Studi Asbāb Nuzūl Surat al-Baqarah Ayat 208 dan Ayat 221

PENDAHULUAN

Fenomena Islam KTP yang kontras dengan Islam kāffah dan fenomena pernikahan beda agama yang akhir-akhir ini mencuat kembali ke permukaan merupakan dua fenomena yang menarik untuk dikaji, baik dari sudut pandang agama maupun sosial. Dalam bahasa agama, Islam KTP lebih identik dengan sifat munafik karena nama agama hanya dijadikan sebatas simbol sosial seseorang an sich. Meskipun begitu, efek negatif sosial-religinya tidak serumit pernikahan beda agama.

Sebagai negara multi kultural- religi dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, hingga sekarang Indonesia belum memiliki perundang-undangan resmi tentang pernikahan ini. Selain itu, perbedaan pendapat di kalangan umat Islam mengenai hukum pernikahan kontroversial ini kian memperkeruh suasana sehingga masih memerlukan pengkajian lebih serius lagi demi mendapatkan solusi terbaik bagi kemaslahatan bersama.

Dalam makalah ini, penulis akan sedikit mengulas dua fenomena tersebut dari sudut pandang agama. Persoalan fenomena Islam KTP akan dikembangkan ke pembahasan pada: apakah yang dimaksud dengan Islam kāffah dalam surat al-Baqarah ayat 208?; apakah menjadi seorang Muslim harus menjalankan semua kewajiban agama, termasuk mendirikan negara Islam atau menegakkan khilafah?; dan bagaimanakah memahami kata “kāffah” dalam konteks kekinian?

Selanjutnya, penulis akan membahas pernikahan beda agama yang terkandung dalam surat al-Baqarah ayat 221 dengan menukil dan menganalisa pendapat para sarjana Islam, baik klasik maupun kontemporer, serta mengukuhkan pendapat yang paling mendekati kebenaran. Persoalan ini masih sangat erat kaitannya dengan dunia tafsir dan fikih. Sebagaimana diketahui, perbedaan pendapat dalam dunia fikih merupakan sesuatu yang lumrah. Lebih dari itu, buku-buku fikih kadang memberikan pemaparan panjang lebar mengenai pemecahan sebuah persoalan, tetapi dalam prakteknya tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi persoalan tersebut masih diperdebatkan seperti pernikahan beda agama ini..

Demi menghasilkan sedikit pemecahan terhadap dua fenomena di atas, maka pembahasan makalah ini tidak akan lepas dari pendekatan sosio-historis saat dua ayat tersebut turun, karena dengan begitu penafsiran dan konklusi yang dihasilkan akan semakin sempurna. Selain itu, pembahasan juga tidak akan lepas dari persoalan-persoalan aktual yang masih berkaitan dengan kandungan dua ayat tersebut, sehingga bisa menjawab sebagian persoalan-persoalan itu serta menempatkannya pada posisinya yang mendekati kebenaran.

PEMBAHASAN

A. Islam KTP vis-a-vis Islam Kāffah

1. Teks Ayat 208 Surat al-Baqarah
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.

2. Sebab Turunnya Ayat

Menurut Wahbah al-Zuḥaylī, ayat 208 ini turun pada ‘Abd Allāh ibn Salām dan para sahabat Yahudinya ketika mereka mengagungkan hari sabtu dan kurang menyukai unta setelah mereka memeluk Islam. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, hari sabtu adalah hari yang kami agungkan, maka biarkanlah kami merayakan hari sabtu, dan Taurat adalah kitab Allah, maka biarkanlah kami mengamalkannya pada malam hari.” Lalu turunlah يأيها الذين أمنوا ادخلوا فى السلم كافة. Inilah yang diriwayatkan oleh Ibn Jarīr dari ‘Ikrimah.

Ibn Jarīr al-Ṭabarī (w. 310 H) meriwayatkan dari ‘Ikrimah bahwa ayat ini turun pada Tha’labah, ‘Abd Allāh ibn Salām, Ibn Yāmīn, Asad dan Usayd putra Ka’ab, Sa’yah ibn ‘Amru, dan Qays ibn Zayd mereka semua dari Yahudi. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, hari sabtu adalah hari yang kami agungkan, maka biarkanlah kami merayakannya, dan sesungguhnya Taurat adalah kitab Allah, maka biarkanlah kami mengamalkannya pada malam hari.” Lalu turunlah يأيها الذين أمنوا ادخلوا فى السلم كافة ولا تتبعوا خطوات الشيطان.

Menurut Ibn Kathīr (w. 774 H), ‘Ikrimah menganggap ia turun pada sejumlah orang Yahudi dan yang lain, seperti ‘Abd Allāh ibn Salām, Tha’labah, Athad ibn ‘Ubayd dan sekelompok orang yang meminta izin kepada Rasulullah saw. agar bisa merayakan hari sabtu dan mengamalkan Taurat pada malam hari. Kemudian Allah memerintahkan mereka mengerjakan syiar-syiar Islam dan menyibukkan diri dengannya tanpa yang lain. Dalam penyebutan ‘Abd Allāh ibn Salām bersama mereka terdapat pertimbangan, karena ia tidak mungkin meminta izin merayakan hari sabtu karena dengan kesempurnaan imannya ia sudah pasti tahu akan penghapusan, pengangkatan, dan kebatilannya serta menggantinya dengan hari-hari raya Islam.

3. Arti Kosa Kata

Para sarjana tafsir berbeda pendapat seputar arti kata “السلم” . Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Jarīr al-Ṭabarī (w. 310 H), menurut Mujāhid, Qatādah, Ibn ‘Abbās, al-Suddī, Ibn Zayd, dan al-Ḍaḥḥāk kata “السلم” berarti “الاسلام”, sementara menurut al-Rubay’ ia berarti “الطاعة”, tetapi takwilnya yang paling utama bagi Ibn Jarīr al-Ṭabarī (w. 310 H) adalah “الاسلام”. Begitu juga menurut al-Qurṭubī (w. 671) , al-Samarqandī (w. 375 H) , dan Wahbah al-Zuḥaylī .

Bila mereka berbeda pendapat tentang arti kata “السلم”, maka mereka sependapat tentang arti kata “كافة”. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Jarīr al-Ṭabarī (w. 310 H), menurut Qatādah, al-Suddī, Mujāhid, al-Rubay’, Ibn ’Abbās, Ibn Zayd, dan al-Ḍaḥḥāk kata “كافة ” berarti “جميعا” . Begitu juga menurut al-Qurṭubī (w. 671) , al-Samarqandī (w. 375 H) , dan al-Suyūṭī (w. 911) . Fakhr al-Dīn al-Rāzī (544-604 H) mengungkapkan arti hampir serupa yaitu “المانعة”. Selanjutnya, ia mengungkapkan bahwa kata “خطوات” merupakan bentuk jamak dari kata “خطوة” , yang menurut Wahbah al-Zuḥaylī berarti “طرق” dan menurut al-Farrā` berarti “أثار”.

4. Kandungan Ayat

Setelah kita mengetahui sebab turunnya ayat dan sebagian arti kosa katanya, maka langkah kita selanjutnya adalah berusaha menafsirkannya dengan mengacu pada dua hal tersebut. Dalam kaitannya dengan asbāb al-nuzūl, menurut Quraysh Shihab, mayoritas ulama mengemukakan kaidah al-‘ibrah bi ‘umūm al-lafẓ lā bi khuṣūṣ al-sabab (patokan dalam memahami ayat adalah redaksinya yang bersifat umum, bukan khusus terhadap [pelaku] kasus yang menjadi sebab turunnya), sedangkan sebagian kecil dari mereka mengemukakan kaidah sebaliknya, al-‘ibrah bi khuṣūṣ al-sabab lā bi ‘umūm al-lafẓ (patokan dalam memahami ayat adalah kasus yang menjadi sebab turunnya, bukan redaksinya yang bersifat umum).

Pernyataan Quraysh Shihab terbukti dengan melihat penafsiran beberapa sarjana tafsir seperti Ibn Jarīr al-Ṭabarī (w. 310 H), al-Qurṭubī (w. 671), Fakhr al-Dīn al-Rāzī (544-604 H), dan Wahbah al-Zuḥaylī yang berpatokan pada kaidah pertama yaitu dengan melihat khiṭāb يأيها الذين أمنوا yang ditujukan pada umat Islam, sementara penafsiran al-Samarqandī (w. 375 H), al-Suyūṭī (w. 911) dalam al-Durr al-Manthūr fī al-Tafsīr al-Ma`thūr, dan Ibn Kathīr (w. 774 H) berpatokan pada kaidah yang kedua yaitu dengan melihat khiṭāb يأيها الذين أمنوا yang ditujukan pada Ahli Kitab.

Berbeda dengan Ibn Jarīr al-Ṭabarī (w. 310 H), Ibn Kathīr (w. 774 H), dan Wahbah al-Zuḥaylī yang menafsirkan “كافة” dengan mengikuti dan mengamalkan semua ajaran Islam, Fakhr al-Dīn al-Rāzī (544-604 H) menawarkan tiga penafsiran lain. Pertama, kata “أمنوا” sebagai isyarat pada pengetahuan dan pembenaran dengan hati dan “ادخلوا فى السلم كافة” sebagai isyarat pada meninggalkan dosa dan maksiat karena maksiat menyalahi Allah dan utusan-Nya, maka meninggalkannya benar dinamakan dengan “السلم” atau maksudnya adalah tunduklah kalian pada Allah dengan mengamalkan ketaatan-ketaatan dan meninggalkan larangan-larangan. Kedua, maksud dari “السلم” adalah seorang hamba rela dan hatinya tidak kacau. Ketiga, maksudnya adalah meninggalkan balas dendam.

Melihat keragaman penafsiran tersebut, agaknya penafsiran yang lebih baik adalah dengan berpatokan pada kaidah al-‘ibrah bi ‘umūm al-lafẓ lā bi khuṣūṣ al-sabab, sehingga ayat ini tetap relevan hingga sekarang, dan tidak hanya berlaku pada beberapa orang Yahudi yang telah memeluk Islam yang menjadi sasaran turunnya ayat ini. Ini bukan berarti mengacuhkan sabab al-nuzūl-nya, karena pada dasarnya umat Islam selain mereka juga dituntut untuk menyempurnakan keislaman mereka serta tidak mengikuti langkah-langkah setan, karena ia merupakan musuh nyata mereka.

Dengan merujuk pada sabab al-nuzūl-nya, kita bisa mengetahui bahwa salah satu langkah setan yang tersirat dalam ayat ini adalah sinkretisme. Oleh karena itu, salah satu cara menjadi seorang muslim yang sempurna adalah tidak terjebak pada sinkretisme seraya mencukupkan diri pada ajaran-ajaran Islam.

Persoalan krusial lain yang masih berkaitan dengan ayat ini adalah persoalan pendirian negara Islam dan kekhilafahan Islam. Dewasa ini, sebagian umat Islam menggunakan ayat ini sebagai landasan argumentasi mereka untuk mendirikan dua model sistem pemerintahan itu. Padahal kalau kita cermati penafsiran para sarjana tafsir yang otoritasnya telah diakui di atas, maka kita tidak menemukan adanya perintah atau kewajiban eksplisit untuk mendirikan negara Islam atau menegakkan kekhilafahan Islam. Bahkan dalam buku-buku tafsir kontemporer seperti Tafsīr al-Qur`ān al-Ḥakīm atau yang dikenal dengan Tafsīr al-Manār karya Muḥammad Rashīd Riḍā (1865-1935 M) dan al-Tafsīr al-Ḥadīth karya Muḥammad ‘Azzah Darwazah (1887-1984 M) pun begitu. Pertanyaannya adalah: apakah mendirikan negara Islam atau menegakkan kekhilafahan Islam merupakan sebuah kewajiban, sehingga bila tidak, maka keislaman atau keimanan seorang Muslim tidak akan sempurna?

Dalam hal ini, kita perlu melihat realitas umat Islam yang terpecah pada tiga golongan. Pertama, sebagian umat Islam menganggap bahwa mendirikan negara Islam atau menegakkan kekhilafahan Islam adalah sebuah kewajiban, sehingga bila tidak, maka keislaman atau keimanan seorang Muslim tidak sempurna karena, menurut mereka, ia telah tunduk pada hukum ṭāghūt. Kedua, sebagian umat Islam menganggap bahwa mendirikan negara Islam atau menegakkan kekhilafahan Islam bukanlah sebuah kewajiban, tetapi yang penting, menurut mereka, nilai-nilai Islam bisa diterapkan meski tidak secara simbolis. Ketiga, sebagian umat Islam menganggap bahwa mendirikan negara Islam atau menegakkan kekhilafahan Islam adalah tidak wajib sama sekali, baik secara simbolis seperti kelompok pertama atau substantif seperti kelompok kedua.

Melihat realitas umat Islam tersebut, maka penilaian kesempurnaan iman dan Islam seorang sangat relatif tergantung sudut pandang yang digunakan. Apalagi setelah melihat fakta kokohnya eksistensi sistem nation-state yang ada sejak runtuhnya kekhilafahan Turki Uthmani hingga sekarang. Penting untuk diketahui, sistem ini adalah sebuah sistem politik kenegaraan yang lebih berdasarkan pada kesamaan bangsa bukan berdasarkan kesamaan agama. Sistem nation-state juga ditandai dengan adanya batas geografis dan teritorial. Inilah yang membedakan dengan sistem kekhilafahan yang tidak mengenal batas-batas geografis dan teritorial. Dengan kata lain, sebenarnya sistem nation-state berdiri secara diametral dengan sistem kekhilafahan.

Setelah mengetahui perkara di atas, maka menilai kesempurnaan iman dan Islam seseorang dengan takaran menerima atau menolak sistem negara Islam dan kekhilafahan Islam berdasarkan ayat 208 surat al-Baqarah ini bukan tindakan yang tepat, karena ini merupakan persoalan ijtihādīyah-khilāfīyah. Apalagi sebab turunnya ayat ini lebih mengacu pada persoalan akidah yaitu menjauhi sinkretisme, sehingga persoalan sistem pemerintahan tidak menggiring umat Islam pada sikap saling mengkafirkan yang dapat memecah-belah mereka. Perpecahan dan permusuhan, menurut Muḥammad Rashīd Riḍā (1865-1935 M), adalah jalan-jalan setan. Oleh karena itu, kita sering menemukannya menyerukan umat Islam untuk bersatu dan menghidari perselisihan ketika ia menafsirkan ayat ini, terutama pada penggalan akhir ayat ini.

5. Kesimpulan Ayat

a. Berdasarkan sabab al-nuzūl-nya, ayat ini melarang sinkretisme seraya memerintahkan mencukupkan diri pada ajaran-ajaran Islam an sich dan mengamalkannya sesempurna mungkin.
b. Sebagaimana kosa kata yang lain yang terdapat dalam ayat ini, kosa kata ”kaffāh” merupakan kosa kata multi-interpretatif yang masih debateable di kalangan sarjana Muslim.
c. Setan merupakan musuh nyata umat Islam. Mengikuti langkah setan bisa mengurangi kadar keimanan dan keislaman seorang Muslim.
d. Keabsahan penggunaan ayat ini sebagai landasan argumentasi pendirian negara Islam dan kekhilafahan Islam masih layak dipertanyakan.
e. Seorang Muslim yang sempurna adalah seorang yang tidak terjebak dalam sinkretisme dan tidak mengikuti langkah-langkah setan.

B. Pernikahan Beda Agama

1. Teks Ayat 221 Surat al-Baqarah
وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آَيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
Artinya: Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.

2. Penyebab Turunnya Ayat

Kalau kita telaah buku-buku tafsir di atas, maka kita akan menemukan dua sebab mengapa ayat ini turun. Pertama, sebagaimana dinukil oleh al-Suyūṭī (w. 911), Ibn Abū Ḥātim dan Ibn al-Mundhir meriwayatkan dari Muqātil ibn Ḥibbān, dia berkata, “Ayat ini turun pada Abū Mirthad al-Ghanawī. Dia meminta izin kepada Nabi saw. untuk menikahi Anaq yang cantik dan musyrik, sementara Abū Mirthad ketika itu Muslim. Lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh ia membuatku takjub.” Kemudian Allah menurunkan: وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ.”

Kedua, sebagaimana dinukil juga oleh al-Suyūṭī (w. 911), al-Wāḥidī dan Ibn ‘Abbās meriwayatkan dari jalur al-Suddī dari Abū Mālik dari Ibn ‘Abbās tentang ayat وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ, dia berkata, “Ia turun pada ‘Abd Allāh ibn Rawāḥah. Dia memiliki seorang budak perempuan hitam. Dia memarahinya dan menamparnya. Kemudian ia panik dan menemui Nabi saw. memberitahunya perihal budak perempuan hitam itu. Kemudian Nabi saw. bertanya kepadanya, “Bagaimana dia wahai ‘Abd Allāh?” Ia menjawab, “Ia berpuasa, salat, berwudu dengan baik, dan bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa engkau adalah utusan-Nya.” Beliau berkata, “Wahai ’Abd Allāh, ia seorang wanita mukmin.” Lalu ‘Abd Allāh berkata, “Demi Zat yang mengutus engkau dengan benar, sungguh aku akan memerdekakannya dan menikahinya.” Lalu ia melakukannya. Sebagian orang Islam pun mencelanya seraya berkata, “Ia menikahi budak perempuan.” Mereka ingin menikah dengan orang-orang musyrik agar mendapatkan nasabnya.” Kemudian Allah menurunkan kepada mereka: يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ.”

Muḥammad Rashīd Riḍā (1865-1935 M) memberikan solusi bagi dua sebab ayat ini turun yang kelihatan kontradiksi. Menurutnya, firman-Nya “وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ” hingga “أَعْجَبَتْكُمْ” sepertinya adalah ayat independen yang turun pada sebuah peristiwa selain peristiwa di mana firman-Nya “وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ” turun, tetapi ini batil. Tak diragukan lagi bahwa ayat ini merupakan satu-kesatuan utuh yang hanya turun satu kali pada saat manusia membutuhkan penjelasan hukum-hukumnya, dan tidak ada penghalang bahwa itu terjadi setelah kejadian yang diriwayatkan mengenai Abū Mirthad dan ‘Abd Allāh ibn Rawāḥah. Dalam pendahuluan Asbāb al-Nuzūl, al-Suyūṭī (w. 911) berkata bahwa sesungguhnya para sahabat menyebutkan bahwa sebuah ayat turun kepada “ini”. Maksud mereka tidak lain adalah tafsirnya atau sesungguhnya maknanya mencakup itu. Jika mereka menyebut beberapa asbāb al-nuzūl, maka maksud mereka kadang-kadang berarti bahwa ia turun setelahnya.

3. Arti Kosa Kata

Menurut Muḥammad ‘Azzah Darwazah (1887-1984 M), “وَلَا تَنْكِحُوا” berarti “لاتزوجوا” dan kata “النكاح” serta derivasinya dalam al-Quran bermakna “الزواج”, bukan bermakna “الجماع”.

Selanjutnya, makna “الْمُشْرِكَات”. Sebagaimana dinukil oleh Ibn Jarīr al-Ṭabarī (w. 310 H), menurut Qatādah kata “الْمُشْرِكَات” adalah para wanita musyrik Arab yang tidak mempunyai kitab, sementara menurut Sa’īd ibn Jubayr mereka adalah para wanita musyrik penyembah berhala. Tetapi takwil yang paling utama menurut Ibn Jarīr al-Ṭabarī (w. 310 H) adalah para wanita musyrik yang bukan Ahli Kitab. Menurut Wahbah al-Zuḥaylī, “الْمُشْرِكَات” adalah para wanita kafir ḥarbī yang bukan Ahli Kitab. Menurut Aḥmad ibn Ḥanbal, sebagaimana dinukil oleh Ibn Kathīr (w. 774 H), mereka adalah wanita-wanita musyrik Arab penyembah berhala.

Makna kosa kata terakhir yang perlu diungkap adalah “أمة”. Menurut Muḥammad Rashīd Riḍā (1865-1935 M), ia bermakna مملوكة”” dan berasal dari kata “أموة”. Menurut al-Qurṭubī (w. 671), nama budak perempuan yang disebutkan dalam ayat ini adalah Khansā`, seorang budak hitam milik Ḥudhayfah ibn al-Yamān.

4. Kandungan Ayat

Ayat ini mengandung persoalan fikih tentang hukum pernikahan beda agama. Dalam ayat ini terdapat larangan bagi laki-laki Muslim untuk menikahi wanita musyrik. Sebagian sarjana Muslim berbeda pendapat mengenai kata “musyrik”; apakah ia sama dengan kata “kafir” atau tidak. Dibandingkan para sarjana tafsir lainnya, Fakhr al-Dīn al-Rāzī (544-604 H) adalah sarjana tafsir yang lebih banyak membahas persoalan ini. Menurutnya, para sarjana Muslim berbeda pendapat tentang kata “musyrik”. Sebagian mengingkari bahwa kata itu tidak mencakup orang-orang kafir dari Ahli Kitab, sementara mayoritas sarjana Muslim berpendapat bahwa kata “musyrik” mencakup orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan inilah pendapat yang terpilih. Ia mendasarkan pendapat ini pada surat al-Tawbah ayat 30-31, surat al-Nisā` ayat 48, surat al-Mā`idah ayat 73, dan sebuah hadis tentang pemungutan upeti (al-jizyah). Pada gilirannya, pendapat ini menggiringnya pada penafsiran bahwa ayat ini dengan tegas melarang menikahi wanita Ahli Kitab.

Sebagai sanggahan terhadap pendapat di atas, kita bisa mengetengahkan pendapat Ibn Taymiyah (661-728) yang bisa mewakili pendapat para sarjana Muslim lainnya. Menurutnya, Ahli Kitab tidak termasuk ke dalam kaum musyrik dengan dalil surat al-Ḥāj ayat 17. Kalau dikatakan bahwa Allah telah menyifati mereka dengan syirik dalam firman-Nya pada surat al-Tawbah ayat 31, maka dikatakan bahwa Ahli Kitab dalam asal-usul agamanya tidak ada syirik karena Allah hanya mengutus para rasul dengan tauhid, maka semua yang beriman kepada para rasul dan kitab-kitab dalam dasar agama mereka tidak ada syirik, tetapi kaum Nasrani membuat-buat kesyirikan. Allah menyifati mereka bahwa mereka berbuat syirik karena mereka membuat-buat kesyirikan yang tidak diperintahkan oleh Allah, dan Allah membedakan mereka dari kaum musyrik karena asal-usul agama mereka adalah mengikuti kitab-kitab yang diturunkan (Allah) yang membawa tauhid bukan syirik. Allah juga tidak menyebut Ahli Kitab sebagai kaum musyrik dengan nama, tetapi “”سبحانه عما يشركون dengan perbuatan, sementara ayat dalam al-Baqarah “المشركون” dan “المشركات”dengan nama, dan nama lebih kuat daripada perbuatan. Wahbah al-Zuḥaylī memberikan keterangan lebih spesifik lagi. Menurutnya, Ahli Kitab adalah ahli Taurat dan Injil, seperti firman-Nya “أن تقولوا انما أنزل الكتاب على طائفتين من قبلنا”.

Selanjutnya, bagaimanakah hukum pernikahan beda agama baik Ahli Kitab atau kaum musyrik berdasarkan ayat ini? Wahbah al-Zuḥaylī menjadikan ayat ini sebagai dasar larangan bagi laki-laki Muslim menikahi wanita musyrik atau penyembah berhala yaitu wanita yang menyembah selain Allah seperti berhala-berhala, bintang-bintang, api, atau hewan. Begitu juga wanita ateis dan materialistis, yaitu wanita yang menjadikan materi sebagai tuhan, mengingkari eksistensi Allah, dan tidak mengakui agama-agama samawi, seperti komunisme, eksistensialisme, Bahā`īyah, Qādiyānīyah, Budha, dan Majusi. Ia juga menjadikan ayat ini sebagai dasar larangan bagi wanita Muslim menikahi laki-laki kafir, laki-laki Ahli Kitab, laki-laki penyembah berhala, dan wanita Majusi. Para sarjana Muslim, menurutnya, sepakat tentang bolehnya seorang laki-laki Muslim menikahi wanita Ahli Kitab dari Yahudi.

Pada tataran praksis, sejarah mencatat ada beberapa sahabat Nabi saw. yang menikah dengan wanita Ahli Kitab, seperti Ṭalḥah ibn ‘Ubayd Allāh yang menikah dengan wanita Yahudi, Ḥudhayfah ibn al-Yamān yang menikah dengan wanita Nasrani. ‘Umar ibn al-Khaṭṭāb mengetahui hal ini dan pernah menganjurkan untuk menceraikannya, tetapi tidak terlaksana.

Dewasa ini, ada segelintir sarjana Muslim kontemporer yang mempunyai pendapat berbeda daripada para sarjana Muslim klasik tentang hukum pernikahan beda agama. Mereka membolehkan pernikahan seorang wanita Muslim dengan laki-laki non-Muslim, baik Ahli Kitab maupun musyrik, dan membolehkan pernikahan orang Islam baik laki-laki maupun wanita dengan orang non-Muslim, baik Ahli Kitab maupun musyrik. Lugasnya, pernikahan lintas agama dan aliran kepercayaan.

Menurut mereka, persoalan pernikahan laki-laki non-Muslim dengan wanita Muslim merupakan wilayah ijtihādī dan terikat dengan konteks tertentu, di antaranya konteks dakwah Islam pada saat itu. Meskipun tidak ada teks suci, baik al-Quran, hadis, atau kitab fikih yang memperbolehkan pernikahan seperti itu, tetapi tidak ada juga larangan yang ṣāriḥ. Hadis Rasulullah saw. yang diriwayatkan Jābir yang berbunyi: “Kami menikahi para wanita Ahli Kitab dan laki-laki Ahli Kitab tidak boleh menikahi para wanita kami (Muslim)” tergolong hadis mawqūf, dan ungkapan ‘Umar ibn al-Khaṭṭāb yang berbunyi: “Seorang Muslim menikahi wanita Nasrani, tetapi laki-laki Nasrani tidak boleh menikahi wanita Muslim” hanya merupakan ungkapan kekhawatiran. Selain itu, mereka juga mempunyai beberapa argumentasi yang merujuk pada semangat al-Quran. Pertama, pernikahan beda agama menjadikan para penganut beda agama bisa saling berkenalan secara lebih dekat. Kedua, pernikahan beda agama dapat dijadikan wahana untuk membangun toleransi dan kesepahaman antara masing-masing pemeluk agama. Ketiga, semangat yang dibawa Islam adalah pembebasan, bukan belenggu. Tahapan-tahapan al-Quran sejak larangan pernikahan dengan kaum musyrik, lalu membuka jalan bagi pernikahan dengan Ahli Kitab merupakan sebuah tahapan pembebasan secara evolutif.

Setelah memaparkan pendapat para sarjana Muslim di atas, kita bisa membandingkannya satu sama lain dan berusaha mencari pendapat yang paling benar, atau paling tidak, mendekati kebenaran. Kalau kita cermati ayat di atas, maka kita akan menemukan ’illat larangan bagi laki-laki dan wanita Muslim menikahi laki-laki dan wanita musyrik karena mereka bisa mengajak pada perbuatan yang dapat menggiring ke neraka. Di sinilah sebenarnya letak persoalannya. Kalangan yang berpendapat haram beralasan bahwa pernikahan semacam itu tidak akan membuat kedua pasangan harmonis, terutama bila sang suami musyrik. Sementara itu, kalangan yang berpendapat boleh beralasan bahwa zaman telah berubah, sehingga ’illat tersebut tidak berlaku lagi sekarang bahkan yang berlaku justeru sebaliknya. Apalagi rentetan turunnya ayat-ayat pernikahan beda agama menunjukan semacam evolusi hukum yang semakin lama semakin terbuka. Oleh karena itu, untuk menentukan hukum pernikahan lintas agama yang tepat dan sesuai dengan tuntutan zaman di antara dua kalangan tersebut, kita mesti kembali lagi pada ’illat larangan ayat itu. Jika ’illat larangan tersebut berlaku atau terjadi, maka hukumnya haram. Tetapi jika ’illat larangan sudah tidak berlaku lagi, maka hukumnya boleh.

5. Kesimpulan Ayat

a. Ayat ini secara sekilas memiliki dua sabab al-nuzūl, tetapi menurut Muḥammad Rashīd Riḍā (1865-1935 M) ayat ini merupakan satu kesatuan utuh yang bisa jadi turun setelah peristiwa Abū Mirthad dan ‘Abd Allāh ibn Rawāḥah.
b. Faktor agama dan keharmonisan merupakan kunci utama pernikahan.
c. Para sarjana Muslim, baik klasik maupun kontemporer, berbeda pendapat tentang hukum pernikahan beda agama. Secara garis besar, mereka terbagi menjadi tiga golongan. Pertama, menolak sama sekali keabsahan pernikahan beda agama, baik laki-laki Muslim dengan wanita Ahli Kitab atau musyrik. Kedua, membolehkan pernikahan antara laki-laki Muslim dengan wanita Ahli Kitab dan menolak keabsahan pernikahan sebaliknya, serta menolak pernikahan laki-laki Muslim dengan wanita musyrik atau wanita Muslim dengan wanita Muslim. Ketiga, membolehkan pernikahan beda agama dan beda aliran kepercayaan.
d. Praktek pernikahan beda agama antara laki-laki Muslim dengan wanita non-Muslim atau Ahli Kitab sudah ada sejak masa sabahat, yaitu antara Ṭalḥah ibn ’Ubayd Allāh dengan wanita Yahudi dan Ḥudhayfah ibn al-Yamān dengan wanita Nasrani.
e. ‘Illat larangan pernikahan beda agama adalah ajakan salah satu pasangan kepada pasangannya untuk melakukan perbuatan yang dapat menggiringnya ke neraka. []

Daftar Pustaka

Al-Farrā`, Abū Zakariyā` Yaḥyā ibn Ziyād. Ma’ānī al-Qur`ān. Kairo: Al-Dār al-Miṣriyah li al-Ta`līf wa al-Tarjamah, 1955.

Al-Samarqandī, Abū al-Layth Naṣr ibn Muḥammad ibn Aḥmad ibn Ibrāhīm. Tafsīr al-Samarqandī al-Musammā Baḥr al-‘Ulūm. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1993.

Al-Suyūṭī, ‘Abd al-Raḥmān ibn Abū Bakr. Al-Durr al-Manthūr fī al-Tafsīr al-Ma`thūr. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1990.

Al-Tamīmī al-Bakrī al-Rāzī al-Shāfi’ī, Fakhr al-Dīn Muḥammad ibn ‘Umar ibn al-Ḥusayn ibn al-Ḥasan ibn ‘Alī. Al-Tafsīr al-Kabīr aw Mafātīḥ al-Ghayb. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1990.

Al-Ṭabarī, Abū Ja’far Muḥammad ibn Jarīr. Tafsīr al-Ṭabarī al-Musammā Jāmi’ al-Bayān fī Ta`wīl al-Qur`ān. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1999.

Al-Qurashī al-Dimashqī, Imād al-Dīn Abū al-Fidā` Ismā’īl ibn Kathīr. Tafsīr al-Qur`ān al-‘Aḍīm. Riyad: Dār ‘Ᾱlam al-Kutub, 1997.

Al-Qurṭubī, Abū ‘Abd Allāḥ Muḥammd ibn Aḥmad al-Anṣārī. Al-Jāmi’ li Aḥkām al-Qur`ān. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1993.

Al-Zuḥaylī, Wahbah. Al-Tafsīr al-Munīr fī al-‘Aqīdah wa al-Sharī’ah wa al-Manhaj. Beirut: Dār al-Fikr al-Mu’āṣir, 1998.

_________. Al-Fiqh al-Islāmī wa Adillatuh. Damaskus, Dār al-Fikr, 1997.

Darwazah, Muḥammad ‘Azzah. Al-Tafsīr al-Ḥadīth. Beirut: Dār al-Gharb al-Islāmī, 2000.

Ibn Taymiyah, Taqī al-Dīn. Al-Tafsīr al-Kabīr. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyah, t.t.

M. Dimyathi. “Tahapan-Tahapan Berdirinya Khilafah: Studi Komparasi Pemikiran Ḥasan al-Bannā dan Taqī al-Dīn al-Nabhānī”, dalam Antologi Kajian Islam Seri 19, ed. M. Ridlwan Nasir, et.al. Surabaya: PPs. Press, 2011.

Riḍā, Muḥammad Rashīd. Tafsīr al-Qur`ān al-Ḥakīm al-Shahīr bi Tafsīr al-Manār. Beirut: Dār al-Fikr, t.t.

Shihab, M. Quraysh. “Membumikan” al-Quran: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan, 1999.

Sirry, Mun’im A. Fikih Lintas Agama: Membangun Masyarakat Inklusif-Pluralis. Jakarta: Yayasan Wakaf PARAMADINA, 2004

0 Responses to “Studi Asbāb Nuzūl Surat al-Baqarah Ayat 208 dan Ayat 221”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 131,050 hits

%d bloggers like this: