Archive Page 2

Islam Perdana

Dalam ranah kajian Islam kontemporer, penguasaan terhadap semua hal tentang Islam Perdana, baik sejarah, politik, ekonomi maupun agama (normatif) sangatlah penting dan mendesak. Penting karena Islam Perdana, baik secara normatif ataupun historis, merupakan acuan utama untuk memahami dengan baik Islam yang kini sudah menjelma dalam aneka-ragam bentuk dan orientasi. Mendesak karena hampir semua kelompok Islam, dengan variasi corak dan orientasinya, mengkleim bahwa pemahaman keislaman mereka merupakan cerminan bahkan copy-paste dari Islam ala Muhammad dan para suksesor setelahnya.

Lantas apakah yang dimaksud dengan Islam Perdana? Sependek pengamatan penulis, istilah Islam Perdana mencakup tiga hal: pertama, Islam Perdana dimulai sejak Muhammad menerima wahyu hingga kewafatannya (610-632 M); kedua, Islam Perdana dimulai sejak Muhammad menerima wahyu hingga akhir kekhilafahan Ali bin Abi Thalib (632-661 M); dan ketiga, Islam Perdana dimulai sejak Muhammad menerima wahyu hingga runtuhnya dinasti Umayyah (610-750 M). Dari tiga opsi tersebut, penulis cenderung pada opsi pertama, karena pada masa inilah Islam secara langsung berada di tangan pembawanya, Muhammad, serta di bawah pengawasan penciptanya, Allah.

Melacak Islam Perdana bukan perkara mudah, selain karena sangat jauhnya bentangan masa antara masa kini dan masa Muhammad, kesulitan utama yang dihadapi para peneliti biasanya juga terletak pada problem sejarah Islam. Setidaknya, problem ini disebabkan oleh dua hal: pertama, sangat minimnya bukti sejarah tertulis dari masa-masa awal Islam yang sampai ke tangan kita; dan kedua, kesalahan penulis sejarah. Continue reading ‘Islam Perdana’

Advertisements

Politi(k)sasi Islam di Indonesia

62691small1Pada pemilu pertama tahun 1955, dengan meraup 20, 29 % suara, Masyumi menjadi partai Islam terkuat melebihi perolehan suara partai-partai Islam lainnya seperti NU, Perti, PSII, dan beberapa partai kecil lainnya dari 172 partai peserta pemilu yang ada. Tapi tak lama setelah itu pada tahun 1960, setelah Presiden Sukarno mengeluarkan Pnps No 7 tahun 1959, Masyumi bubar. Pembubaran Masyumi ini merupakan pukulan telak bagi kekuatan politik Islam di Indonesia kala itu.

Pada pemilu 1971, pemilu pertama setelah orde baru, meski NU dan Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) berhasil menempati posisi lima besar, tapi perolehan suara partai-partai Islam menurun drastis dibanding pemilu 1955. Kejadian, yang salah satunya disebabkan oleh terkonsilidasinya otoritarianisme di bawah kepemimpinan Presiden Sukarno, seperti ini terus berlanjut pada pemilu-pemilu pada masa orde baru selanjutnya yang kian melumpuhkan kekuatan politik Islam di tanah air.

Setelah runtuhnya rezim orde baru, tepatnya pada pemilu 1999, partai-partai berbasis Islam bisa meraih simpati masyarakat kembali dengan perolehan 37, 54 % suara. Keaadan seperti ini terulang kembali pada pemilu 2004 dengan kian melonjaknya perolehan suara tujuh partai Islam, yaitu perolehan 38, 33 % suara dari. Tapi bila dibanding pemilu 1955, perolehan suara partai-partai Islam pada pemilu 1999 dan 2004 menurun. Dengan kata lain, telah terjadi perubahan kekuatan partai-partai nasionalis dan Islam dalam pergolakan perpolitikan Indonesia .

Continue reading ‘Politi(k)sasi Islam di Indonesia’

Masa

Titah

Nabi larang menghina masa
lalu tinggalkan seungguk asa
melelehkan tangisanku mengiringi
lika-liku hidup yang kian tak
jelas mereka hanya bisa berkata:
“Kamu harus begini dan begitu!”

Damprat

Di hadapanku, mereka mencibir
orangtua yang tak pernah berpikir
Aku hanya diam, berpikir
orangtua itu tak mengerti
hanya mau dimengerti
aku pun menguatkan hati
mengapa mereka berkata begitu
mengapa orangtua itu mendampratku
aral hidupku

Cairo, 12 Februari 2009

Seperti Mereka

Kembali, oh kembali
ingin kukecapi
tapi apa daya
aku hanya manusia
tapi kenapa begini
tak bisa kuulangi

Cairo, 13 Februari 2009

Teologi Dialog Antaragama

Pluralitas dalam segala hal adalah sunnatullah yang tidak akan punah hingga akhir masa. Begitu juga kenyataan perbedaan agama, ia merupakan hak asasi manusia yang paling fundamental sehingga tak boleh diusik apalagi dilangkahi. Karena, hanya dengan menghormati segenap perbedaan, kedamaian sebagai cita-cita mereka bersama bisa terwujud. Tapi permasalahannya adalah, benarkah mereka bisa menghormati kebebasan beragama dalam arti sebenarnya, atau selama ini sikap tersebut hanya sebatas pada tataran teoritis saja? Pertanyaan ini kiranya cukup menggugah sikap keberagamaan kita selama ini, dan tentunya menuntut adanya realisasi aktif dari masing-masing kalangan.

Bertolak dari sudut pandang Islam, kita bisa sedikit menoleh kembali kebelakang yaitu ke catatan sejarah awal Islam pada zaman Nabi Muhammad Saw., karena bagaimana pun juga dari sanalah kita bisa menemukan contoh-contoh elementer pola interaksi beliau dengan pemeluk agama lain. Setidaknya, hal ini bisa kita lacak langsung dalam Alqur`an, Sunnah ataupun dalam beberapa manuskrip tentang periode-periode awal Islam yang nantinya bisa dijadikan sebagai pijakan dasar metode standar interaksi antaragama yang sreg dengan konteks kekinian.

Karena sebenarnya kalau mau jujur diakui, gaung dialog antaragama yang berderu kencang di Barat akhir-akhir ini ternyata akar sejarahnya hanya terdapat dalam Islam an sich, mungkin di sinilah letak sisi toleransi –dalam pengertian sebenarnya– Islam bisa digali dan dikembangkan. Adapun dalam tradisi Barat, terutama dalam kitab suci mereka, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, tak sepeserpun konsep dialog antaragama termaktub di dalamnya. Continue reading ‘Teologi Dialog Antaragama’

Dialog Peradaban; Dari Wacana Menuju Realita

Meski runtuhnya gedung WTC (World Trade Centre) di Manhattan pada tanggal 11 September 2001 sudah berselang beberapa waktu, namun pelbagai efeknya hingga kini masih terasa. Tragedi yang menelan banyak korban ini, menguatkan teori benturan peradaban yang diusung oleh dua tesis kesohor, yaitu The Clash of Civilizations and The Remaking of The World Order karya Samuel P. Huntington, dan The End of History and The Last Man karya Francis Fukuyama, di mana keduanya masih pasang surut.

Secara garis besar, kedua penulis tesis tersebut sama-sama menekankan kedigdayaan peradaban Barat di atas peradaban lain. Hanya saja, Samuel P. Huntington selain menekankan hal tersebut, dia juga optimis akan kemenangan mutlak peradaban Barat dalam perang kebudayaan. Sedang Francis Fukuyama menegaskan, bahwa kapitalisme –identitas primer peradaban Barat modern– akan mengalahkan ideologi lain, seperti Marxisme sebagai rival utamanya. Dia juga optimis, bahwa pada akhirnya, kapitalisme –dengan pasar dan perdagangan bebas sebagai propagandanya– akan menjelma menjadi agama manusia selamanya.

Sayyid Yasin, seorang sosiolog Mesir, menyuguhkan buah karyanya Hiwâr al-Hadhârât; al-Gharb al-Kawnî wa al-Syarq al-Mutafarrid. Buku ini merupakan respon terhadap perkembangan wacana dialog peradaban yang memeras keringat para filsuf, sejarahwan, dan sosiolog sejak tahun 90-an, yang merupakan respon positif guna mencari solusi menanggulangi problem antarperadaban. Di dalam buku ini, penulis berusaha menarik dialog peradaban dari sekedar wacana menjadi tindakan riil, berupa universalitas politik dan budaya.

Buku tersebut dibagi ke dalam dua sub-tema. Pertama, peradaban; antara dialog dan benturan, yang mencakup tiga hal, yaitu menelisik akar dialog antarperadaban, problem Barat sentris dan orisinalitas budaya, serta situasi pasca-tragedi 11 September 2001. Kedua, dialog Palestina-Israel sebagai sampel ideal dialog peradaban, di mana keduanya berada pada dua pilihan; damai atau perang.

Continue reading ‘Dialog Peradaban; Dari Wacana Menuju Realita’

Pencarianku!

Dalam kesempatan ini, saya ingin curhat atau katakanlah berbagi pengalaman kepada Anda tentang pencarian jati diri saya dalam rentang waktu beberapa tahun belakangan ini, terutama yang berkenaan dengan pencarian format ideal beragama yang klop dengan diri seseorang. Barangkali, ada kesamaan pengalaman yang pernah Anda alami atau juga hal ini bisa dijadikan sebagai kaca perbandingan bagi Anda atau yang lainnya.

Sejak kecil, saya dibesarkan dalam lingkungan dan keluarga yang cukup fanatik pada tradisi-tradisi keagamaan NU (Nahdlatul Ulama). Tak heran bila hingga sekarang –meskipun aneka ragam ideologi pernah saya rasakan– beberapa tradisi tersebut masih melekat kuat pada diri saya. Lingkungan seperti inilah yang cukup banyak mewarnai pola pikir dan tindak-tanduk saya.

NU merupakan ormas terbesar di Madura, bahkan ada sebuah banyolan yang cukup terkenal mengenai kerekatan NU dan umat Islam di Madura. Yaitu, bila kita bertanya kepada mereka apakah gerangan agama mereka? Karena kuatnya dominasi tradisi NU pada sebagian besar masyarakat Madura, dengan penuh keluguan mereka akan menjawab: “NU!”.

Tentunya, banyolan tersebut tidak sepenuhnya salah atau sepenuhnya benar. Tetapi, seperti yang telah kita ketahui, ia mengisyaratkan bahwa mayoritas penduduk Madura memegang teguh tradisi NU bahkan cukup fanatik. Dan hal ini juga terjadi di lingkungan di mana saya dilahirkan dan tumbuh dewasa, malah hingga di Pondok Al-Amien di mana saya menuntut ilmu selama 6 tahun tradisi-tradisi tersebut cukup dominan.

Sebelum menginjakkan kaki di Al-Amien, bapak sering mengajak saya sowan ke kiyai-kiyai salaf di Madura yang selain cukup disegani penduduk Madura mereka juga terkenal dengan ilmu mukasyafah, bahkan di antara mereka ada juga yang berambut gondrong. Dari sowan ke kiyai satu ke kiyai lainnya, saya mendapatkan pelajaran “aneh” yang tak bisa di dapatkan di bangku sekolah. Tradisi sowan ini terus berlanjut hingga saya tamat di Al-Amien bahkan tetap saya lakukan hingga sekarang. Continue reading ‘Pencarianku!’

Neo-Dzahiriyah

Akhir-akhir ini kita sering mendengar, membaca, dan berdiskusi tentang Neo-Khawarij, yaitu sebuah sekte Islam yang merupakan wajah baru dari Khawarij yang muncul pada masa-masa awal Islam. Menurut Musthafa as-Syak’ah di dalam bukunya “Islâm bilâ Madzâhib”, sekte ini pertama kali dipimpin oleh Abdullah bin Wahb ar-Rasibi dan pertama kali dikenal dengan nama “al-Muhakkimah al-Ula”.

Sekte ini sering diidentikkan dengan pengkafiran terhadap pihak yang berbeda pendapat dengan mereka. Sebagaimana Khawarij identik dengan penghalalan darah pihak yang berbeda pendapat dari kalangan umat Islam sendiri, Neo-Khawarij yang ada sekarang juga diidentikkan dengan pembolehan menggunakan kekerasan atas nama agama terhadap pihak yang berbeda pandangan dan pengamalan atas sejumlah doktrin Islam.

Yang tak kalah pentingnya dari sekte ini adalah apa yang kita sebut dengan Neo-Dzahiriyah (ad-dzahiriyah al-judud) yang mempunyai kesamaan dengan Khawarij dalam beberapa hal. Madzhab ini merupakan wajah baru dari madzhab Dzahiriyah yang digagas oleh Dawud bin Ali al-Asfihani (202-270 H) yang selain dikenal hanya cukup memahami dan menafsirkan teks-teks partikular agama berdasarkan dzahirnya saja, mereka juga diidentikkan dengan pola pikir yang saklek.

Lebih dari itu, mereka mengingkari adanya hikmah dan tujuan (maqashid) di balik teks; menolak istihsan, sadz ad-Dzara`i’, al-Mashalih al-Mursalah; mereka juga menolak keabsahan pengunaan qiyas yang benar dalam menentukan suatu hukum karena ia akan membuka ruang ijtihad (Rasyad Hasan Khalil, Târîkh at-Tasyrî’ al-Islâmî: Adwâr Tathawwurihi, Mashâdiruhu, Madzâhibuhu al-Fiqhiyah, 2002). Intinya, mereka mendewakan makna literal teks dan menolak semua metode penalaran manusia terhadapnya berikut hasilnya. Continue reading ‘Neo-Dzahiriyah’


Blog Stats

  • 133,551 hits