Dialog Peradaban; Dari Wacana Menuju Realita

Meski runtuhnya gedung WTC (World Trade Centre) di Manhattan pada tanggal 11 September 2001 sudah berselang beberapa waktu, namun pelbagai efeknya hingga kini masih terasa. Tragedi yang menelan banyak korban ini, menguatkan teori benturan peradaban yang diusung oleh dua tesis kesohor, yaitu The Clash of Civilizations and The Remaking of The World Order karya Samuel P. Huntington, dan The End of History and The Last Man karya Francis Fukuyama, di mana keduanya masih pasang surut.

Secara garis besar, kedua penulis tesis tersebut sama-sama menekankan kedigdayaan peradaban Barat di atas peradaban lain. Hanya saja, Samuel P. Huntington selain menekankan hal tersebut, dia juga optimis akan kemenangan mutlak peradaban Barat dalam perang kebudayaan. Sedang Francis Fukuyama menegaskan, bahwa kapitalisme –identitas primer peradaban Barat modern– akan mengalahkan ideologi lain, seperti Marxisme sebagai rival utamanya. Dia juga optimis, bahwa pada akhirnya, kapitalisme –dengan pasar dan perdagangan bebas sebagai propagandanya– akan menjelma menjadi agama manusia selamanya.

Sayyid Yasin, seorang sosiolog Mesir, menyuguhkan buah karyanya Hiwâr al-Hadhârât; al-Gharb al-Kawnî wa al-Syarq al-Mutafarrid. Buku ini merupakan respon terhadap perkembangan wacana dialog peradaban yang memeras keringat para filsuf, sejarahwan, dan sosiolog sejak tahun 90-an, yang merupakan respon positif guna mencari solusi menanggulangi problem antarperadaban. Di dalam buku ini, penulis berusaha menarik dialog peradaban dari sekedar wacana menjadi tindakan riil, berupa universalitas politik dan budaya.

Buku tersebut dibagi ke dalam dua sub-tema. Pertama, peradaban; antara dialog dan benturan, yang mencakup tiga hal, yaitu menelisik akar dialog antarperadaban, problem Barat sentris dan orisinalitas budaya, serta situasi pasca-tragedi 11 September 2001. Kedua, dialog Palestina-Israel sebagai sampel ideal dialog peradaban, di mana keduanya berada pada dua pilihan; damai atau perang.

Sebagai sosiolog, Sayyid Yasin memfokuskan analisanya pada aspek krusial sehubungan dengan perkembangan yang turut mewarnai paradigma belakangan ini. Dalam analisanya, konsep dialog peradaban bergeser seiring pergeseran zaman; corak dialog peradaban antara zaman modern berbeda dengan post-modern. Zaman post-modern sebagai metode baru berpikir, penetrasi universal, hubungan tanpa batas, koalisi teritorial dan revivalitas nasionalisme, telah mampu merubah konsep dialog peradaban berikut aplikasinya.

Dampak tragedi 11 September 2001 kian merambah ke pelbagai bidang: politik, ekonomi, budaya, militer, dan pemikiran di belahan Dunia. Dunia pun dibuat ketar-ketir olehnya. Tragedi tersebut bisa menjelma menjadi sumbu provokatif yang dapat merangsang terjadinya benturan antarperadaban –Barat dan Timur [Islam]. Melihat hal itu, Sayyid Yasin gencar mendiskusikan wacana dialog peradaban dan menawarkannya sebagai solusi guna menghindari benturan tersebut.

Sebelum memasuki ranah dialog, dia menggulirkan konsep peradaban di abad 21 serta mengilustrasikannya dengan merujuk buku The Social and Culture Dynamics karya Betrym Sorokin. Dia menemukan bahwa Sorokin membedakan konsep peradaban (civilization) dari kebudayaan (culture); peradaban didefinisikan sebagai teori yang menekankan pada perangkat dan produk materiil, sedang kebudayaan menurutnya adalah teori yang memprioritaskan nilai dan sisi riil.

Hampir senada dengan Betrym Sorokin, Arnold Toynbee, filsuf sejarah, menegaskan bahwa peradaban dunia bersifat terbatas, sementara kebudayaan beraneka ragam dan unlimited. Namun Sayyid Yasin –dengan mengekspansi pelbagai konsep peradaban dan kebudayaan– menggusur disparitas konsep peradaban dan kebudayaan versi Betrym Sorokin dan Arnold Toynbee.

Sayyid Yasin mendefinisikan dialog peradaban sebagai ekspresi atas proses sejarah yang mengagas –setelah berakhirnya perang ideologi antara kapitalisme dan marxisme sepanjang abad 20– sisi keserasian antarperadaban besar dunia berdasarkan pada kerelaan sebagai asas manajemen masyarakat universal.

Selanjutnya, dia menukil pendapat Muhammad Khatami tentang beberapa fondasi filosofis-historis dialog peradaban: pertama, membentangkan terma dialog ke pelbagai aspek, baik filosofis, historis, serta menindaklanjuti teori-teori para pemikir; kedua, menguraikan makna hakiki dan metaforis dari terma dialog; ketiga, dialog pasca-Perang Dunia II di bidang kebudayaan, ekonomi, sosial, dan politik; dan keempat, dialog antarperadaban masa silam.

Selain itu, Muhammad Khatami menawarkan beberapa syarat realisasi dialog peradaban. Pertama, sikap untuk berubah, kedua, visi, dan ketiga, inklusivitas. Dengan memenuhi tiga syarat tersebut, suatu peradaban akan tetap eksis. Sayyid Yasin menjelaskan lebih jauh syarat ketiga di atas. Menurutnya, peradaban yang mengklaim dirinya sempurna adalah peradaban statis dan dengan sendirinya akan binasa, karena tidak belajar dari peradaban lain dan tidak mengadapsi konsep-konsepnya.

Melihat kegemilangan peradaban Barat, Sayyid Yasin merasa kecewa terhadap peradaban Arab Islam yang menyia-nyiakan waktu, seraya larut dalam perdebatan sekitar ‘teori penyerapan’ antarperadaban dan melahirkan dua kubu besar, yaitu, pertama, kubu ‘tradisionalis kustodian’ yang berpandangan bahwa, teori penyerapan akan menghanguskan orisinalitas kebudayaan suatu peradaban, kedua, kubu ‘reformis idealis’ yang menyerukan teori penyerapan seluas-luasnya.

Dia juga menawarkan ciri-ciri baru harmonisasi universal, di mana dengan itu upaya modernisasi akan mampu melenyapkan reversi kaum fundamentalis. Pertama, toleransi budaya yang berasaskan relativitas dalam menghadapi rasisme, Eropa-sentris dan individualisme. Kedua, kemenangan relativitas pemikiran atas absolutisme ideologi. Ketiga, menggalakkan demokrasi di segala bidang. Keempat, merevival masyarakat domestik dan mereduksi negara-sentris. Kelima, merevival masyarakat sipil dalam menghadapi cengkraman negara di pelbagai bidang. Dan keenam, keseimbangan antara nilai-nilai materiil, spiritual dan humanis.

Sayyid Yasin menilai, bahwa dialog peradaban belum menunjukkan hasil yang signifikan, di samping karena konsep yang ditawarkan para filsuf, sejahrawan dan sosiolog belum jelas, juga batasan pembahasannya masih rancu, yang semestinya ditentukan dan diperjelas sehingga usaha untuk mencari titik temu dalam pelbagai hal bisa dicapai.

Buku ini cocok bagi pemerhati masalah-masalah sosial yang menaruh harapan besar akan perdamaian dunia, terlebih lagi bila dikonsumsi oleh pihak yang sudah mempunyai basic tentang peradaban, karena di dalamnya, penulis tidak membahas secara detail akar-akar, konsep dan pelbagai hal yang harus dijadikan landasan dialog peradaban. Di dalamnya juga dijelaskan mengenai isu-isu terkini dan pandangan para tokoh yang masih layak untuk didiskusikan lebih mendalam.

Terbaca dari ulasan data dan gagasannya, penulis menaruh harapan besar terwujudnya dialog peradaban, sehingga tidak lagi hanya sekedar wacana, akan tetapi bisa dikembangkan dan menjadi usaha riil dalam mengharmoniskan hubungan antarperadaban, khususnya peradaban Barat dan Timur (Islam). Dalam penilaian penulis, peradaban Barat telah menghegemoni dunia, seakan-akan ia menjelma sebagai “polisi tunggal dunia”. Sedangkan peradaban Timur terkesan mengisolir diri seraya mempertahankan jati diri konvensionalnya.

Usaha penulis untuk merealisasikan beberapa gagasan di dalam karyanya ini, tentunya masih membutuhkan uluran pemikiran konstruktif-inovatif, sehingga benar-benar bisa dijadikan sumber acuan bagi generasi mendatang agar lebih peka dalam merespon pelbagai perkembangan yang senantiasa bergulir tanpa henti. []

1 Response to “Dialog Peradaban; Dari Wacana Menuju Realita”



  1. 1 Yenny Wahid: Gus Dur adalah Penggerak | Bani Madrowi Trackback on April 20, 2011 at 5:24 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 131,050 hits

%d bloggers like this: