Pemanfaatan Ḥadīth Ḍa’īf Untuk Targhīb Dan Tarhīb

Abstract. This article attempts to study some opinions of Muslim scholars and their arguments about applying of weak ḥadīths (ḥadīth ḍa’īf) for stimulus to do any virtues (targhīb) and for prevention to do any evils (tarhīb). It also gives examples of weak ḥadīths applied for both and explains their weakness according to Muslim scholars’ judgments. Based on their opinions and judgments, it encourages Muslim activists to beware in using any kinds of ḥadīths for their religious preaching.

Keywords: Weak ḥadīths (ḥadīth ḍa’īf), stimulus to do any virtues (targhīb), prevention to do any evils (tarhīb), Muslim scholars’ opinions and judgments.

Pendahuluan

Di tengah pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan sekularisasi, ilmu-ilmu keislaman termasuk juga disiplin ilmu hadis mulai dipertanyakan dan direformulasikan. Pada saat ini umat Islam sedang menghadapi tuntutan semacam ini, sehingga tidak heran bila sebagian tokoh agama merasa risau dan lebih giat lagi membimbing umat Islam. Sayangnya kerisauan mereka tidak diiringi dengan penguasaan yang memadai terhadap disiplin ilmu hadis, sehingga tidak jarang mereka menggunakan hadis-hadis ḍa’īf bahkan palsu dalam dakwah mereka. Sebenarnya fenomena semacam ini pernah terjadi pada masa silam. Pada masa itu sebagian orang menciptakan hadis-hadis palsu dan menyebarkannya ke tengah masyarakat agar mereka kembali pada tuntunan Islam, salah satunya seperti yang dilakukan oleh sekte al-Karrāmīyah pengikut Muḥammad ibn Karrām al-Sijistānī. Niat mereka baik, tetapi cara mereka salah. Bagaimanapun juga tindakan semacam ini tidak bisa dibenarkan sebagaimana kaidah al-ghāyah lā tubarrir al-wasīlah.

Secara tidak langsung realitas ini mengindikasikan bahwa bagi mereka al-Quran dan hadis yang ada seakan-akan tidak cukup sebagai bahan seruan untuk mengerjakan kebajikan (targhīb) dan seruan untuk menjauhi perbuatan yang dilarang (tarhīb). Padahal ayat al-Quran dan hadis yang bernada targhīb dan tarhīb cukup banyak, sehingga tidak perlu berpaling dari keduanya. Tindakan mereka hanya menodai kemurnian ajaran Islam yang bisa jadi kalangan awam umat Islam akan semakin menjauh dari Islam karena takhayul dan khurāfah ciptaan mereka yang tidak masuk akal, bahkan jauh dari ruh Islam. Seharusnya mereka memperhatikan terlebih dahulu pendapat para sarjana Islam tentang kriteria-kriteria hadis yang bisa mereka gunakan untuk targhīb dan tarhīb kepada umat Islam, sehingga tidak perlu memalsukan hadis yang jelas dilarang keras oleh Rasulullah Saw.

Definisi Ḥadīth Ḍa’īf dan Faḍā`il al-A’māl

Secara etimologi kata al-ḍa’īf merupakan derivasi dari kata al-ḍu’f dan al-ḍa’f yang merupakan antonim kata al-quwwah dan al-ṣiḥḥah. Al-ḍu’f adalah bahasa Quraysh, sementara al-ḍa’f adalah bahasa Tamim. Dua bahasa ini menunjukkan satu hal dan sama-sama dipakai untuk menunjukkan lemahnya badan dan lemahnya pemikiran.

Sementara itu, secara terminologi ulama berbeda pendapat. Menurut Ibn al-Ṣalāḥ, ḥadīth ḍa’īf adalah hadis yang tidak memenuhi sifat-sifat ḥadīth ṣaḥīḥ dan sifat-sifat ḥadīth ḥasan. Al-Nawawī dan Ibn Kathīr mengikuti definisi ini, tetapi Zayn al-Dīn al-‘Irāqī mempersoalkannya. Menurutnya, penyebutan ḥadīth ṣaḥīḥ dalam definisi tersebut tidak diperlukan, karena sesuatu yang tidak memenuhi sifat-sifat ḥadīth ḥasan, maka sudah pasti ia tidak memenuhi sifat-sifat ḥadīth ṣaḥīḥ. Al-Suyūṭī, al-Bayqūnī, dan Ibn Daqīq al-‘Īd mengikuti pendapat al-‘Irāqī ini. Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī memilih definisi ḥadīth ḍa’īf yang mengatakan bahwa ḥadīth ḍa’īf adalah hadis yang tidak memenuhi syarat-syarat ḥadīth maqbūl. Menurut Nūr al-Dīn ‘Itr definisi terbaik ḥadīth ḍa’īf adalah hadis yang tidak memenuhi salah satu syarat ḥadīth maqbūl.

Perbedaan definisi para pakar hadis di atas menunjukkan bahwa ḥadīth ḍa’īf adalah hadis yang tidak memenuhi salah satu syarat dari lima syarat ḥadīth ṣaḥīḥ dan ḥadīth ḥasan yaitu bersambungnya mata rantai periwayatan (ittiṣāl al-sanad), keadilan para periwayat (‘adālat al-ruwāt), terbebas dari banyak kesalahan dan kelalaian (al-ḍabṭ), terbebas dari penyimpangan (al-syudhūdh), dan terbebas dari cela (al-‘illat).

Sedangkan definisi faḍā`il al-a’māl yang mana targhīb dan tarhīb tidak bisa dipisahkan darinya, menurut Muḥammad ibn Muḥammad Abū Shuhbah, adalah amal-amal mulia yang telah ditetapkan dengan ḥadīth ṣaḥīḥ. Dalam arti bahwa jika ada ḥadīth ḍa’īf menunjukkan pahala tertentu dari amal-amal yang telah ditetapkan, maka ia diterima karena asal mula amal telah ditetapkan dengan cara yang disenangi (istiḥbāb) dengan dalil lain dan tidak ada yang ditetapkan oleh ḥadīth ḍa’īf kecuali hanya pahala dari amal ini. Pada kasus itu, hukum syariah tidak ditetapkan oleh ḥadīth ḍa’īf.

Pendapat Ulama Mengenai Penggunaan Ḥadīth Ḍa’īf

Menurut ‘Abd al-Karīm ibn ‘Abd Allāh al-Khuḍayr, tidak ada sebuah buku yang secara khusus membahas ḥadīth ḍa’īf kecuali risalah ‘Alwī ibn ‘Abbās al-Mālikī al-Ḥasanī (w. 1391) yang berjudul al-Manhal al-Laṭīf fī Aḥkām al-Ḥadīth al-Ḍa’īf yang hanya terdiri dari lima belas lembar dan jawaban Abū al-Ḥasanāt al-Kahnawī (w. 1304) dalam jawaban-jawaban yang dia tulis terhadap sepuluh pertanyaan yang diajukan kepadanya. Pernyataan ini bukan berarti tidak ada data sedikit pun tentang pendapat ulama mengenai penggunaan ḥadīth ḍa’īf dalam buku-buku studi hadis. Hanya saja, data tersebut bercampur dengan pembahasan hadis yang lain.

Dari data buku-buku studi hadis kita dapat menarik kesimpulan bahwa umat Islam berbeda pendapat mengenai penggunaan ḥadīth ḍa’īf. Secara garis besar, perbedaan tersebut terbagi dalam empat pendapat utama sebagai berikut:

1. Ḥadīth ḍa’īf bisa digunakan secara mutlak yaitu dalam halal, haram, fardu, wajib, amal-amal kebajikan (faḍā`il al-a’māl), al-targhīb, dan al-tarhīb dengan dua syarat. Pertama, kelemahan hadis tidak parah, karena bila kelemahannya parah maka semua ulama menolaknya. Kedua, tidak ada hadis lain dalam sebuah persoalan dan tidak ada sesuatu yang menyalahinya. Pihak yang berpendapat demikian berargumentasi bahwa selama ḥadīth ḍa’īf mengandung kebenaran dan tidak ada sesuatu yang kuat dalam periwayatan menyalahinya, maka ia dapat digunakan.
Para sarjana Islam yang berpendapat demikian adalah Abū Ḥanīfah, Mālik ibn Anas, Muḥammad ibn Idrīs al-Shāfi’ī, Aḥmad ibn Ḥanbal, Abū Dāwud Sulaymān ibn al-Ash’ath al-Sijistānī, Kamāl al-Dīn ibn al-Hammām (w. 861), dan Muḥammad al-Ma’īn ibn Muḥammad al-Amīn (w. 1161).

Menurut sebagian pihak, ḥadīth ḍa’īf di sini bukanlah ḥadīth ḍa’īf yang biasa kita kenal, tetapi lebih tepatnya adalah ḥadīth ḥasan. Ini adalah takwil yang masyhur mengenai sikap Aḥmad ibn Ḥanbal dan Abū Dāwud dalam hal ini, tetapi Nūr al-Dīn ‘Itr mempunyai takwil berbeda. Menurutnya, Abū Dāwud menjadikan hadis yang sanadnya tidak bersambung bisa digunakan jika tidak ada ḥadīth ṣaḥīḥ dan sebagaimana diketahui ḥadīth munqaṭi’ termasuk ḥadīth ḍa’īf bukan ḥadīth ḥasan. Begitu juga penakwilan ḥadīth ḍa’īf dengan ḥadīth ḥasan menjadikan pengkhususan para imam itu dalam menggunakan ḥadīth ḥasan dan lebih mengutamakannya dari qiyās tidak bermakna, karena ini adalah madhhab mayoritas ulama.

Kita juga menolak argumentasi lain yang mengukuhkan pendapat bahwa yang dimaksud oleh Aḥmad ibn Ḥanbal dengan ḥadīth ḍa’īf di sini adalah ḥadīth ḥasan karena pembagian hadis menjadi ḥadīth ṣaḥīḥ, ḥadīth ḥasan, dan ḥadīth ḍa’īf belum dikenal sebelum al-Tirmidhī. Kita menolak argumentasi ini karena lafadz “ḥasan” sudah diucapkan oleh beberapa ulama sebelum al-Tirmidhī dari ṭabaqat para gurunya dan ṭabaqat para guru dari para gurunya, seperti ‘Alī al-Madīnī dan al-Bukhārī.

2. Ḥadīth ḍa’īf bisa digunakan untuk faḍā`il al-a’māl, al-targhīb, dan al-tarhīb, tetapi ia tidak bisa digunakan untuk hukum baik halal atau haram. Al-Nawawī (631-676) menisbatkan pendapat ini kepada mayoritas ulama dari golongan ahli hadis dan ahli fikih, bahkan menukil kesepakatan mereka dalam hal ini dalam mukaddimah al-Arba’īn. Begitu pula al-Mullā ‘Alī al-Qārī menukil kesepakatan antara ulama tersebut dalam karyanya al-Mawḍū’āt al-Kubrā.

Para sarjana Islam yang berpendapat demikian adalah Sufyān al-Thawrī, ‘Abd Allāh ibn al-Mubārak, ‘Abd al-Raḥmān ibn Muhdī, Sufyān ibn ‘Uyaynah, Yaḥya ibn Ma’īn, Aḥmad ibn Ḥanbal, Abū Zakariyyā al-‘Anbarī (w. 344), Abū ‘Umar ibn ‘Abd al-Bar, Ibn Qudāmah (w. 620), Abū Zakariyyā al-Nawawī, Ismā’īl ibn Kathīr, Jalāl al-Dīn al-Maḥallī (w. 864), Jalāl al-Dīn al-Suyuṭī, al-Khaṭīb al-Sharbīnī (w. 977), Taqiy al-Dīn al-Futūḥī (w. 980), al-Mullā ‘Alī al-Qārī, Muḥammad ‘Abd al-Ḥay al-Kanawī, dan Nūr al-Dīn ‘Itr.

Pihak yang berpendapat demikian mensyaratkan enam hal dalam menggunakan ḥadīth ḍa’īf untuk faḍā`il al-a’māl. Pertama, kelemahan hadis tidak parah. Maka hadis para pendusta, orang-orang yang tertuduh berdusta, dan orang-orang yang banyak kesalahannya tidak termasuk dalam hal ini. Kedua, ḥadīth ḍa’īf berasal dari pokok syariah yang umum. Maka hadis yang dibuat-buat yang tidak mempunyai pokok syariah tidak termasuk dalam hal ini. Ketiga, tidak meyakini ketetapan hadis ini ketika menggunakannya agar tidak menyandarkannya kepada Nabi, tetapi meyakini untuk berhati-hati. Keempat, tema ḥadīth ḍa’īf adalah faḍā`il al-a’māl. Kelima, tidak menyalahi ḥadīth ṣaḥīḥ. Keenam, tidak meyakini kesunnahan apa yang terdapat dalam ḥadīth ḍa’īf. ‘Alwī ibn ‘Abbās al-Mālikī al-Ḥasanī (w. 1391) menolak syarat yang keenam ini.

3. Ḥadīth ḍa’īf tidak bisa digunakan secara mutlak, baik untuk hukum atau faḍā`il al-a’māl, al-targhīb, dan al-tarhīb. Pihak yang berpendapat demikian berargumentasi bahwa ḥadīth ḍa’īf mengandung ẓan marjūḥ yang mana Allah mencela ẓan dalam lebih dari satu ayat al-Quran dan apa yang terdapat dalam hadis-hadis yang ṣaḥīḥ sudah cukup bagi seorang Muslim daripada ḥadīth ḍa’īf.

Para sarjana Islam yang berpendapat demikian adalah Yaḥya ibn Ma’īn, Muḥammad ibn Ismā’īl al-Bukhārī, Muslim ibn al-Ḥajjāj al-Qushayrī, Abū Zakariyyā al-Naysābūrī (w. 267), Abū Zur’ah al-Rāzī, Abū Ḥātim al-Rāzī, Ibn Abū Ḥātim al-Rāzī, Ibn Ḥibbān, Abū Sulaymān al-Khaṭṭābī, Abū Muḥammad ibn Ḥazm, Al-Qāḍī Abū Bakr ibn al-‘Arabī al-Malīkī, Ibn Taymiyyah, Abū Shāmah al-Maqdisī (w. 665), Jalāl al-Dīn al-Duwānī (w. 918), Muḥammad ibn ‘Alī al-Shawkānī (w. 1250), Ṣadīq Ḥasan Khān (w. 1307), Aḥmad Muḥammad Shākir, Muḥammad Nāṣir al-Dīn al-Albānī, dan Ṣubḥī Ṣāliḥ.

Muḥammad ‘Ajjāj al-Khaṭīb memilih pendapat ini sebagai pendapat yang paling selamat. Menurutnya, hadis-hadis Nabi yang ṣaḥīḥ mengenai faḍā`il al-a’māl, al-targhīb, dan al-tarhīb sangat banyak, sehingga kita tidak perlu meriwayatkan ḥadīth-ḥadīth ḍa’īf untuk persoalan tersebut. Apalagi faḍā`il al-a’māl dan kemuliaan akhlak termasuk tonggak agama. Tidak ada perbedaan antara dua hal tersebut dengan hukum dari segi penetapannya dengan ḥadīth ṣaḥīḥ atau ḥadīth ḥasan, sehingga semua sumbernya wajib dari khabar-khabar yang dapat diterima.

4. Ḥadīth ḍa’īf, yang dalam hal ini adalah ḥadīth mawḍū’, boleh digunakan bahkan boleh memalsukan hadis untuk al-targhīb dan al-tarhīb. Sekte Karrāmīyah pengikut Muḥammad ibn Karrām al-Sijistānī berpendapat demikian. Mereka berdalih dengan hadis:
من كذب علي متعمدا ليضل به الناس فليتبوأ مقعده من النار

Kita menolak pendapat ini karena tambahan kalimat “ليضل به الناس” yang diriwayatkan oleh al-Bazzār dan Abū Nu’aym dari hadis Ibn Mas’ūd adalah ḥadīth gharīb. Tambahan kalimat ini batil menurut kesepakatan para ḥāfiẓ.

Solusi atas Kontradiksi Sikap Aḥmad ibn Ḥanbal

Kalau kita perhatikan pendapat pertama dan kedua di atas, maka kita menemukan sikap Aḥmad ibn Ḥanbal terkesan kontradiktif karena namanya sama-sama tercantum dalam kedua belah pihak sekaligus. Untuk melacak sikap Aḥmad ibn Ḥanbal dalam persoalan ini, maka kita harus mengetahui Aḥmad ibn Ḥanbal menurut kaidah madhhab Hanabilah. Menurut kaidah madhhab Hanabilah, bila dalam satu persoalan terdapat pendapat-pendapat yang bertentangan, maka madhhabAḥmad ibn Ḥanbal bila pendapat-pendapat tersebut memungkinkan untuk digabungkan (al-jam’u), maka digabungkan meskipun dari ‘ām ke khāṣ dan muṭlaq ke muqayyad. Bila penggabungan tidak bisa, sementara beliau mengetahui sejarahnya, maka sejarah inilah madhhabnya. Bila beliau tidak mengetahui sejarahnya, maka madhhabnya adalah yang paling dekat dengan dalil-dalil atau kaidah-kaidahnya.

Berdasarkan kaidah di atas, ‘Abd al-Karīm ibn ‘Abd Allāh al-Khuḍayr berpendapat bahwa dengan kaidah ini pendapat bahwa beliau berpendapat bahwa ḥadīth ḍa’īf bisa digunakan faḍā`il al-a’māl dan hukum, maka ini termasuk kategori muṭlaq dan bahwa beliau perbendapat bahwa ḥadīth ḍa’īf bisa digunakan faḍā`il al-a’māl, al-targhīb dan al-tarhīb, maka ini termasuk kategori muqayyad. Dengan mengalihkan dari muṭlaq ke muqayyad, maka madhhab beliau adalah yang terakhir, yaitu pemisahan antara hadis-hadis hukum dengan hadis-hadis faḍā`il al-a’māl, al-targhīb dan al-tarhīb. Beliau sangat tegas dalam hukum dan agak longgar dalam faḍā`il al-a’māl, al-targhīb dan al-tarhīb sebagaimana tersurat dalam perkataannya yang tidak perlu ditakwilkan lagi.

Setelah melihat argumentasi empat kelompok di atas, maka pendapat yang benar adalah pendapat yang kedua, yaitu pendapat mayoritas ulama yang berpendapat bahwa ḥadīth ḍa’īf bisa digunakan untuk keutamaan-keutamaan amal (faḍā`il al-a’māl), al-targhīb, dan al-tarhīb, tetapi ia tidak bisa digunakan untuk hukum baik halal atau haram. Dalam hal ini penulis sependapat dengan Nūr al-Dīn ‘Itr bahwa bila kita perhatikan syarat-syarat yang diajukan ulama dalam menggunakan ḥadīth ḍa’īf, maka kita mendapatkan bahwa ḥadīth ḍa’īf yang sedang kita bahas ini tidak dihukumi dengan kedustaannya, tetapi juga tidak bisa dipastikan segi kebenarannya tetapi tetap mengandung kemungkinan benar. Kemungkinan benar ini kadangkala menguat dengan tidak adanya yang menyalahinya atau dengan termasuknya ia dalam pokok syariah (aṣl shar’iy) yang dikerjakan yang menjadikan pengerjaannya dianjurkan dan diterima karena untuk menjaga pokok syariah tersebut.

Contoh Ḥadīth-Ḥadīth Ḍa’īf untuk Targhīb dan Tarhīb

Kita bisa menemukan contoh hadis-hadis baik ṣaḥīḥ maupun ḍa’īf untuk targhīb dan al-tarhīb dalam kitab-kitab hadis. Untuk mempermudah pencarian hadis tersebut, maka sebaiknya kita mencarinya langsung ke kitab-kitab hadis yang secara khusus mengumpulkan hadis-hadis yang bernada targhīb dan al-tarhīb. Menurut Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy (1904-1975), kitab-kitab yang mengumpulkan hadis targhīb dan al-tarhīb jumlahnya banyak. Namun yang paling baik adalah al-Targhīb wa al-Tarhīb susunan al-Mundhirī dan Riyāḍ al-Ṣāliḥīn susunan al-Nawawī. Karena tidak mendapatkan dua kitab tersebut, maka penulis mencari contoh hadis-hadis ḍa’īf untuk targhīb dan al-tarhīb dalam kitab-kitab hadis lain sebagai berikut:

1. Ḥadīth-Ḥadīth Ḍa’īf untuk Targhīb

روى ابن ماجه فى سننه حدثنا أبو أحمد المرار بن حمويه ثنا محمد بن المصفى ثنا بقية بن الوليد عن ثور بن يزيد عن خالد بن معدان عن أبي أمامة عن النبى صلى الله عليه وسلم قال: من قام ليلتي العيدين يحتسب لله لم يمت قلبه يوم تموت القلوب

Menurut Nūr al-Dīn ‘Itr, Thawr ibn Yazīd dicap sebagai penganut sekte Qadarīyah, tetapi dalam hadis ini ia meriwayatkan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan inovasinya (bid’ah), maka tidak mengurangi keabsahaan hadis ini untuk dijadikan argumentasi. Muḥammad ibn al-Muṣaffa adalah seorang yang sangat jujur dan banyak meriwayatkan hadis, tetapi periwayatannya banyak yang mungkar. Menurut ‘Abd al-Karīm ibn ‘Abd Allāh al-Khuḍayr, hadis ini adalah ḥadīth ḍa’īf karena dalam mata rantai periwayatannya (sanad) terdapat Baqiyah ibn al-Walīd yang sering melakukan tadlīs dari para periwayat lemah. Dalam hadis ini dia tidak terang-terangan untuk membuktikan apa yang dia dengar. Oleh karena itu, kualitas hadisnya ḍa’īf. Hadis ini memenuhi syarat untuk digunakan untuk faḍā`il al-a’māl karena kelemahannya tidak parah dan mempunyai landasan pokok syariah, karena al-Quran dan sunnah telah menganjurkan qiyām al-layl dan beribadah pada waktu itu. Keumuman anjuran tersebut mencakup malam dua hari raya dan selain malam tersebut.

ان هذا الدين متين فأوغل اليه برفق ولا تبغض الى نفسك عبادة ربك فان المنبت لا سفرا قطع ولا ظهرا أبقى فاعمل عمل امرئ يظن أن لن يموت غدا واحذر حذر امرئ يخشى أن يموت غدا

Menurut Ali Mustafa Yaqub, hadis ini diriwayatkan oleh al-Bayhaqī dalam kitabnya al-Sunan al-Kubrā. Hadis ini marfū’ (bersumber dari Nabi saw.) dan diterima dari sahabat bernama ‘Abd Allāh ibn ‘Amr. Menurut al-Suyuṭī, hadis ini ḍa’īf, demikian pula menurut al-Mināwī dan al-Albānī. Bahkan menurut al-Albānī, kelemahan hadis ini ada dua hal, yaitu periwayat yang bernama Mawlā ‘Umar ibn ‘Abd al-‘Azīz, ia tidak dikenal identitasnya, dan periwayat yang bernama Abū Ṣāliḥ (‘Abd Allāh ibn Ṣāliḥ, sekretaris al-Layth) yang dinilai ḍa’īf.

من حفظ على أمتي أربعين حديثا من أمر دينها بعثه الله تعالى يوم القيامة فى زمرة الفقهاء والعلماء

Menurut Ṣāliḥ ibn Fawzān ibn ‘Abd Allāh al-Fawzān, para ḥāfiẓ sepakat bahwa hadis ini ḍa’īf. Hadis ini diriwayatkan oleh al-Rāmharmuẓī dalam al-Muḥaddith al-Fāṣil, Ibn ‘Adī dalam al-Kāmil, al-Bayhaqī dalam Shu’ab al-Īmān, Abū Nu’aym dalam al-Ḥilyat.

خرج الطبرانى باسناده عن البراء بن عازب رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من قال دبر كل صلاة أستغفر الله وأتوب اليه غفر له وان كان فر من الزحف

Menurut ‘Abd al-Malik ibn ‘Abd Allāh ibn Duhaysh, al-Ṭabrānī meriwayatkan hadis ini dalam al-Mu’jam al-Ṣaghīr. Al-Haythamī berkata dalam al-Majma’ bahwa dalam mata rantai periwayatannya ada ‘Umar ibn Farqad yang lemah.

عن عمربن الخطاب رضي الله عنه عن النبى صلى الله عليه وسلم أنه كان يقول: من صلى فى مسجد جماعة أربعين ليلة لا تفوته الركعة الأولى من صلاة العشاء كتب الله له بها عتقا من النار. رواه ابن ماجه عن اسماعيل بن عياش عن عمارة بن غزية عن أنس ابن مالك عنه.

Menurut ‘Abd al-Malik ibn ‘Abd Allāh ibn Duhaysh, Ibn Mājah meriwayatkan hadis ini dalam karyanya al-Sunan, kitāb al-masājid wa al-jamā’āt, bāb ṣalāt al-‘ishā’ wa al-fajr. Al-Būṣīrī berkata dalam al-Zawā`id bahwa dalam hadis ini terdapat irsāl dan ḍu’f.

2. Ḥadīth-Ḥadīth Ḍa’īf untuk Tarhīb

من ولي من أمر المسلمين شيئا فأمر عليهم أحدا محاباة فعليه لعنة الله لا يقبل الله منه صرفا ولا عدلا حتى يدخله جهنم

Menurut Abū Isḥāq al-Ḥuwaynī, hadis ini ḍa’īf. Hadis ini diriwayatkan oleh al-Ḥākim dari jalur Bakr ibn Khunays. Menurut al-Dāruqutnī, Bakr adalah periwayat matrūk. Aḥmad juga meriwayatkannya dari jalur Baqiyah ibn al-Walīd. Menurut Abū Isḥāq al-Ḥuwaynī, mata rantai hadis riwayat Aḥmad ini ḍa’īf karena guru Baqiyah ibn al-Walīd tidak diketahui.

أربعة يؤذون أهل النار على مابهم من الأذى يسعون بين الحميم والجحيم يدعون بالويل والثبور يقول بعض أهل النار لبعض: ما بال هؤلاء قد أذونا على ما بنا من الأذى؟ قال: فرجل مغلق عليه تابوت من جمر ورجل يجر أمعاءه ورجل يسيل فوه قيحا ودما ورجل يأكل لحمه فيقال للذى يأ كل لحمه: ما بال الأبعد قد أذانا على مابنا من الأذى؟ فيقول: ان الأبعد كان يأ كل لحوم الناس بالغيبة ويمشى بالنميمة

Menurut Abū Isḥāq al-Ḥuwaynī, hadis ini ḍa’īf. Ia diriwayatkan oleh Ibn al-Mubārak dalam al-Zuhd, Ibn Abū al-Dunyā dalam al-Ṣumt dan Dhamm al-Ghaybah, al-Ṭabrānī dalam al-Kabīr, Abū Nu’aym dalam al-Ḥilyah, Ibn al-Athīr dalam Usd al-Ghābah, Baqiy ibn Mukhlid dalam Musnad-nya, dan begitu juga Ibn Shāhīn sebagaimana dalam al-Iṣābah dari jalur Ismā’īl ibn ‘Iyyāsh dari Tha’labah ibn Muslim al-Khath’amī dari dari Ayyūb ibn Bashīr al-Ujlī dari Shufay ibn Māni’ al-Aṣḥbahī. Menurut, al-Ṭabrānī dan Ibn al-Athīr, status sahabat Shufay ibn Māni’ al-Aṣḥbahī masih diperselisihkan. Tampaknya Abū Nu’aym berpegang pada statusnya sebagai seorang sahabat, tetapi al-Bukhārī, Abū Ḥātim, dan Ibn Ḥibbān mempertegas bahwa ia adalah seorang tabi’in. Oleh karena itu, hadis ini ḍa’īf karena Shufay ibn Māni’ al-Aṣḥbahī meriwayatkannya secara mursal.

من تكلم يوم الجمعة والامام يخطب فهو كالحمار يحمل أسفارا والذى يقول له أنصت ليس له جمعة

Menurut Abū Isḥāq al-Ḥuwaynī, hadis ini ḍa’īf. Ia diriwayatkan oleh Aḥmad, al-Bazzār, al-Ṭabrānī dalam al-Kabīr, dan Ibn al-Jawzī dalam al-Wāhiyāt dari jalur ‘Abd Allāh ibn Numayr dari Mujālid dari al-Sha’bī dari Ibn ‘Abbās. Mujālid adalah perawi lemah dan tidak ada perawi lain melakukan mutāba’ah kepadanya dengan lafadz ini.

عن أبى موسى عن النبى صلى الله عليه وسلم: ان فى جهنم واديا يقال له “هبهب” حقا على الله أن يسكنه على جبار فاياك يا بلال أن تكون فيمن يسكنه

Menurut Muḥammad Fāris, hadis ini ḍa’īf. Ia diriwayatkan oleh Abū Ya’lā dan al-Ḥākim. Dalam mata rantai periwayatannya ada perawi bernama Azhar ibn Sinān yang lemah.

Penutup

Pemaparan perselisihan pendapat antara umat Islam mengenai penggunaan ḥadīth ḍa’īf untuk targhīb dan al-tarhīb di atas menunjukkan bahwa meskipun para sarjana Islam yang diakui otoritas keilmuan dan spiritualnya berbeda pendapat mengenai hal itu, tetapi mereka sepakat bahwa tidak boleh memalsukan hadis hanya untuk targhīb dan al-tarhīb sebagaimana sekte al-Karrāmīyah membolehkannya.

Satu poin penting yang perlu digarisbawahi di sini adalah: meskipun sebagian para yuridis dan pakar hadis membolehkan penggunaan ḥadīth ḍa’īf untuk targhīb dan al-tarhīb, tetapi mereka masih memberikan syarat-syarat tertentu terhadap ḥadīth ḍa’īf tersebut yang menurut ‘Abd al-Karīm ibn ‘Abd Allāh al-Khuḍayr sulit untuk diaplikasikan bahkan nyaris tidak terpenuhi dalam satu contoh pun, dan hanya sarjana yang mumpuni saja yang bisa mengaplikasikannya.

Melihat fakta tersebut, maka umat Islam dituntut berhati-hati dalam menggunakan ḥadīth ḍa’īf untuk targhīb dan al-tarhīb, terutama para juru dakwah yang seringkali menyelipkan hadis-hadis dalam ceramah mereka. Bila tidak, maka ceramah tersebut bukan semakin mendekatkan umat Islam pada ajaran Islam, tetapi bukan sesuatu yang mustahil mereka akan semakin jauh dari ajaran Islam, karena sebenarnya Islam tidak pernah menganjurkan atau melarang demikian. Bahkan ajaran Islam sangat mungkin akan ternodai dengan takhayul dan khurafat. []

Daftar Pustaka

Abū ‘Imārah, Muṣṭafa Muḥammad. Al-Taḥqīq wa al-Īḍāḥ li Masā`il min ‘Ulūm al-Isṭilāḥ. Kairo: t.n.p., 2007.

Abū Shuhbah, Muḥammad ibn Muḥammad. Al-Wasīṭ fī ‘Ulūm wa Muṣṭalaḥ al-Ḥadīth. Kairo: Dār al-Fikr al-‘Arabī, t.t.

Al-Dimyāṭī, Abū Muḥammad Sharaf al-Dīn ‘Abd al-Mu`min ibn Sharaf. Al-Muttajir al-Rābiḥ fī Thawāb al-‘Amal al-Ṣāliḥ, ed. ‘Abd al-Malik ibn ‘Abd Allāh ibn Duhaysh. Beirut: Dār Khaḍir, 2002.

Al-Fawzān, Ṣāliḥ ibn Fawzān ibn ‘Abd Allāh. Al-Minḥah al-Rabbānīyah fī Sharḥ al-Arba’īn al-Nawawīyah. Riyad: Dār al-‘Ᾱṣimah, 2008.

Al-Ḥuwaynī al-Atharī, Abū Isḥāq. Al-Nāfilah fī al-Aḥādīth al-Ḍa’īfah wa al-Bāṭilah, vol. 1. t.k: Dār al-Ṣaḥābah li al-Turāth, 1988.

Al-Khaṭīb, Muḥammad ‘Ajjāj. Uṣūl al-Ḥadīth: ‘Ulūmuhu wa Musṭalaḥuhu. Beirut: Dār al-Fikr, 1989.

Al-Khuḍayr, ‘Abd al-Karīm ibn ‘Abd Allāh. Al-Ḥadīth al-Ḍa’īf wa Ḥukm al-Iḥtijāj bihi. Riyad: Dār al-Muslim, 1997.

Al-Ṭaḥḥān, Maḥmūd. Al-Manhaj al-Ḥadīth fī Muṣṭalaḥ al-Ḥadīth. Riyad: Maktabah al-Ma’ārif, 2004.

Ash-Shiddieqy, Teungku Muhammad Hasbi. Sejarah & Pengantar Ilmu Hadits. Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2009.

Al-Yāfi’ī, ‘Abd Allāh ibn As’ad. Al-Targhīb wa al-Tarhīb, ed. Muḥammad Fāris. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1996.

‘Itr, Nūr al-Dīn. Manhaj al-Naqd fī ‘Ulūm al-Ḥadīth. Damaskus: Dār al-Fikr, 1997.

Yaqub, Ali Mustafa. Hadis-Hadis Bermasalah. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2008.

0 Responses to “Pemanfaatan Ḥadīth Ḍa’īf Untuk Targhīb Dan Tarhīb”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 131,050 hits

%d bloggers like this: