Teologi Dialog Antaragama

Pluralitas dalam segala hal adalah sunnatullah yang tidak akan punah hingga akhir masa. Begitu juga kenyataan perbedaan agama, ia merupakan hak asasi manusia yang paling fundamental sehingga tak boleh diusik apalagi dilangkahi. Karena, hanya dengan menghormati segenap perbedaan, kedamaian sebagai cita-cita mereka bersama bisa terwujud. Tapi permasalahannya adalah, benarkah mereka bisa menghormati kebebasan beragama dalam arti sebenarnya, atau selama ini sikap tersebut hanya sebatas pada tataran teoritis saja? Pertanyaan ini kiranya cukup menggugah sikap keberagamaan kita selama ini, dan tentunya menuntut adanya realisasi aktif dari masing-masing kalangan.

Bertolak dari sudut pandang Islam, kita bisa sedikit menoleh kembali kebelakang yaitu ke catatan sejarah awal Islam pada zaman Nabi Muhammad Saw., karena bagaimana pun juga dari sanalah kita bisa menemukan contoh-contoh elementer pola interaksi beliau dengan pemeluk agama lain. Setidaknya, hal ini bisa kita lacak langsung dalam Alqur`an, Sunnah ataupun dalam beberapa manuskrip tentang periode-periode awal Islam yang nantinya bisa dijadikan sebagai pijakan dasar metode standar interaksi antaragama yang sreg dengan konteks kekinian.

Karena sebenarnya kalau mau jujur diakui, gaung dialog antaragama yang berderu kencang di Barat akhir-akhir ini ternyata akar sejarahnya hanya terdapat dalam Islam an sich, mungkin di sinilah letak sisi toleransi –dalam pengertian sebenarnya– Islam bisa digali dan dikembangkan. Adapun dalam tradisi Barat, terutama dalam kitab suci mereka, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, tak sepeserpun konsep dialog antaragama termaktub di dalamnya.

Hal ini terbukti ketika kita telaah Alqur`an, di dalamnya dengan mudah dapat ditemukan ayat-ayat hiwar, mujadalah, kebebasan beragama, toleransi, dan lain-lain. Begitu juga kita bisa memotret interaksi antaragama antara umat Islam dengan non-Islam sebagai ranah aplikasi doktrin Islam yang dibarengi oleh sikap proaktif Rasulullah Saw. dan para kaum Muslim saat itu. Sehingga tidak berlebihan jika Robert N. Bellah mengatakan, bahwa sistem tatanegara ala Nabi Muhammad Saw. merupakan sistem paling demokratis hingga kini yang salah-satunya mencerminkan sikap penghormatan terhadap kebebasan dalam beragama.

Kita bisa lihat, misalnya, bagaimana nuansa keharmonisan antara umat Islam dengan umat Kristiani di Abisinia di bawah kekuasaan Raja Negus paska hijrah pertama mereka ke sana setelah mengalami penyiksaan dari Quraisy. Begitu juga kehidupan mereka di Madinah setelah hijrah, nuansa kebebasan beragama antara pemeluk tiga agama tersebut menghiasi interaksi di antara mereka. Hal ini bisa dilihat dari kebebasan yang sama dari masing-masing umat beragama dalam menganut kepercayaan, untuk menyatakan pendapat, dan bahkan untuk menjalankan propaganda agama.

Inilah fakta sejarah. jika memang benar demikian, setelah kita mengetahui bahwa anjuran dialog antaragama hanya ada dalam Islam dan telah dijalankan oleh umat Islam periode-periode awal, tapi mengapa gaung tersebut lebih bergema di Barat daripada di dunia Islam sendiri? Malah kenyataan sekarang terkesan terbalik, Islam cenderung diidentikkan dengan paras kasar, kaku, galak, intoleran bahkan aksi terorisme. Pasti ada yang tidak beres di sini. Bisa jadi, umat Islam memang demikian serta patut disalahkan, atau bisa jadi, tuduhan tersebut hanya propoganda pihak seberang untuk mendiskreditkan umat Islam di pentas publik internasional.

Keadaan demikian wajar adanya, karena secara logika, pernyataan Islam sebagai agama penebar rahmat bagi seantero alam yang mengajarkan nilai-nilai luhur serta melarang semua aksi anti-humanisme, tentu akan mencetak serta melahirkan tipe manusia yang berbudi pekerti luhur serta menjunjung tinggi nilai-nilai humanisme pula. Tapi, bukankah realitanya sekarang sebagian umat Islam berwajah galak, suka mengusik ketentraman, dan tidak bisa menahan ego serta emosi yang berkecamuk dalam diri mereka yang seakan-akan membenarkan tuduhan pihak lain di atas?

Untuk sementara ini, ada dua asumsi yang paling kuat sebagai jawabannya: pertama, umat Islam telah jauh dari nilai-nilai Islam atau paling tidak mereka tidak bisa memahami ajaran Islam dengan baik serta mendalam, yang pada akhirnya hanya melahirkan penafsiran dangkal yang kerapkali dijadikan legitimasi keabsahan menjadikan komunitas non-Islam sebagai komunitas kedua dan harus tunduk pada “hukum-hukum Islam”; kedua, pernyataan Islam sebagai agama yang menebarkan rahmat hanyalah omong-kosong belaka, karena diakui atau tidak, ajaran Islam selama ini hanya bisa mencetak manusia (dengan skala besar) yang cenderung anti-humanisme daripada menjunjung tinggi nilai-nilai humanisme.

Mari kita urai secara seksama satu persatu dari dua asumsi di atas; pertama, jika kita telisik dari perspektif data yang ada, maka asumsi di atas bisa dibenarkan. Hal ini disebabkan oleh realita kehidupan masa kini, di mana mayoritas umat Islam lebih cenderung melihat segala fenomena yang ada dengan kacamata teologis, sehingga jika ada suatu perkara yang dinilai bertentangan dengan Islam akan segera dibredeli atas nama agama tanpa pertimbangan lainnya. Kenyataan ini, secara langsung membenarkan asumsi pertama di atas, karena meski secara eksplisit mereka “menghakimi” dengan dalih agama, tapi sebenarnya mereka telah melangkah jauh darinya; kedua, asumsi kedua di atas hanya bisa dibenarkan jika memang pernyataan Islam tersebut terbukti bertolak-belakang dengan ajarannya. Karena menilai sesuatu hanya berdasarkan pandangan hitam-putih atas hasil sesuatu tanpa melihat ajaran Islam dengan kepala dingin masih sah-sah saja diragukan kebenarannya.

Terlepas dari itu semua, sudah bukan saatnya lagi kita mengungkit kembali atau mengembar-gemborkan rasa permusuhan antaragama yang rentan menyuburkan benih-benih kekerasan. Cukuplah nilai-nilai Islam yang menjunjung tinggi harmonisasi agama-agama dan pengembangan-pengembangan teori dialog antaragama yang terus dilakukan para ilmuan masa kini sebagai pegangan demi terciptanya masyarakat madani-pluralis. Biarlah kekelaman masa silam berlalu dan hilang begitu saja. Apalah gunanya terus mengingatnya jika hanya akan menumbuhkan kembali rasa kebencian dan tidak bisa menggugah kita untuk menghindarinya serta mencari peluang untuk saling menghormati?

Dewasa ini, ada tawaran solusi positif yang mesti terus-menerus dikembangkan, yaitu sebuah tawaran bombastis untuk mencari titik temu kesamaan agama-agama. Karena selain solusi jitu tersebut memang mempunyai pijakan teologisnya dalam Islam, solusi itu juga dapat meminimalisir membengkaknya ketegangan antaragama yang disebabkan adanya perbedaan ajaran masing-masing.

Adanya persamaan dalam ajaran agama, secara bertahap akan menyadarkan umat beragama, bahwa secara general, tidak ada satupun agama di dunia ini yang mengajarkan tindak kekerasan, betapa tujuan mereka adalah sama, yaitu sama-sama menuju Tuhan dan menghirup udara perdamaian.

Ditambah lagi dengan adanya kenyataan yang tak dapat dipungkiri, bahwa tiga agama semitik, yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam sebagai agama terbesar dunia, ketiganya bersua pada banyak hal karena sama-sama bersumber dari satu sumber, satu Tuhan. Kalau memang demikian, sebagai manusia yang berperadaban dan berpandangan jauh ke depan, sudah semestinya umat Islam lah yang berada pada garis depan sekaligus promotor pertama dialog antaragama demi merealisasikan salah satu doktrin Islam.[]

14 Responses to “Teologi Dialog Antaragama”


  1. 1 Wawan Al-Jufrie October 28, 2008 at 2:45 pm

    gak ada pluralitas agama mas, setiap agama berbeda dan setiap agama mengklaim bahwa agamanya lah yang benar, seperti islam yakin bahwa keselamatan hanya melalui allah, kristen melalui yesus kristus, hindu melalui dewa2nya yang banyak, budha dengan mahaguru budha, yahudi dengan yahweh nya, dll. jelas setiap agama itu beda dan ga ada persamaannya sama sekali

  2. 2 yusahrizal October 29, 2008 at 11:51 am

    Pendapat mas wawan saya akui ada benarnya tapi jg ada yg tidak benar. Kalau ditinjau dr hubungan vertikal, sulit menyatukan wawasan keagamaan baik bagi sesama orang yg percaya tuhan maupun tidak. Tapi kalau dilihat dari sisi horizontal, hubungan dengan alam sekitar (termasuk sesama manusia), saya rasa harmonisasi bisa dibuat seiring sejalan walaupun tak bisa disatukan. Dan hal ini jg bisa berlaku untuk kaum atheis dan agnostik.

    Saya masih percaya hingga saat ini kalau pada dasarnya seluruh agama dan kepercayaan itu baik, walaupun untuk menyatakan siapa yg paling benar, masing2 pihak punya pendapat sendiri2.

  3. 3 Wawan Al-Jufrie October 29, 2008 at 8:22 pm

    ingat mas rizal, tidak ada di dunia ini yang sama, memang ada benarnya semua agama itu sama, sama-sama berlabel agama, sama-sama mempunyai tuhan, sama-sama mengajarkan kebaikan, akan tetapi konsep dan tujuan masing2 agama tidaklah sama walaupun sama-sama menjanjikan syurga akan tetapi syurga ini menurut versi masing2 agama tidak sama, islam tidak mempercayai ketuhanan agama lain, begitu juga agama lain pun tidak percaya ketuhanan islam, coba anda tanya kepada orang islam pasti mereka menyatakan keselamatan itu melalui Allah, kristen sebagaimana para Kardinal dan Paus di Vatikan sendiri menyatakan bahwa satu2nya jalan keselamatan melalui yesus kristus, hindu, budha dan yang lainnya pun beranggapan bahwa keselamatan itu melalui tuhannya masing2 jadi apanya yang sama? sama2 mengajarkan kebaikan memang, ana ambil contoh first class di pesawat, berbeda fist class nya di pesawat Adam Air dengan First Class nya di Singapore Airlines padahal sama2 First Class tapi tidak sama kan, nah agama juga seperti itu, coba kita buka pikiran kita, ana kira ente dulunya sekolah di IPS jadi pikirannya gak logis kalo ana afwan ni ya dulu sekolah di IPA jadi berfikir secara realita bukan mimpi

  4. 4 Wawan Al-Jufrie October 29, 2008 at 8:24 pm

    eh mas rizal, kalo semua agama sama kenapa ente ga masuk kristen aja sekalian? kan kata ente semua agama sama2 baik

  5. 5 Wawan Al-Jufrie October 29, 2008 at 8:27 pm

    yang penting kita fokus saja pada agama kita, karena agama lain ga pernah ada yang mikirin agama kita, ngapain kita repot2 mikirin agama lain, buang waktu dan apa manfaatnya bagi kita, sekali lagi afwan kalo ana kasar ama ente mas rizal

  6. 6 yusahrizal October 30, 2008 at 6:19 am

    Saya gak ngerti bhs arab dan anda jauh lbh pintar ngitung2 ongkos pesawat drpd saya, maafkan saya yg tak pernah naik pesawat singapur.

    Walau KTP saya islam, pemahaman saya cenderung agnostik nih. Kalopun keluar, mungkin saya lbh memilih jd atheis drpd pindah ke agama lain.

    Malah orang disekitar tempat saya tinggal justru gak perduli sama jalan keselamatan, mau sama Allah, Yesus, Buddha atau yg lain. Yang penting hidup enak aja didunia ini, udah itu mati. Tapi hubungan horizontal mereka sangat baik. Mereka gak pernah ribut/musuhan gara2 beda pemahaman ketuhanan (wong mereka gak percaya), dan mereka jg memelihara alam ini jauh lebih baik drpd masyarakat Indonesia yg notabene beragama.

    Tak perlu mikirin agama lain, cukup pikirkan jalan bagaimana bisa hidup rukun didunia walau beda pemahaman. soal tuhan dan akherat, itu urusan pendapat masing2 (wong yg punya tuhan yg sama aja masih gontok2an).

    Coba baca ulang komentar saya mengenai hubungan personal ke tuhan (vertikal) dan hubungan manusia thd sekitar (horizontal). komentar saya yg itu pendek koq dan mudah dimengerti.

  7. 7 Wawan Al-Jufrie October 31, 2008 at 5:57 am

    ana kitra kalo ente orang IPA mas rizal, dan ente fahami al-qur’an dari segi khazahan ilmu IPA, ente bakalan tau

  8. 8 Wawan Al-Jufrie October 31, 2008 at 5:59 am

    ente bakal ngerti kalo al-qur’an itu kebenarannya 100%, aafwan ni bukan berarti ana ngajarin ente

  9. 9 yusahrizal October 31, 2008 at 7:12 am

    Ma’af pelajaran IPA saya memang masih kurang jadinya mungkin soal logika via IPA mas wawan lebih baik dr saya.

    Soal kebenaran Al-Qur’an yang 100 persen, kebetulan sekali saya lahir dikeluarga muslim, besar dan di didik oleh keluarga muslim, jadinya dari kecil udah dikasih pupuk ttg kebenaran Al-Qur’an yg seratus persen itu. Lagian secara “logika IPA” memang sulit sekali dibilang kalau Al Qur’an dibuat oleh manusia biasa, terlepas dr saya muslim atau tidak.

  10. 10 Wawan Al-Jufrie November 2, 2008 at 7:28 am

    secara logika apapun gak memungkinkan, coba bayangkan rahasia kehidupan alam semesta baru terkuak abad2 terakhir itupun dengan alat yang super canggih, tapi dalam al-qur’an tu sudah disebutkan secara mendetail, coba bayangkan kalo al-qur’an itu buatan manusia darimana dia tau hal2 yang demikian? secerdas apapun orang zamannya nabi muhammad SAW tidak mungkin mengetahui hal2 yang demikian kalo bukan petunjuk dari Allah SWT, dan ini membuktikan eksistensi adanya tuhan, jadi kalo menurut ana orang2 atheis dan komunis hanyalah orang2 sombong yang tidak mau menggunakan akalnya

  11. 11 Wawan Al-Jufrie November 2, 2008 at 7:43 am

    tidak mungkin sesuatu terjadi dengan sendirinya pasti ada yang membuatnya, coba kasih ana contoh apa yang ada dengan sendirinya? pasti ada yang membuatnya, dimana akal kita??????? kalo atheis berkeyakinan seperti itu kenapa mereka mesti makan, bekerja, dan beraktifitas? toh segala sesuatu ada dengan sendirinya menurut keyakinan mereka lalu kenapa mereka perlu makanan, bukankah makanan pun ada yang membuatnya tidak terjadi dengan sendirinya, sulit diterima dengan logika apapun, lalu kenapa yang beragama saja masih suka berantem? yang salah bukan agamanya tapi orangnya, ketika ada orang yang ditipi tapi lalai sehingga barangnya hilang apakah kita akan menyalahkan barangnya? kan tidak, demikian juga agama mengajarkan ummatnya kebaikan, tapi ummatnya malah banyak yang musuhan, apakah kita akan menyalahkan agamanya? dimana akal kita? antum pikir bencana yang datang silih berganti akhir2 ini darimana memang? gejala alam? kalau hanya gejala alam lalu kenapa tidak pernah selesai juga, disini lah jawabannya, tuhan itu ada, tuhan marah karena kita melupakannya

  12. 12 shinta alhimjarry November 12, 2008 at 9:19 am

    pluralitas itu sunatullah… islam mengakui adanya perbedaan dalam masyarakat.. berbeda bangsa, agama sesuatu hal yang memang sudah sunatullah..

    pluralisme jelas berbeda dengan pluralitas… pluralitas adalah “isme” atau pemahaman yang mengakui bahwasannya tidak ada agama yang benar karena semua agama mengklaim benar agamanya..

    pandangan islam… innallaha ‘indalllahil islam..

    ide pluralisme sangat bertentangan dengan islam.. agama yang diridhai di sisi allah hanya islam… tapi.. laa ikra fiddin “tidak ada paksaan untuk masuk ke dalam agama islam.. karena sudah jelas mana yang haq dan mana yang bathil…

    kalau manusia yang mau menggunakan aqalnya untuk berfikir secara rasional, metode berfikirnya shahih pasti akan masuk islam…

  13. 13 metal kartun November 23, 2008 at 3:39 pm

    Hallo salam kenal semuanya…
    Yup Tuhan memang ada. Bahkan jika orang2 yg menghalalkan plurasime dan yang mengharamkan pluralisme tidak pernah dilahirkan, Tuhan akan selalu ada. Tapi jgn tegang2 gitu. Pendapat Anda salah, tapi barangkali benar. Pendapat saya benar, tp barangkali salah (say it load…!!!).

  14. 14 yusahrizal November 25, 2008 at 7:59 am

    Salam kenal juga.
    Ma’af. saya tak pernah ingin bertegang-tegang krn itu saya tdk meneruskan debat kusir diatas. Bicara soal Tuhan, apakah itu Islam, Kristen, Yahudi, Budha, Hindu, Kejawen, Shinto, bahkan bagi Agnostik dan Atheis juga, Tuhan selalu ada. Kalau ada pertanyaan kenapa orang Atheis yg tidak percaya Tuhan juga sebenarnya punya Tuhan, silahkan jawab dgn pengetahuan masing2.

    NB. Bicara soal logika, saya kira tidak sepantasnya mengesampingkan orang2 non-IPA. Seakan-akan orang2 yang bergelut dibidang IPS, Ekonomi, Budaya, Sastra, ataupun non-IPA yang lain kurang punya otak atau malas memakai otaknya untuk berlogika. Kebanyakan sahabat Rasulullah malah pedagang (ekonomi) sekaligus Penyair (sastra). Sebaliknya, banyak peraih hadiah nobel bidang IPA (Fisika, Kimia, Matematika, dll) justru menjadi Atheis. Mengapa demikian? kembali silahkan jawab dgn pengetahuan masing2.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 131,050 hits

%d bloggers like this: