Tradisi dan Tajdid

Tidak ada satupun agama yang tidak berangkat dari sebuah respons sosial. Semua bertolak dan bergumul dari,untuk, dan dengannya. Ketika agama –yang merupakan titah suci Tuhan– berdialektika dengan realitas sosial, berarti ia masuk pada kubangan sejarah, ia menyejarah. Sejarah –ruang dan waktu— adalah penguji kebenaran serta kekokohan eksistensi agama. Sebagai penguji, sejarah tentunya memiliki seperangkat bahan ujian: pertama, unsur-unsur budaya setempat, kedua, fenomena dan budaya baru yang dihadapi, dan ketiga, rasionalitas dan relevansi doktrinnya.

Dalam sejarahnya, agama tidak luput dari unsur-unsur budaya lokal di mana ia turun. Agama —dalam hal ini Islam—, hadir pada saat tradisi paganisme merajalela, sebuah tradisi turun-temurun yang lahir dari penyelewengan ajaran Ibrahim as. Maka, tidak heran jika Nabi Muhammad saw. hanya sekedar membenahi ajaran pendahulunya dan membubuhinya dengan syariat yang klop dengan umat yang dihadapi dan masa-masa yang akan datang, beliau tidaklah membawa agama baru. Purifikasi agama yang dilakoni beliau tidak lain hanya menegaskan kembali esensi ajaran Ibrahim as.

                Namun, Islam tidaklah antipati terhadap seluruh tradisi Arab ketika itu. Sebagian tradisi ditanggalkan, sebagian lagi dibenahi lantas dilestarikan. Menurut al-‘Asymawi, mantan hakim agung Mesir, dalam karyanya “Ushûl asy-Syarî’ah” dia menegaskan bahwa Islam tidak luput dari jeratan tradisi Arab, ia mengadapsi beberapa unsur-unsur kebudayaan tersebut. Karena dengan begitu ia mudah diterima sebagai sebuah keyakinan dan mudah diimplementasikan.

                Perselingkuhan antara agama dengan tradisi adalah sunnatullah. Maka, sangat naif jika ada sebagian pihak menyatakan bahwa agama menafikan eksistensi tradisi sebagai khazanah hasil pencapaian manusia. Tapi bukan berarti agama tunduk dan patuh pada konteks yang ada, ia memadukan dengan seimbang antara teks dan konteks tersebut guna melahirkan suatu aturan atau hukum demi kemaslahatan manusia.  

                Dalam beberapa karya ulama fikih klasik dan kontemporer, sangat mungkin sekali satu kaidah Fikih, yaitu “al-‘Âdah Muhakkamah” (suatu adat bisa menjadi hukum) tidak luput dari jangkauan pembahasan mereka. Kaidah familiar ini sudah barang tentu merupakan buah dari jerih payah para ulama klasik dalam memahami relasi antara karakter tipikal Islam dengan tradisi lokal.

                Tradisi Islam-Arab bermula sejak dimulainya masa perwahyuan al-Qur`an dan Hadits. Dari masa itu umat Islam mulai meracik dan menumbuhkembangkan peradaban Islam yang kelak menjadi peradaban raksasa dunia. Peradaban Islam bertumpu pada tradisi sendiri. Adapun tradisi adalah hasil dari pembacaan, pemahaman, serta interpretasi seseorang terhadap teks-teks keagamaan sesuai situasi, kodisi, dan kadar kapabilitas orang tersebut. Tradisi sebagai hasil pemikiran manusia yang profan atas teks-teks keagamaan yang sakral, hasil pertautan antara yang sakral dengan profan adalah profan. Jadi, jika Islam hadir sebagai respons atas realitas sosial, maka tradisi tak ubahnya merupakan ‘anak’ hasil dari perselingkuhan antara agama dan realitas sosial tersebut.

                Dari sini dapat ditarik kesimpulan, bahwa relasi antara Islam dengan tradisi dalam pemikiran umat Islam sangatlah erat. Memahami Islam tanpa sokongan penguasaan warisan intelektual para pendahulu amat sulit mencapai titik kesempurnaan. Namun, tradisi bukanlah segalanya, ia tetap dalam ketidaksempurnaannya sebagai buah pemikiran yang amat sarat nilai (value-laden). Ia harus disikapi secara proporsional dan tidak boleh dikurangi atau dilebih-lebihkan dari kapasitas sebenarnya.

                Islam terus menerus dihadapkan dengan realita sosial yang kian pelik, yang nantinya akan menentukan corak tradisi. Sejak dekade 1960-an, problematika tradisi bak roti santapan para intelektual lintas agama dan negara. Hal tersebut bertolak dari problem yang dihadapi umat Islam: pertama, mewarisi tradisi pendahulu dan kedua, menghadapi fenomena baru. Di sinilah mereka kudu mempertanyakan kembali tradisi yang telah diramu oleh para pendahulu. Demi kemajuan peradaban Islam, mereka harus pandai memilah-milih kandungan tradisi dan tidak boleh salah pilih, mengambil sisi yang rasional dan relevan serta menyingkirkan yang irrasional dan tidak relevan dari gundukan tradisi tersebut. Karena mempertahankan tradisi yang sudah usang termakan zaman adalah pekerjaan sia-sia belaka. Toh, terlalu eman dan ribet jika sebagian besar perhatian mereka melulu tertuju pada hal-hal yang tidak berguna seperti itu.

                “Lain zaman lain pula metode pendekatannya” begitu kata Gus Dur. Memahami tradisi tidak cukup hanya dengan menggunakan metode konvensional yang tidak memberikan kontribusi pemikiran yang berarti, dimana –menurut al-Jabiri– ia hanya repetisi pemikiran orang dulu semata. Maka, perlu kiranya mencari sebuah metode baru untuk memahaminya guna melahirkan dan menciptakan genre pemikiran baru. Karena diakui atau tidak, pengaruh tradisi tersebut amat signifikan terhadap paradigma umat Islam dalam beragama.

                Sebuah metode yang berusaha mengembalikan citra dari otoritas tradisi kepada otoritas pembaca. Metode yang dimaksud adalah metode pemahaman modern dan visi kontemporer atas tradisi (al-fahm al-hadâtsî lî at-turâts wa ru`yah jadîdah lahu), sebuah metode yang diajukan oleh al-Jabiri. Metode ini –dengan segenap kelebihan dan kekurangannya– meniscyakan lepasnya pemahaman kita selama ini dari jerat tradisi yang turut aktif mempengaruhi prosedural keberagamaan kita.

                Hal ini bukanlah hal sepele, melainkan problem krusial umat Islam. Karena –menurut Hassan Hanafi– hingga detik ini ‘penampakan’ tradisi masa lalu masih sangat kentara terlihat dari tindak-tanduk kita di masa kini. Tapi, tidaklah bijaksana jika tradisi tersebut dibumi-hanguskan tak tersisa seraya terpaku kesemsem pada kemajuan pihak lain sebagaimana diimani oleh Salamah Musa, Syibli Syumail,Farah Anton atau semisalnya.

                Rasanya, sangat sulit jika kita hendak merubah tata cara beragama umat Islam dewasa ini jika tidak diawali dengan merubah pola pandangan mereka atas tradisi. Karena realita di lapangan membuktikan, bahwa tradisi sedemikian kuatnya mempengaruhi bahkan menguasai pola pandang umat Islam dalam kehidupan sehari-hari.

                Dengan metode kombinasi antara tradisi dengan spirit kekinian, kiranya pandangan mereka dapat dirubah dengan perlahan-lahan. Dan jika hal ini berhasil, maka dengan sendirinya mereka akan terlepas dari kungkungan tradisi dan suasana baru dalam beragama dapat dengan mudah terealisasikan.

                Karena dengan menyuguhkan pemikiran inovatif dan rasional, sebuah komunitas dapat dipengaruhi dan lambat laun akan menerima pemikiran tersebut. Suguhan di atas dimaksudkan untuk meng-counter kuatnya hegemoni pemikiran para pendahulu yang tertuang dalam tradisi kita. Memang hanya dengan berpijak pada tradisi sendiri, suatu komunitas dapat bangkit seraya tetap mempertahankan jati dirinya. Tapi yang pasti pijakan di sini adalah pijakan yang semestinya, karena jika hanya terpaku dan mengandalkan tradisi bukanlah pembaharuan dalam beragama yang dituai, melainkan akan menyuburkan bibit-bibit kejumudan dalam beragama.[]

 

0 Responses to “Tradisi dan Tajdid”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 131,050 hits

%d bloggers like this: