal ini Islam—, hadir pada saat tradisi paganisme merajalela, sebuah tradisi turun-temurun yang lahir dari penyelewengan ajaran Ibrahim as. Maka, tidak heran jika Nabi Muhammad saw. hanya sekedar membenahi ajaran pendahulunya dan membubuhinya dengan syariat yang klop dengan umat yang dihadapi dan masa-masa yang akan datang, beliau tidaklah membawa agama baru. Purifikasi agama yang dilakoni beliau tidak lain hanya menegaskan kembali esensi ajaran Ibrahim as.

Continue reading ‘Tradisi dan Tajdid’

« Previous Page


Recent Comments

Blog Stats

  • 6,493 hits