Pencarianku!

Dalam kesempatan ini, saya ingin curhat atau katakanlah berbagi pengalaman kepada Anda tentang pencarian jati diri saya dalam rentang waktu beberapa tahun belakangan ini, terutama yang berkenaan dengan pencarian format ideal beragama yang klop dengan diri seseorang. Barangkali, ada kesamaan pengalaman yang pernah Anda alami atau juga hal ini bisa dijadikan sebagai kaca perbandingan bagi Anda atau yang lainnya.

Sejak kecil, saya dibesarkan dalam lingkungan dan keluarga yang cukup fanatik pada tradisi-tradisi keagamaan NU (Nahdlatul Ulama). Tak heran bila hingga sekarang –meskipun aneka ragam ideologi pernah saya rasakan– beberapa tradisi tersebut masih melekat kuat pada diri saya. Lingkungan seperti inilah yang cukup banyak mewarnai pola pikir dan tindak-tanduk saya.

NU merupakan ormas terbesar di Madura, bahkan ada sebuah banyolan yang cukup terkenal mengenai kerekatan NU dan umat Islam di Madura. Yaitu, bila kita bertanya kepada mereka apakah gerangan agama mereka? Karena kuatnya dominasi tradisi NU pada sebagian besar masyarakat Madura, dengan penuh keluguan mereka akan menjawab: “NU!”.

Tentunya, banyolan tersebut tidak sepenuhnya salah atau sepenuhnya benar. Tetapi, seperti yang telah kita ketahui, ia mengisyaratkan bahwa mayoritas penduduk Madura memegang teguh tradisi NU bahkan cukup fanatik. Dan hal ini juga terjadi di lingkungan di mana saya dilahirkan dan tumbuh dewasa, malah hingga di Pondok Al-Amien di mana saya menuntut ilmu selama 6 tahun tradisi-tradisi tersebut cukup dominan.

Sebelum menginjakkan kaki di Al-Amien, bapak sering mengajak saya sowan ke kiyai-kiyai salaf di Madura yang selain cukup disegani penduduk Madura mereka juga terkenal dengan ilmu mukasyafah, bahkan di antara mereka ada juga yang berambut gondrong. Dari sowan ke kiyai satu ke kiyai lainnya, saya mendapatkan pelajaran “aneh” yang tak bisa di dapatkan di bangku sekolah. Tradisi sowan ini terus berlanjut hingga saya tamat di Al-Amien bahkan tetap saya lakukan hingga sekarang.

Di Al-Amien, pada mulanya yaitu ketika saya duduk di bangku kelas 3 SMP, saya bersentuhan dengan buku-buku tentang kristologi. Karena sangat intensnya membaca buku-buku tersebut, keimanan dan keislaman saya tergoncang dahsyat. Dahsyatnya ujian ini pernah saya ceritakan ke orang tua via telepon. Karena sangat dahsyatnya goncangan terhadap keimanan ini, terpikir juga dalam benak saya untuk memeluk Kristen.

Untuk mengatasi hal ini, saya mulai tertarik membaca buku-buku yang bisa membentengi dan meneguhkan kembali keislaman saya. Akhirnya, saya mendapatkan dan membaca buku-buku terjemahan karya orang-orang Wahhabi (pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab, Saudi Arabia) yang diseberluaskan secara cuma-cuma (majjânan wa lâ yubâ’) yang memang pembahasannya tak jauh dari persoalan akidah, bahkan majalah-majalah Islam Fundamentalis ini seperti Majalah Salafi, Majalah Sabili, dan Majalah as-Syari’ah tak luput dari jamahan “kehausan” saya.

Lagi-lagi karena begitu intensnya bercengkerama dengan bacaan-bacaan seperti itu, pemikiran saya mengalami perubahan besar yang mempengaruhi tindak-tanduk saya sehari-hari. Saya mulai berlagak seperti orang-orang Wahhabi: anti-bid’ah dan sangat benci terhadap non-muslim. Karena ini pulalah saya tak menghiraukan sunnah-sunnah pondok yang saya anggap bid’ah bahkan mesti dilenyapkan, apalagi saya mendapatkan justifikasi atas keyakinan dan tindakan ini dengan melihat keyakinan dan doktrin seorang kiyai alumnus Madinah University yang terkenal Wahhabi –pada waktu itu, beliau menjabat sebagai wakil pimpinan Ma’had Tahfidz al-Qur`an– yang menjadi figur panutan saya kala itu.

Setelah sekian lama saya akrab dengan bacaan-bacaan itu, saya mulai berkenalan dengan bacaan Islam Fundamentalis yang pemikirannya relatif lebih lunak, yaitu Majalah Hidayatullah bahkan hampir berlangganan. Beberapa edisi sudah saya lahap dan sisa beberapa edisi itu masih saya simpan di rumah hingga sekarang. Dengan membaca majalah ini, pemikiran keislaman saya mulai sedikit melunak, tetapi tetap saja pemikiran-pemikiran Islam Garis Keras menggelayangi otak saya.

Tetapi, meskipun pemikiran Wahhabi dominan dalam benak saya, tetapi masih ada beberapa tradisi NU yang tidak bisa saya tolak karena sudah terlanjur saya yakini dan telah mendarah-daging dalam diri saya sejak kecil. Oleh karena itu, seorang teman sekelas berkata kepada saya: “Kamu tidak mungkin bisa menjadi Wahhabi.” Ya, kata-kata yang sekarang menjadi kenyataan itu masih segar dalam ingatan saya hingga detik ini.

Pada fase ini, kecenderungan ibadah saya memuncak sehingga hati yang mengontrol perasaan mendapatkan porsi yang melebihi porsi otak. Oleh karena itu, otak saya tidak bisa berfungsi dengan baik. Hanya akhirat yang ada dalam pikiran saya, sebaliknya dunia adalah kehidupan yang menjijikkan. Akhirnya, semua persoalan yang bersifat duniawi an sich tidak saya hiraukan. Karena otak dikalahkan oleh perasaan, saya tidak bisa berpikir kritis terhadap doktrin-doktrin Islam Fundamentalis sehingga langsung meyakininya dan menolak doktrin-doktrin yang berlawanan.

Fase ini kemudian agak mengendor dan mulai menapak fase baru yang lebih “ilmiah” setelah bersentuhan dan akrab dengan Majalah Islamia dan buku-buku INSISTS lainnya. Meskipun ideologi Islam Keras mulai memudar dan tak sekeras sebelumnya, tapi pada fase ini kebencian terhadap orang-orang liberal tetap meledak-ledak dalam diri saya yang mana pada waktu itu mulai bermunculan dan menulis di salah satu rubrik Jawa Pos untuk mengeksplorasi pemikiran-pemikiran mereka.

Sebagaimana lazimnya cara orang awam dan pihak Islam Fundamentalis berpikir, dalam pikiran saya muncul dugaan: orang-orang liberal itu pasti akan masuk neraka karena telah “menistakan” ajaran-ajaran Islam. Bahkan saya pernah berkata kepada seorang teman saya: “Nanti kalau sudah dewasa, saya akan menantang Ulil berdebat.”

Sekarang, kalau ingat dua hal tersebut, kadang-kadang saya tersenyum sendiri bahkan seharusnya malu karena saya malah memakan ludah sendiri. Nah, fase ini tetap berlangsung hingga saya tamat dari Al-Amien bahkan hingga beberapa bulan saya berada di Mesir.

Setelah beberapa bulan di Mesir dan menikmati langsung beberapa buku yang di Indonesia dianggap liberal, saya pun mulai tertarik dan pada akhirnya mulai tertantang untuk terus membaca buku-buku lain yang sejenis. Para penulis dan buku-buku yang sering dijelek-jelekkan orang-orang INSISTS itu, akhirnya menjadi figur dan buku favorit saya.

Keadaan pun menjadi berbalik drastis, kalau dulu mengecam pemikiran liberal kini saya malah meyakininya begitu juga sebaliknya; kalau dulu meyakini pemikiran Islam Fundamentalis tetapi kini saya malah sangat tidak menyukai apa-apa yang dulu pernah saya yakini sebagai kebenaran itu.

Di Mesir, saya juga mulai suka dengan buku-buku pemikiran dan filsafat. Pada gilirannya, pemikiran saya pun sangat bebas, bahkan kalau saja saya bukan seorang muslim karena faktor keturunan, saya lebih memilih menjadi seorang ateis pada waktu itu. Pada fase ini, pemikiran saya liberal dan sangat idealis.

Setelah menikmati liburan panjang summer ke Indonesia, saya mendapatkan realita yang semuanya tak sama dengan dunia ide yang saya geluti di Mesir. Karena ternyata dunia riil lebih kompleks dan saya merasakan sangat kesulitan untuk menerapkan ide-ide yang ada di benak saya. Akhirnya, pemikiran saya menjadi lebih lunak dan saya pun tidak seidealis seperti sebelumnya. Selain karena dunia riil tidak sama dengan dunia ide, bebasnya pemikiran telah membuat saya malas beribadah dan membuat saya merasa hebat.

Menyadari semua itu, sekarang saya tengah berusaha menyatukan pemikiran yang bebas dan ketekunan dalam beribadah pada diri saya. Saya ingin kecenderungan sufi dan filsafat yang mana dua-duanya sama-sama pernah saya lalui bisa menyatu dalam diri saya. Tetapi tentu saja hal ini bukanlah pekerjaan yang mudah.

Dari semua pengalaman ini, ada dua poin yang saya dapatkan yaitu (1) apa yang pernah kita yakini sebagai sebuah kebenaran tidak menutup kemungkinan pada masa-masa setelahnya kita akan menganggapnya sebagai sebuah kesalahan (2) apa yang kita cintai dan kita perjuangkan tidak menutup kemungkinan pada masa-masa setelahnya akan kita benci dan kita berusaha memusnahkannya.

Akhirnya, mohon maaf bila dalam paparan di atas, saya terkesan “sok-sok-an”, tetapi itulah realita yang saya alami bahkan masih banyak hal yang sengaja tidak saya ungkap. Lalu, bagaimanakah pengalaman Anda sendiri? []

13 Responses to “Pencarianku!”


  1. 1 Oni Suryaman September 9, 2008 at 4:20 am

    perjalananmu rupanya sudah panjang. mudah2an membuat makin bijak. aku sendiri pernah hampir masuk islam, kemudian akhirnya masuk katolik, sempat agak fundamentalis, hampir jadi pendeta, kemudian lebih dekat ke teologi protestan yang liberal meskipun tidak pindah agama ke protestan, dan sekarang cenderung ateis. haha…

    pengalamanku bisa dilihat di
    http://onisur.wordpress.com/2007/05/25/menjadi-katolik-pengalaman-seorang-cina/
    http://onisur.wordpress.com/2007/07/06/andai-di-sini-ada-kuil-shaolin/

  2. 2 lovepassword September 14, 2008 at 10:28 am

    Yah,hidup ini memang sebuah proses. Langkah demi langkah yang perlu kita lalui pelan2 dan kadang2 dengan memutar jalur juga.

    • 3 Ich Ratna Jie August 16, 2010 at 3:59 pm

      yups,,,,Hidup dan pikiran selalu berproses dan proses (mengalami proses) sejalan dengan perkembangan zaman.

      • 4 Bimo Auliarahman June 6, 2011 at 6:01 pm

        SUBHANALLAH..
        Entah saya harus bilang apa, perjalanan hidup memang bagian dari sebuah misteri ilahi..
        Semua hal telah diatur dan dirancang sedemikian rupa olehNya, yang terpenting adalah bagaimana agar kita tetap menjalani perintahNya dan menjauhi laranganNya..
        dan juga belajar melihat kebaikan di segala hal..😀
        tidak ada yang benar-benar sampah, semua ada harganya..
        bagaimana kita berperilaku dan berkomunikasi kepada masyarakatlah yang akhirnya benar2 membedakan apakah kita telah termasuk orang yang ditinggikan beberapa derajat olehNya atau tidak, karena semakin waktu berputar orang-orang terkadang cenderung lupa untuk berbuat bagi sesama karena yang telah mereka dapat, mereka inginkan dan satu hal yang terpenting berSYUKUR..
        dengan ilmu-ilmu yang telah mas dapat alangkah baiknya bersegera
        untuk di ekspose keluar karena menurut saya tidak cukup hanya sekadar tulisan,
        “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” Al – ‘Imran (104-104)
        dan juga kita ingat bukan bahwa tidak akan tersesat orang-orang yang memegang teguh Al-Qur’an dan As-Sunnah..
        Barakallah, semoga di teguhkan langkahnya untuk senantiasa berserah diri di jalanNya..🙂

  3. 5 home September 27, 2008 at 11:50 pm

    Hidup adalah pilihan.
    Klise ya, tapi benar adanya. Selagi jiwa masih diberikan dengan murah hati oleh Tuhan, maka selama itu pulalah kita bebas berpikir apa saja dan berbuat apa saja. Namun, saya yakin sekali bahwa semua yang kita lakukan, kelak akan dipertanggung jawabkan.

    Sekarang memang bagi sebagian orang hal ini belum bisa dibuktikan kebenarannya. Kelak ketika sudah mengalami kematian, barulah mereka akan tahu mana yang benar sesungguhnya.
    Sungguh, sayang sekali jika kesempatan luas kita mempelajari ilmu (yang tidak dimiliki oleh sebagian besar orang lain) tidak membuat kita semakin dekat dengan Tuhan, bahkan malah berlari menjauh dari sang Pencipta.

    Yang saya alami dari perjalanan saya terkait agama adalah betapa kita bisa membedakan saat dimana ajaran agama yang lurus telah tertambat dalam hati, merasuki sanubari, dan terwujud dalam perilaku. Saat itu, jiwa menjadi begitu lembut..mudah sekali berempati terhadap orang lain..dan tetap tenang menghadapi perbedaan..tidak cuma dimulut menghadapi ketidakbaikkan..namun juga tidak muluk2 mau merubah dunia dan menyeragamkan orang seperti golongannya….
    saat seperti ini orang akan begitu tenang menyebarkan kebaikan dengan memberi contoh yang baik pada lingkungan sekitar..

    Betapa Tuhan yang Maha Tinggi ilmunya..tak kan pernah terlampaui manusia..
    Maka bersyukurlah orang-orang yang tetap berusaha menjadi makhluk yang mengikuti tuntunan-Nya dengan benar. Meskipun “mana yang benar” sekali lagi kembali kepada pilihan kita, namun bertanyalah pada hati yang paling dalam..hati yang membisikkan kebenaran…tanpa perlu menjadi sangat benci terhadap pilihan orang lain…tanpa perlu menyatakan diri sebagai yang paling benar. Karena kebenaran hakiki adalah milik Tuhan.

    Bagi saya, tak perlu menunggu saya mati tuk membuktikan kebenaran ajaran Tuhan. Ayat-ayat-Nya yang jelas terlihat di bumi sungguh pelajaran yang bagus akan tingginya kekuasaan-Nya. Lalu nikmat Tuhan yang manakah yang akan kita ingkari?

    Saudara,
    sesungguhnya, dua kesimpulan yang Saudara berikan dalam artikel ini adalah benar, oleh karena itu tak selayaknya kita merasa paling benar dan merendahkan golongan lain. Apalagi bila setiap yang baru kita pelajari membuat kita merasa yang lamalah yang tidak benar.

    Tak semua ilmu bisa kita tangkap dengan akal kita. Bila terjadi begitu banyak perbedaan dalam Islam (dan lihat…pada agama yang lain pun banyak juga bermunculan kelompok2 yang berbeda), sangat terlihat bahwa kemampuan manusia mengintepretasikan ilmu Tuhan tidaklah sama.
    Dan bersyukurlah bagi yang tetap terikat dalam tali kasih sayang agama-Nya dengan hati yang tenang..lembut..dan damai. Hanya kejujuran pada diri sendiri yang bisa menentukan kapankah saat itu kita rasakan..

    Waallohu’alam bishowab. Kebenaran itu datang-Nya dari Alloh semata.

    Kemudian, bila ada perbedaan dalam opini kita dan menyakiti Saudara, saya minta maaf. tapi sungguh, yang menggerakkan saya menulis ini bukanlah kebencian..tetapi harapan dan doa..semoga orang-orang yang dikaruniai kepandaian tuk mengolah kata serta keberanian untuk menyebarkannya kepada khalayak umum seperti Saudara..akan selalu ditunjuki jalan tuk menulis sesuatu yang membuat hati lebih dekat kepada Tuhan…bukan menjauhi-Nya…amin.

  4. 6 Wawan Al-Jufrie November 4, 2008 at 5:46 am

    Wah Dramatis sekali perjalanan hidup mas, ana sih jujur ga seperti itu, ana hidup di tengah keluarga yang moderat tapi juga fanatik, apalagi aba ana itu Arab – Alawiyyin, jadinya ya ana cenderung ke Alawiyyin itu, tapi terkadang ana goyah juga kalo membaca buku2 Wahhabi,. sempat terlintas di pikiran ana kalo wahhabi itu 100% benar, tapi kemudian ana coba teliti salafus shalih kalangan alawiyyin, ana mulai faham dan sampe sekarang ana masih cenderung ke alawiyyin walaupun sekarang ana berusaha memposisikan diri sebagai kalangan netral, tidak sunny maupun tidak syiah, karena alawiyyin pada dasarnya netral, kalo membaca kristologi mah ana gak goyah sama sekali, karena ana didik dengan logika IPA, dan ana coba fahami kristologi via IPA dan sangat susah sekali menyatukannya, begitu juga agama lain, tapi ketika ana coba fahami islam lewat logika IPA, luar biasa ana dapat menemukan yang selama ini ana cari, ini yang ana rasakan

  5. 7 Aep Wahyudin March 6, 2009 at 3:52 pm

    Kesimpulan saya sangat sederhana.
    Mas Subhan akan berpindah keyakinan/pemikiran/atau apa namanya jika bersentuhan lagi dengan hal-hal yang baru yang lebih exiting menurut versi Mas Subhan.

    Semoga endingnya baik bagi Mas dan Ummat.
    Seperti kisah Nabi Ibrahim AS.

  6. 8 talulasalma March 22, 2009 at 7:59 am

    Assalamualikum……….
    bermodal rasa percaya diri aku tekan setiap huruf untuk meyakinkan bahwa ini adalah jalanku menjalin silaturahim dengan antum.
    Salam segalanya kepada siapa saja yang menjadikan Rasulullah sebagai tauladan Hidupnya.
    Dan Allah sebagai tujuan perbuatannya….

  7. 9 madd April 16, 2009 at 8:38 pm

    bagus mas, gua sampai bingung

  8. 10 khairunnisa amaliah June 23, 2009 at 1:42 pm

    wahhhh….
    bnyak juga yang sudah anda lalui…
    mudah2an anda menjdi lebih bijak..

  9. 11 habibi el_kutb July 16, 2009 at 11:00 pm

    subhanalllah…
    Q tak jub aj, sampyn bisa mengolah kata-kata sedemikian apik hingga ku juga terbawa kedalam nuansa masa itu, ku seolah juga merasa seperti zamzami, namun dengan permasalahan n ghozwul fikr yang berbeda…subhanallan wal hamdulillah walaa ilaaha illallah..
    ihdinasssirootol mustaqim…

  10. 12 tina August 30, 2009 at 11:36 pm

    wah…
    saya suka neh sama pengalaman antum, ustd subhan zamzami..
    sedikit menjadi pencerahan buat saya, messki tak memiliki pengalaman menarik dalam hal keyakinan, tapi tulisan anda cukup mebuat saya mengerutkan kening.
    keep on spirit…:)

  11. 13 Ich Ratna Jie August 16, 2010 at 4:04 pm

    hhmm,,,,pengalaman yg sangat berharga,,
    yups,,,,Hidup dan pikiran selalu berproses dan proses (mengalami proses) sejalan dengan perkembangan zaman.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 131,050 hits

%d bloggers like this: